logo-responsive

MENG-UBAH POLA PIKIR APARATUR SIPIL NEGARA ( ASN )

 

 

Oleh : Surya Subur* ( Widyaiswara BDK Banjarmasin )

Editor: bangyoes

Abstrak

Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai aparatur negara bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional, jujur, dan adil merata dalam penyelenggaraan negara, pemerintahan, dan pembangunan. Dalam menjalankan tugasnya ASN harus bersikap netral dari pengaruh semua golongan dan partai politik serta tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Di samping itu, ASN dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat harus mampu menempatkan diri sebagai pelayanan, pengayom, pembina, pembimbing dan sekaligus  pemimpin dalam lembaga atau masyarakat itu sendiri. Untuk mencapai itu semua, ASN dituntut kemampuannya untuk melakukan perubahan pola pikir saat berada pada posisi-posisi di atas.

 Kata Kunci :  Pola Pikir

 

I. PENDAHULUAN

          PNS berasal dari latar belakang budaya dan pendidikan  yang berbeda misalnya dari pegawai swasta, dunia Sekolah Menengah Umum atau Sekolah Menengah Pertama atau bahkan Tingkat Sekolah Dasar, TKI yang sudah bekerja di luar negeri dan lain sebagainya, lulusan strata 1 bahkan ada yang lulusan stara 2, dan seterusnya. Hal ini membawa konsekuensi logis terhadap pola dasar pepikiran mereka yang juga bervariasi. Untuk mendukung agar mampu melaksanakan tugas di unit kerjanya diperlukan perubahan pola pikir dirinya, agar mampu mengemban peran ASN yang berbasis pelayanan kepada masyarakat.

          Latar belakang budaya dan pendidikan memang berpengaruh terhadap integritas organisasional dalam suatu lembaga pelayanan publik. Paling tidak akan memunculkan ego budaya dan ego pribadi atau bahkan pesimistis yang dirasa oleh masing-masing individu dalam  lembaga itu sendiri. Akan tetapi dalam sebuah ranah kebangsaan dan kesamaan tujuan serta idiologis dan filosofis bahwa manusia itu adalah makhluk sosial maka tidaklah sulit untuk menyamakan persepsi dan tujuan dari lembaga pelayanan masyarakat ini.

          Makna perubahan pola pikir ini menjadi penting karena tidak saja berpengaruh terhadap perilaku dari pribadi ASN itu sendiri melainkan akan berdampak kepada sikap mental terhadap pelaksanaan tugas dan fungsinya sebagai pelayan masyarakat.

          Namun dalam melakukan perubahan pola pikir ( mindset ) ini ASN tidaklah semudah membalik telapak tangan , sebab pengaruh mindset yang dibawa sebelum menjadi ASN dengan latar belakang budaya, pendidikan, lingkungan sosial, melekat erat dalam kepribadian ASN itu sendiri. Karenanya diperlukan sebuah tatanan perilaku yang mendasari tindakan selama berada dalam sebuah lembaga pelayanan. Untuk itu diperlukan kebijakan kebijakan pimpinan lembaga dalam meletakan dasar atau tatanan perilaku tersebut.

II. PERMASALAHAN

       Mengingat dinamika pelayanan yang sedemikian kompleks dan membutuhkan sikap mental yang prima sehingga membuat orang yang dilayani merasa terpuaskan. Maka tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan pola pikir ASN menjadi sangat penting dan krusial. Permasalahan yang muncul adalah :

  • benarkah perubahan pola pikir menjadi sangat penitng ?.
  • Dalam hal apa perubahan itu menjadi penting ?

Inilah yang menjadi pokok permasalahan yang akan dikupas dalam tulisan ini.

 

III. PEMBAHASAN

  • Pentingnya Perubahan Pola Piikir

          Dari uraian pendahuluan di atas penulis memahami bahwa perubahan pola pikir menjadi sangat penting, tidak mudah namun tidak begitu sulit jika individu tersebut mau dan mampu berkerja sama dengan kelompoknya melalui arah dan tujuan serta tugas pokoknya masing-masing. Artinya secara naluriah telah terbukti bahwa manusia umumnya ingin berkelompok dengan tatanan sikap yang telah ditetapkan dan pada umumnya manusia tidak suka menyendiri ( Siagian, SP, 1987, hal.38 ).

