logo-responsive

GURU PROFESIONAL


GURU PROFESIONAL

Oleh

H. Abdul Hamid.S,Ag M.M.Pd.

Widyaiswara Ahli Madya

 

                                                              Abstrak

Guru merupakan sosok yang begitu dihormati karena memiliki sumbangan yang cukup besar terhadap kcberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mencapai kemampuan optimalnya. Ketika orang tua mendaftarkan anaknya di setiap jenjang pendidikan pada sekolah tertentu, pada saat itu juga ia menaruh harapan cukup besar terhadap guru, agar anaknya dapat memperoleh pendidikan, pembinaan dan pembelajaran serta bimbingan sehingga anak tersebut dapat berkembang secara optimal.

Minat, bakat, kemampuan dan potensi peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini guru perlu memperhatikan peserta didik secara individual. Tugas guru tidak hanya mengajar, namun juga mendidik, mengasuh, membimbing dan membentuk kepribadian anak didik guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya yang dimiliki masing-masing peserta didik. Demikian besar tugas dan tanggung jawab guru, sehingga dibutuhkan sikap dan perilaku yang bisa menjadi teladan bagi anak didiknva. Guru profesional harus menjadikan anak didik sebagai mitra pembelajaran, karena harapan mereka adalah menjadi manusia berakhlak, kreatif dan inovatif untuk meraih cita- citanya.

 

Kata kunci  :  Guru Profesional

 

 

 

 

 

I.                  Pendahuluan

 

 

Guru merupakan salah satu komponen penting dalam proses belajar mengajar. Seorang guru ikut berperan serta dalam usaha membentuk sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan. Pengertian guru profesional menurut para ahli adalah semua orang yang mempunyai kewenangan serta bertanggung jawab tentang pendidikan anak didiknya, baik secara individual atau klasikal, di sekolah atau di luar sekolah.

Guru adalah semua orang yang mempunyai wewenang serta mempunyai tanggung jawab untuk membimbing serta membina murid. Latar belakang pendidikan bagi guru dari guru lainnya tidak selalu sama dengan pengalaman pendidikan yang dimasuki dalam jangka waktu tertentu. Adanya perbedaan latar belakang pendidikan bisa mempengaruhi aktivitas seorang guru dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu menurut penulis betapa pentingnya guru profesional dalam bidang pendidikan dan pembelajaran.

 

Secara sederhana pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang secara khusus disiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat atau tidak memperoleh pekerjaan yang lainnya. Profesionalisme yang berdasarkan keterbukaan dan kebijakan terhadap ide-ide pembaharuan itulah yang akan mampu melestarikan eksistensi sekolah.

Guru yang profesional dituntut harus mampu berperan selaku manajer yang baik yang didalamnya harus mampu melangsungkan seluruh tahap-tahap aktivitas dan proses pembelajaran dengan manajerial yang baik sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat diraih dengan hasil yang memuaskan

 

II.                PEMBAHASAN

 

A. Pengertian Profesi Guru

Sebelum menguraikan definisi  Profesional Guru, terlebih dahulu kita mengetahui apa sebenarnya definisi dari dua kata tersebut.

Thursthoen dalam Walgito ( 1990: 108 ) menjelaskan bahwa, “Sikap” adalah gambaran kepribadian seseorang yang terlahir melalui gerakan fisik dan tanggapan pikiran terhadap suatu keadaan atau suatu objek. Sedangkan Berkowitz, dalam Azwar ( 2000:5 ) menerangkan sikap seseorang pada suatu objek adalah perasaan atau emosi, dan faktor kedua adalah reaksi / respon atau kecenderungan untuk bereaksi. Sebagai reaksi maka sikap selalu berhubungan dengan dua alternatif, yaitu senang (like) atau tidak senang (dislike), menurut dan melaksanakan atau menghindari sesuatu.

Profesionai adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian. kemahiran. atau kecakapan yang memiliki standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen). Pekerjaan yang bersifat profesionai adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekeriaan yang dilakukan oleh mereka karena tidak dapat memperoleh pekerjaan lain.

Menurut para ahli, profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya. Maister (1997) mengemukakan bahwa profesionalisme bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampiian yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan.

