logo-responsive

‘EUFORIA’ REVOLUSI MENTAL ASN

Membaca tema dari sebuah rakor kediklatan, yang dilaksanakan di Hotel Aston Banjarmasin, tanggal 21 Februari 2017 silam, yakni: “Melalui Lembaga Diklat Profesional Yang Bersih Melayani Kita Wujudkan Revolusi Mental Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama”. Dengan tidak bermaksud mengkritisi tema tersebut penulis menangkap paling tidak ada 3 (tiga) hal yang menjadi kata kunci, yaitu lembaga diklat yang profesional, diklat bersih melayani dan revolusi mental ASN.

 

‘EUFORIA’ REVOLUSI MENTAL ASN

(Antara Harapan dan Kenyataan)

Oleh Surya Subur*

 

            Membaca tema dari sebuah rakor kediklatan, yang dilaksanakan di Hotel Aston Banjarmasin, tanggal 21 Februari 2017 silam, yakni: “Melalui Lembaga Diklat Profesional Yang Bersih Melayani Kita Wujudkan Revolusi Mental Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama”. Dengan tidak bermaksud mengkritisi tema tersebut penulis menangkap paling tidak ada 3 (tiga) hal yang menjadi kata kunci, yaitu lembaga diklat yang profesional, diklat bersih melayani dan revolusi mental ASN.

            Dalam renungan penulis lembaga diklat memang selayaknya harus profesional karena ia berfungsi sebagai lembaga yang bertugas mendidik dan melatih aparatur di bawah kementeriannya.  Kata ‘profesioanal’ yang melekat pada sebuah lembaga merupakan cerminan bahwa suatu lembaga  telah memenuhi syarat sebagai  lembaga profesional. Dari beberapa literatur  penulis simpulkan, sebuah lembaga diklat dikatakan profesional paling tidak memiliki 3 (tiga) syarat, yakni tenaga pengajar (widyaiswara) yang profesional, tenaga administrasi yang handal dan sarana prasarana yang refresentatif.  

            Tenaga pengajar yang profesional, dimafhumi adalah tenaga yang mengusai bidang ajar, baik strategi, teknik, metode dan sebagainya sehingga beban tanggung jawab yang diberikan kepadanya dapat di-ejawantah-kan secara jelas,  diterima dan pada akhirnya tercetak aparatur yang lebih profesional. Kata lain dari profesional bisa juga bermakna handal, walaupun handal lebih mengarah pada ketahanan diri, tahan banting dan sebagainya, yang melekat hendaknya kepada tenaga administrasi yang ada. Kenapa tenaga administrasi kediklatan harus bermakna ‘handal’ ? Hal ini terkait dengan tugas dan fungsinya sebagai ‘pelayan’ atau pelaksana kegiatan diklat. Tenaga administrasi berperan sangat penting, mulai dari mempersiapkan kelengkapan diklat, menguhubungi peserta diklat, mempersiapkan pelaksanaan, dan menyusun laporan dan finalisasi kesempurnaan laporan. Kesemua itu, memerlukan sosok administrator yang handal.

            Makna kedua yang menggelitik penulis adalah kedilkatan yang bersih melayani. Kalau tidak keliru penafsiran penulis,  lembaga diklat yang bersih melayani tersebut bermakna bahwa lembaga kediklatan sebagai bagian dari unsur pelayanan terhadap aparatur atau lembaga kediklatan yang memberikan pelayanan kepada aparatur secara bersih. Bolehlah kita terbawa euforia pelayanan yang bersih, namun, objek dan subjeknya harus jelas. Sebab menurut penulis, lembaga kediklatan tersebut bukan memberikan pelayanan langsung, melainkan mencetak atau mendidik aparatur yang siap melayani dengan bersih, tulus, tanpa efek pamrih apapun. Bentiuk pelayanan lembaga kediklatan adalah memfasilitasi aparatur yang akan ditingkatkan kompetensinya sehingga tercipta aparatur yang menguasai bidangnya,  mampu memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada masyarakat. Bukan pada bentuk pelayanan langsung seperti rumah sakit, KUA, dan lain-lain lembaga pelayanan.

            Adapun makna yang ketiga adalah revolusi mental ASN. Mewujudkan revolusi mental ASN pada sebuah lembaga diklat adalah lazim adanya. Kenapa ? Menurut penulis itu hal  wajar, karena lembaga kediklatan harus tunduk dan patuh atau kebijakan dan harapan lembaga di atasnya, yakni Badan Litbang dan Diklat, yang pada intinya mereka mendapat amanah dari Bapak Priseden yang mengamanahkan bahwa revolusi mental ASN diperlukan untuk bangsa ini. Pertanyaan yang mendasar adalah kenapa harus ada  revolusi mental ?

            Mari kita renungkan lebih dalam, bagaimanakah kita mengatakan bahwa sebuah lembaga kediklatan sudah profesional sementara makna bersih melayani belum begitu terlihat dari diri aparatur ? Begitu banyak keluhan dan rintihan dari masyarakat akan pelayanan yang diberikan ? Kalau bisa ditunda mengapa harus dipercepat ? dan sebagainya dan sebagainya.

Untuk memperdalam ini, penulis ingin menyitir pendapat Dr. Yudhi Latif dalam sebuah sinopsisnya menulis, orang bilang, tanah kita tanah surga, kaya sumber daya, indah permai bagai untaian zamrud yang melilit khatulistiwa. Namun, di taman nirwana Dunia Timur ini, kelimpahan mata air kehidupan mudah berubah menjadi air mata. Kekuasaan datang-hilang, silih berganti membuai mimpi; tapi nasib rakyatnya tetap sama, kekal menderita. Mimpi indah kemerdekaan sebagai jembatan emas menuju perikehidupan kebangsaan dan kewargaan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur lekas menjelma menjadi mimpi buruk, tertindas, terpecah-belah, terperbudak, timpang dan miskin.

Kutipan di atas, menggambarkan ironisme bangsa ini: ketimpangan ekonomi, pendidikan, sosial begitu tajam. Sementara ASN seperti terjebak dalam rutinitas, tidak peduli dan tutup mata akan kesenjangan tersebut sehingga disadari atau tidak terlepas dari lemahnya pelayanan, juga memunculnya perbedaan starata sosial yang tajam, birakrat dan rakyat jelata, kaya dan miskin, serta kelompok organisasi yang beraneka ragam, dan lain sebagainya. Barangkali kondisi inilah yang  dilihat oleh pemimpin bangsa ini, sehingga harus adanya rebuah revolusi yang dapat menyadarkan kesenjangan ini, yakni revolusi mental. Hanya saja memunculkan kembali pertanyaan besar. Apakah melalui revolusi mental dapat mengubah semua itu ? Apakah tidak sekedar euforia belaka ? Yang hanya memberikan mimpi antara harapan dan kenyataan. Mari kita tunggu. Wallahu’alambissawab. *Penulis adalah widyaiswara BDK Banjarmasin.