          Dilihat dari segi teori Ilmu Administrasi, Manajemen dan Organisasi, kecenderungan untuk mewujudkan sifat naluri yang sosial itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa manusia yang hidup pada abad modern sekarang ini tidak lagi memiliki kemampuan untuk memenuhi berbagai jenis kebutuhannya yang semakin kompleks dan beraneka ragam tanpa menggunakan jalur kebersamaan, hal ini mau tidak mau manusia itu harus mengikuti perubahan, dengan kata lain mengeliminasi “ego” yang ada pada dirinya dan mengikuti tatanan kehidupan yang ada disekitarnya.

          Dengan adanya perubahan pola pikir diharapkan ASN mampu mengembangkan pola pikir yang positif dalam arti mampu menempatkan diri dalam situasi dan kondisi serta tugasnya sebagai abdi negara dan abdi pemerintah dalam makna kebersamaan  dan meminimalisir pola pikir dirinya yang negatif yang berasal dari budaya kerja dimana ia berasal dan starata pendidikan yang ia capai. Ini berarti akan mensukseskan tugas dan peranan sebagai pelayan masyarakat.

              Bahaudin Taufik ( 2003 ) merilis beberapa faktor yang dapat menghambat perubahan pola pikir  menjadi sulit, diantaranya adalah :

  1. Faktor Internal: faktor yang terdapat dalam diri seseorang. Beberapa faktor internal yang menghambat perubahan pola pikir tersebut diantaranya adalah:
  1. Blok persepsi, Persepsi bisa menjadi penghambat dalam perubahan pola pikir, itu disebabkan karena adanya “human memory sistem”. Adanya human memory system membuat kita mengharapkan mengartikan sesuatu seperti yang ada dalam memori kita, adanya kecenderungan kita memberikan arti kepada suatu peristiwa, kurang teliti akan informasi karena informasi yang tidak akurat, terjebak dalam suatu masalah, sulit melihat secara lebih sederhana dan objektif. Di samping itu adanya kecenderungan tidak dapat melihat masalah dari berbagai aspek, sehingga hanya mau melihat dari apa yang akan dilihat saja sehingga menimbulkan presangka.
  2. Blok ego. Beberapa blok yang menghambat perubahan pola pikir dari blok ego diantaranya adalah : selalu menyalahkan orang lain (melihat diri sendiri paling sempurna), tidak dapat melihat kelemahan sendiri, membangun kepercayaan diri dengan merendahkan orang lain, mengabaikan tanggung jawab untuk memperbaiki diri, memaksa orang lain mengikuti kemauannya, selalu berorientasi pada apa yang saya peroleh, bukan pada apa yang saya berikan.
  3. Blok intelektual. Beberapa blok intelektual yang mengganggu perubahan pola pikir diantaranya adalah: berpikir hanya mengandalkan logika, berpegang pada pendapatnya sendiri, dalam pengambilan keputusan hanya didasarkan pada logika.
  4. Blok emosi. Emosi berasal dari bahasa Yunani ’movere’ yang artinya bergerak. Jadi emosi selalu bergerak sesuai dengan stimulusnya. Beberapa blok emosi yang menghambat perubahan pola pikir diantaranya adalah: takut membuat kesalahan, tidak bisa membedakan antara realita dan fantasi, tidak dapat hidup sekarang, amarah, bersedih, dan kuatir yang berlebihan, tidak mampu keluar, memandang secara objektif dan belajar dari pengalaman, terlambat dalam pertumbuhan emosi, tidak menyadari bahwa kita selalu punya pilihan dalam menentukan reaksi atas suatu peristiwa, emosi yang tidak terkendali, kurangnya kebesaran hati, empati dan penghargaan dalam diri sendiri.
  1. Faktor Eksternal, yang termasuk faktor eksternal diantaranya adalah :
  1. Faktor lingkungan. Yang termasuk katagori ini diantaranya adalah kurang kerjasama, pimpinan yang otokrat, lingkungan tidak memberikan kesempatan, sulit menerima perbedaan, kurang menerima dan memberikan penghargaan, selalu menyalahkan lingkungan, kurang terbangunnya kepercayaan.
  2. Faktor teman sejawat yang kurang mendukung. Siapa teman anda sangat berpengaruh terhadap pola pikir anda. Bila kita berteman dengan orang yang motivasinya tinggi akan ikut termotivasi, sebaliknya jika berteman dengan teman yang tidak bersemangat, selalu berpikiran negatif, kitapun akan terpengaruh.
  3. Faktor anak buah. Siapakah anak buah anda ? Apakah mereka mampu bekerja dan mau bekerja ? Ataukah tidak mampu bekerja tetapi mampu ? Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap pola pikir diri kita.
  4. Iklim kerja yang kurang mendukung dan lain sebagainya.