 Tentang Guru, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalar pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Agus F. Tambayong dalam buku “Menjadi Guru Profesional” karya Moh. Uzer Usman menjelaskan bahwa pengertian guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal, maka guru profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serla memiliki pengalaman yang di bidangkan.

 

B.  Karakteristik Guru Profesional

Guru profesionai akan tercermin dalam penampilan pelaksanaan tugas- tugas yang ditandai dengan keahlian baik materi maupun melode. Dengan keahliannya itu. seorang guru mampu menunjukkan otonominya, baik pribadi maupun sebagai pemangku profesinya.

Di samping dengan keahliannya, sosok profesionai guru ditunjukkan melalui tanggung jawabnya dalam melaksanakan seluruh pengabdiannya profesional hendaknya mampu memikul dan melaksanakan tanggung jawab sebagai guru kepada peserta didik, orang tua, masyarakat, bangsa negara dan agarnanya. Guru profesionai mempunyai tanggung jawab sosial, intelektual, moral dan spiritual.

Menurut Uzer usman ( 2002 : 47 ) sebagai ilustrasi profesionalitas guru berikut tampak perbandingan antara sikap profesional dan sikap amatir (tidak profesional) yaitu:

 

 

 

 

 

PROFESIONAL

AMATIR

Guru memandang tugas sebagai bagian dari ibadah

Guru memandang tugas semata-mata bekerja

Guru meraandang profesi guru adalah mulia dan terhormat

Guru memandang profesi guru biasa saja

Guru menganggap kerja itu adalah amanah

Guru memandang kerja itu hanya mencari nafkah

Guru memandang profesi guru sebagai panggilan jiwa

Guru memandang profesi guru sebagai keterpaksaan

Guru menganggap kerja itu nikmat dan menyenangkan

Guru memandang kerja itu beban dan membosankan

Guru menganggap kerja itu sebagai bentuk pengabdian

Guru memandang kerja itu murni mencari penghasilan

Guru memiliki rasa / ruhul jihad dalam mengajarnya

Guru mengajar sekadar menggugurkan kewajiban

Guru mempelajari setiap aspek dari tugasnya

Guru amatir mengabaikan untuk mempelajari tugasnya

Guru akan secara cermat menemukan apa yang diperlukan dan diinginkan

Guru amatir menganggap sudah merasa cukup apa yang diperlukan dan diinginkan

Guru memandang, berbicara dab berbusana secara sopan dan elegan

Guru amatir berpenampilan dan berbicara semaunya

Guru akan menjaga lingkungan kerjanya selalu rapi dan teratur

Guru amatir tidak memerhatikan lingkungan kerjanya

Guru bekerja secara jelas dan terarah

Guru amatir bekerja secara tidak menentu dan tidak teratur

Guru tidak membiarkan terjadi kesalahan

Guru amatir mengabaikan atau menyembunyikan kesalahan

Guru berani terjun kepada tugas-tugas yang sulit

Guru amatir menghindari pekerjaan yang dianggap sulit

Guru mengerjakan tugas secepat mungkin

Guru amatir akan membiarkan pekerjaannya terbengkalai

Guru akan senantiasa terarah dan optimistic

Guru amatir bertindak tidak terarah dan pesimis

Guru akan memanfaatkan dana secara cermat

Guru amatir akan menggunakan dana tidak menentu

Guru bersedia menghadapi masalah orang lain

Guru amatir menghindari masalah orang lain

Guru menggunakan nada emosional yang lebih tinggi seperti antusias, gembira, penuh minat, bergairah

Guru amatir menggunakan nada emosional rendah seperti marah, sikap permusuhan, ketakutan, penyesalan, dan sebagainya

Guru akan beketja sehingga sasaran tercapai

Guru amatir akan berbuat tanpa memedulikan ketereapaian sasaran

Guru menghasilkan sesuatu melebihi dari yang diharapkan

Guru amatir menghasilkan sekadar memenuhi persyaratan

Guru menghasilkan sesuatu produk atau pelayanan bermutu

Guru amatir menghasilkan produk atau pelayanan dengan mutu rendah

Guru mempunyai janji untuk masa depan

Guru amatir tidak memiliki masa depan yang jelas

 

M. Ngalim Purwanto dalam bukunya “Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis” menyebutkan beberapa sikap dan sifat guru yang baik, yaitu :

a. Adil

b. Percaya dan suka kepada murid-muridnya

c. Sabar dan rela berkorban

d. Memiliki kewibawaan terhadap anak-anak

e. Penggembira

f. Bersikap baik terhadap guru-guru lainnya

g. Bersikap baik terhadap masyarakat

h. Benar-benar menguasai mata pelajarannva

i. Suka kepada mata pelajaran yang diberikannya

j. Berpengetahuan luas.

 

C. Sasaran Sikap Profesional Keguruan

1. Sikap Terhadap Peraturan Perundang-Undangan

Pada butir Sembilan kode etik guru Indonesia disebutkan bahwa “guru melaksanakan segala kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan”. Kebijakan pendidikan di Negara kita dipegang oleh pemerintah, dalam hal ini oleh kementerian pendidikan kebudayaan. Dalam rangka pembangunan di bidang pendidikan di Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan yang merupakan kebijaksanaan yang akan dilaksanakan oleh aparatnya, yang meliputi antara lain pembangunan gedung-gedung pendidikan, pemerataan kesempatan belajar antara lain dengan melalui kewajiban belajar. Peningkatan mutu pendidikan, pembinaan generasi muda dengan menggiatkan kegiatan taruna dan lain-lain.

Guru merupakan unsur aparatur negara dan abdi Negara. Oleh karena itu guru mutlak perlu mengetahui kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan sehingga dapat melaksanakan ketentuan-ketentuan yang merupakan kebijaksanaan tersebut.

2.  Sikap Terhadap Organisasi Profesi

Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian. Dasar ini menunjukkan kepada kita betapa pentingnya peranan organisasi sebagai wadah dan sarana pengabdian. PGRI sebagai organisasi profesi memerlukan pembinaan, agar lebih berdaya guna sebagai wadah usaha untuk membawakan misi dan memantapkan profesi guru. Keberhasilan usaha tersebut sangat bergantung kepada kesadaran para anggotanya, rasa tanggung jawab dan keawajiban para anggotanya. Setiap anggota harus memberikan sebagian waktunya untuk kepentingan pembinaan profesinya, dan semua waktu dan tenaga yang diberikan oleh para anggota ini dikoordinasikan oleh para pejabat organisasi tersebut, sehingga pemanfaatannya menjadi efektif dan efisien.

3. Sikap Terhadap Teman Sejawat

Dalam ayat 7 kode etik guru disebutkan bahwa “guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial”. Ini berarti bahwa : (l) Guru hendaknya menciptakan dan memelihara hubungan sesama guru dalam lingkungan kerjanya, dan (2) Guru hendaknya menciptakan dan memelihara semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial didalam dan diluar lingkungan kerjanya.

Dalam hal ini, Kode Etik Guru Indonesia menunjukkan kepada kita betapa pentingnya hubungan yang harmonis perlu diciptakan dengan mewujudkan perasaan bersaudara yang mendalam antara sesama anggota.

4.  Sikap Terhadap Anak Didik

Dalam kode etik guru Indonesia dengan jelas dituliskan bahwa “guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa pancasila”. Dasar ini mengandung beberapa prinsip yang harus dipahami oleh seorang guru dalam menjalankan tugasnya sehari- hari yakni tujuan pendidikan nasional, prinsip membimbing dan prinsip pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.

6.  Sikap Terhadap Tempat Kerja

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa suasana yang baik ditempat kerja akan meningkatan produktivitas. Hal ini disadari dengan sebaik-baiknya oleh setiap guru, dan guru berkewajiban menciptakan suasana yang sedemikian rupa dalam lingkungannya. Untuk menciptakan suasana kerja yang baik ini ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu: guru sendiri hubungan guru dengan orang tua dan masyarakat sekeliling.

7.        Sikap Terhadap Pemimpin

Sudan jelas bahwa pemimpin suatu unit atau organisasi akan mempunyai kebijaksanaan dan arahan dalam memimpin organisasinya, dimana tiap anggota organisasi itu dituntut berusaha untuk bekerja sama dalam melaksanakan tujuan organisasi tersebut. Maka, sikap seorang guru terhadap pemimpin harus positif, dalam pengertian harus bekerja sama dalam menyukseskan program yang sudah disepakati, baik disekolah maupun diluar sekolah.