 

  • Bentuk dan Perubahan Pola Pikir ASN

            Hal-hal yang berkaitan dengan arah perubahan pola pikir PNS diantaranya adalah :

  1. Prinsip bekerja “mencari uang, jabatan, pangkat dan kedudukan” diubah memiliki prinsip “bekerja karena ibadah”. Dengan berprinsip ini kita akan mendapatkan segalanya. Rezeki tidak akan pernah tertukar karena sang pencipta telah menentukan takdir setiap hambanya.
  2. Berpikir linier ke berpikir sistem

        Berpikir banyak mencakup aktivitas mental. Misalnya, berpikir saat akan memutuskan mengerjakan pekerjaan tertentu, berpikir tentang membeli barang tertentu, berpikir tentang karyawan mana yang akan dipromosikan, dan sebagainya. Para ahli mendefinisikan tentang berpikir antara lain: “Suatu kegiatan kegiatan mental yang melibatkan kerja otak dan melibatkan seluruh pribadi manusia dan juga melibatkan perasaan dan kehendak ( Alek Sobur, Psikologi Umum ). Plato berpendapat bahwa berpikir adalah berbicara dalam hati. Lalu apakah berpikir serba sistem itu ?  Terminologi berpikir serba sistem muncul dipenghujung abad ke 19 dan awal abad 20, sekitar tahun 1930, perspektif holistic diketahui dengan sebutan sistemik dan caranya berpikir mengimplikasikan sebagai berpikir serta sistem atau system thinking.

         Berikut ini disajikan beberapa pengertian tentang berpikir serba sistem atau berpikir sistemik, sebagai berikut :

  1. Cara berpikir ( ilmu ) yang memperhatikan kerumitan dinamik ( dynamic complexity ) di dalam kehidupan ini, termasuk manajemen.
  2. Kesadaran untuk mengapresiasi dan memikirkan suatu kejadian sebagai suatu sistem ( systemic approach )
  3. Cara penalaran mengenai keterkaitan dan perubahan yang memberi sifat khusus sistem. Oleh karena itu dalam memberikan penalaran ini menggunakan kaidah-kaidah berpikir secara sistem, di mana sangat memperhatikan input, proses, produk, output dan out comes.
  4. Berpikir serba sistem merupakan landasan-konseptual bagi pembangunan organisasi pembelajaran, dan berpengaruh terhadap disiplin-disiplin organisasi pembelajaran lainnya. Semuanya berhubungan dengan pergeseran pikiran (shift of mind = metonoia), dari melihat bagian-bagian menjadi melihat keseluruhan, dari melihat orang sebagai orang reaktif yang tak becus menjadi melihatnya sebagai manusia yang aktif berpartisipasi dalam membangun realitanya, dari senang bereaksi saat itu menjadi menciptakan masa depan ( Peter M. Senge ). Bagi seorang pemimpin yang efektif dituntut mampu berpikir serba sistem bukan hanya berpikir serba linier. Mengapa demikian ?

” Dalam berpikir linier hanya memperhatikan faktor-faktor indenpenden, kansalitas searah, serta memperhatikan hubungan sebab akibat, di mana semua faktor tersebut sama pentingnya”.