8.        Sikap Terhadap Pekerjaan

Butir keenam dalam kode etik guru Indonesia berbunyi “guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya”. Dalam butir keenam ini dituntut kepada guru baik secara pribadi maupun secara kelompok. untuk selalu meningkatkan mutu dan martabat profesinya. Guru sebagaimana juga dengan profesi lainnya tidak mungkin dapat meningkatkan mutu dan martabat profesinya bila guru itu tidak meningkatkan atau menambah pengetahuan dan ketrampilannya. karena ilmu dan pengetahuan yang menunjang profesi itu selalu berkembang sesuai dengan kemajuan zaman.

 

D.  Pengembangan Sikap Profesional

a. Pengembangan Sikap Selama Pendidikan Prajabatan

Dalam pendidikan prajabatan, calon guru dididik dalam berbagai pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaannya nanti. Karena tugasnya yang bersifat unik, guru selalu menjadi panutan bagi siswanya dan bahkan bagi masyarakat sekelilingnya. Oleh sebab itu, bagaimana guru bersikap terhadap pekerjaan dan jabatannya selalu menjadi perhatian siswa dan masyarakat.

Pembentukan sikap yang baik tidak mungkin muncul begitu saja, tetapi harus dibina sejak calon guru memulai pendidikannva di lembaga pendidikan guru. Berbagai usaha dan latihan, contoh dan aplikasi penerapan ilmu, keterampilan dan bahkan sikap profesional dirancang dan dilaksankan selama calon guru berada daiam pendidikan prajabatan. Sering juga pembentukan sikap tertentu terjadi sebagai hasil sampingan (by product) dari pengetahuan yang diperoleh calon guru. Sikap teliti dan disiplin, misalnya dapat terbentuk sebagai hasil sampingan dari hasil belajar matematika yang benar, karena belajar matematika selalu menuntut ketelitian dan kedisiplinan penggunaan aturan dan prosedur yang telah ditentukan. Sementara itu tentu saja pembentukan sikap dapat diberikan dengan memberikan pengetahuan, pemahaman dan penghayatan khusus yang direncanakan.

b. Pengembangan Sikap Selama daiam Jabatan

Pengembangan sikap profesional tidak berhenti apabila calon guru selesai mendapatkan pendidikan prajabatan, Banyak usaha yang dapat dilakukan dalam rangka peningkatan sikap profesionai keguruan dalam masa pengabdiannya sebagai guru. Seperti telah disebut, peningkatan ini dapat dilakukan dengan cara formal melalui kegiatan mengikuti penataran, lokakarya, seminar atau kegiatan ilmiah lainnya, atau pun secara informal melalui media massa televisi, radio, koran dan majalah maupun publikasi lainnya. Kegiatan ini selain dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, sekaligus dapat juga meningkatkan sikap profesional keguruan.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Simpulan

Guru sebagai pendidik profesionai mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan atau teladan masyarakat sekelilingnya. Masyarakat terutama akan melihat bagaimana sikap dan perbuatan guru itu sehari-hari.

Sasaran sikap profesional keguruan, meliputi sikap terhadap peraturan perundang-undangan, organisasi profesi, teman sejawat, anak didik. tempat kerja, pemimpin dan pekerjaan.

Sebagai jabatan yang harus dapat menjawab tantangan perkembangan masyarakat, jabatan guru harus selalu dikembangkan dan dimutakhirkan. Dalam bersikap guru harus selalu mengadakan pembaruan sesuai dengan tuntutan tugasnya. Pengembangan sikap professional ini dapat dilakukan, baik selagi dalam pendidikan prajabatan maupun setelah bertugas (dalam jabatan).

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Mudiofir, Ali. 2013. Pendidik Profesionai: Konsep, Strategi dan Aplikasinya dalam Peningkatan Mutu Pendidik di Indonesia, Rajawali Press. Jakarta.

 

Purwanto, M. Ngalim. 2011.  llmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.

 

Soetjipto dan Raflis Kosasi. 1999.  Profesi Keguruan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan PT Rineka Cipta. Jakarta.

 

Usman, Moh. Uzer. 2002.  Menjadi Guru Profesionai, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.