         Berikut ini akan dikutipkan beberapa kaidah berpikir serba sistem yang dirangkum dari beberapa sumber adalah sebagai berikut :

  1. Permasalahan hari ini berasal dari “solusi” kemarin, oleh karena itu di dalam mengambil keputusan perlu berhati-hati dan melihat dari berbagai sudut pandang;
  2. Semakin keras anda mendorong, semakin keras pula sistem itu mendorong balik;
  3. Perilaku berkembang lebih baik, sebelum memburuk, usahakan agar selalu mengembangkan prilaku yang positif semaksimal mungkin;
  4. Pemecahan masalah yang mudah umumnya mendatangkan permasalahan baru;
  5. Menggiring kembali ke masalah tersebut;
  6. Upaya penyembuhan dapat lebih buruk dari penyakitnya sendiri;
  7. Sesuatu yang lebih cepat biasanya akan lebih lambat, oleh karena itu hati-hati dalam bertindak;
  8. Sebab dan akibat tidak begitu erat terkait dengan ruang dan waktu;
  9. Perubahan yang kecil dapat menghasilkan hasil yang besar, namun wilayah dengan kemampuan daya ungkit terbesar itu biasanya tersembunyi;
  10. Anda akan memiliki kue anda, dan juga memakannya, tetapi jangan sekaligus
  11. Membelah seekor gajah tidak akan menghasilkan dua ekor gajah kecil, prinsip ini perlu diperhatikan dengan seksama;
  12. Jangan salah menyalahkan/jangan menghujat ( Peter Senge ).
  • Pergeseran paradigma berpikir dari berpikir bagian ke berpikir meneyeluruh

          Sesuai dengan pandangan sistem, kekayaan utama dari sistem kehidupan dari sebuah organisme atau yang lainnya adalah kekayaan menyeluruh, dan bukan bagian-bagian yang dipunyai dari organisme tersebut. Mereka tumbuh dari interaksi dan hubungan antar bagian. Kekayaan tersebut akan hancur apabila sistem tersebut diurai baik secara fisik maupun teori, ke dalam elemen terpisah. Walaupun kita mampu mengurainya ke dalam bagian-bagian individu pada sistem apapun, bagian-bagian tersebut tidak terpisahkan, dan sejatinya “menyeluruh” memberikan makna berbeda dari hanya sekedar menjumlahkan bagian-bagian sistem. Sebagai contoh terlihat dalam tabel berikut ini :

Kecenderungan Perilaku/Kejadian

Kecendrungan Berpikir Bagian

Kecendrungan  Berpikir Menyeluruh

Pegawai banyak yang membolos

Pemalas

Mengapa pegawai membolos/motivasi pegawai rendah, gaji kurang sehingga tidak ada transpot, pimpinan tidak adil (pilih kasih) dan lain sebagainya

Komputer mati

Petugas bodoh

Perawatannya kurang, petugasnya kurang mampu, program rusak

Rajin bekerja

Pimpinan selalu menyuruh sehingga semua pekerjaan diserahkan pada dirinya

Pimpinan puas dengan pekerjaan kita, sfisien dan efektif sehingga kinerja organisasi akan optimal

 

        Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa cara berpikir menyeluruh, tidak hanya melihat bagian pembagian, tetapi secara komprehensif.

  • Berpikir pasif ke berpikir kreatif

          Untuk memberdayakan kemampuan berpikir, Boby de Porter ( 1999 ) dalam bukunya “quantum learning” ( Agus Ngermanto, 2001 ) mengemukakan kiat-kiat jitu untuk berpikir kreatif sebagai berikut :

a. Ingatlah kesuksesan anda di masa lalu, baik yang biasa maupun yang menakjudkan, jika pernah berhasil, anda yakin pasti mampu melakukannya lagi.

b. Yakin bahwa hal ini bisa menjadi hari terobosan

c. Latihan kreativitas kreativitas anda dengan permainan mental. Berikut disajikan beberapa saran untuk melakukan permainan mental sebagai berikut :

  1. Pikirkan penggunaan kembali barang-barang lama yang sudah tidak terpakai
  2. Lihatlah kejadian sehari-hari dan susunan uraian kisah tentang peristiwa-peristiwa yang memunculkannya
  3. Temukan peribahasa-peribahasa yang dapat anda gunakan untuk menjelaskan sesuatu kepada seseorang
  4. Pikirkanlah berbagai macam cara untuk menggunakan hal yang sama
  5. Tontonlah acara TV dan matikan suaranya, dan cobalah memperkirakan dan membayangkan apa yang dikatakan orang dalam acara itu

d. Ingatlah bahwa kegagalan membawa pada keberhasilan, Beranikan untuk mengambil resiko agar mencapai keberhasilan

e. Raihlah impian dan fantasi anda

f.Biarkan kesenangan memasuki anda

g. Kumpulkan pengetahuan dari tempat lain

h.Libatkan situasi dari semua sisi

i. Bebaskan pikiran anda dari asumsi

j. Ubahlah posisi anda sesering mungkin

  • Pergeseran paradigma berpikir dari berpikir hirarki ke berpikir jaringan

         Ketika kita mengamati hubungan dan jaringan tersebut di dalam jaringan, kita menyadari bahwa terdapat tingkatan atau level yang berbeda. Sistem kehidupan cenderung membentuk struktur sistem multi level di dalam sistem itu sendiri. Dengan demikian karakteristik lain dari system thinking adalah kemampuan untuk berpindah-pindah antara level sistem.

            Contoh, pada tingkatan paling rendah dalam organisasi terdapat hirarki yang memiliki hubungan satu sama lain. Dalam hal ini agar kita dapat memiliki jaringan yang lebih luas maka perlu mengubah pola berpikir tidak hanya ke dalam hirarki saja tetapi juga membentuk jejaring kerja yang efektif.

  • Pergeseran paradigma berpikir dari berpikir standar ke berpikir proses

            Semua konsep sistem yang diperbincangkan sejauh ini tidak dilihat sebagai aspek berbeda yang paling utama dari system thinking, yang mungkin dapat disebut sebagai berpikir kontekstual. Berpikir kontekstual berarti berpikir dalam terminologi keterkaitan, konteks, dan relasi. Kenyataannya bahasa lain dari kata konteks mengandung arti menenun bersama. Terdapat penekanan lainnya di dalam system thinking sama pentingnya yaitu berpikir proses. Dalam ilmu sistem, setiap struktur terlihat sebagai menisfestasi dari proses. Struktur dan proses selalu seiring, layaknya sebuah mata koin. System thinking adalah selalu berpikir proses. Oleh karena itu dalam proses berpikir tidak hanya memperhatikan struktur tetapi juga prosesnya, karena keduanya berjalan secara simultan.

 

IV. PENUTUP

           Simpulan yang dapat penulis uraikan disini adalah bahwa perubahan pola pikir itu ternyata memiliki banyak pitur-pitur yang harus dipahami oleh seorang PNS, artinya secara teoritis perubahan itu memerlukan kajian berpikir komprehensif ( menyeluruh ) dari berpikir sederhana ke berpikir kompleks, pasif ke kreatif dan sebagainya yang pada akhirnya membawa kepada perubahan perilaku indivual kepada perilaku kelompok. Sehingga tatanan perilaku yang dikembangkan di dalam sebuah lembaga pelayanan akan mempunyai arah dan tujuan yang sama yakni menjadi seorang PNS yang mempunyai tugas dan fungsinya sebagai pelayanan kepada masyarakat, bangsa dan negara.

            Dalam kesempatan ini juga penulis mencoba memberikan rekomendasi kepada lembaga / isntansi pemerintah agar pemahaman terhadap tugas dan fungsi PNS ini merata di seluruh lembaga pemerintah, maupun swasta maka perlu adanya pendidikan dan latihan ( diklat ) dalam rangka mengubah perilaku/pola pikir PNS / karyawan di lingkungan kerja masing-masing.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Agus Ngermanto ( 2001 ), Quantum Quotient, Cara Praktis Melecitkan Kecerdasan IQ, EQ, dan SQ yang harmonis,                                   Bandung

Fedles Borgoyne ( 2001 ), Kiat Pengembangan Diri, Boydel, Jakarta

Sobur. Alex R ( 2003 ), Psikologi Umum, Psikologi Umum Dalam Lintasan Sejarah, Pustaka Setia, Bandung

Siagian, S.P ( 1987 ), cet. 1, Teknik Menumbuhkan dan Memelihara Perilaku Organisasi, Haji Masagung, Jakarta

Taufik, Bahudin (2003), Brainwere, Management, Generasi ke lima Manajemen SDM, Elek Media Komputindo, Jakarta