logo-responsive

EVALUASI PEMBELAJARAN

 

Kegiatan pembelajaran dan evaluasi merupakan bagian tugas guru yang sangat penting dalam dunia pendidikan di sekolah. Dikatakan sangat penting, karena melalui kegiatan atau proses pembelajaran dan evaluasi yang dirancang dengan baik oleh guru maka kompetensi (pengetahuan, sikap dan keterampilan) yang  diharapkan untuk dimiliki oleh para peserta didik akan tercapai. Sebaliknya, apabila guru kurang mampu mengelola pembelajaran dan evaluasi dengan baik maka output (keluaran/lulusan) tidak sesuai dengan yang diharapkan. Karena itu seorang guru harus mutlak memiliki kompetensi/kemampuan dalam mengelola pembelajaran kemudian ketika melakukan evaluasi terutama dalam mendesain, mengelolan dan melaporkan hasil evaluasi, Sehingga ketika seorang guru melakukan evaluasi maka hasil evaluasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya

 

Oleh Anang Nazaruddin

 

  1. Pendahuluan

      Dalam dunia pendidikan seperti yang dikatakan Anita Lie (2007 : 2), paradigma lama mengenai proses belajar mengajar bersumber pada teori (atau lebih tepatnya asumsi) tabula rasa John Locke. Locke mengatakan bahwa pikiran seorang anak seperti kertas kosong  yang  putih  bersih  dan  siap  menunggu  coretan-coretan  gurunya.  Berdasarkan asumsi ini dan asumsi yang sejenisnya, banyak guru melaksanakan kegiatan belajar  mengajar  berdasarkan  : 

  1. Memindahkan pengetahuan  dari  guru  ke  siswa;
  2. Mengisi botol  kosong  dengan  pengetahuan; 
  3. Mengotak-ngotakan siswa;  dan 
  4. Memacu siswa dalam kompetisi bagaikan ayam aduan.

      Tuntutan  dalam  dunia  pendidikan  sudah  banyak  berubah.  Pendidik  perlu menyusun  dan  melaksanakan  kegiatan  belajar  mengajar  dimana  anak  dapat  aktif membangun pengetahuannya sendiri. Hal ini sesuai dengan pandangan konstruktivisme yaitu keberhasilan belajar tidak hanya bergantung pada lingkungan atau kondisi belajar, tetapi juga pada pengetahuan awal siswa (Ina Karlina : 2008).

      Pendidikan  merupakan  salah  satu  alat  yang  sangat  penting  dalam  membentuk karakter bangsa.  Pendidikan diperlukan sebagai upaya proses yang dilakukan melalui cara  dengan  melakukan  pembelajaran  terhadap  anak  bangsa.  Pencapaian pendidikan melalui evaluasi sebagai suatu alat mengumpulkan informasi tentang sistem pendidikan. Mengevaluasi  pendidikan  ialah  mengumpulkan  informasi  agar  terhadap  pendidikan itu  dapat  diambil  tindakan  (Stufflebean,  1971).    Menurut    sistem  pendidikan  yang berlangsung  hal-hal  yang  memerlukan  laporan  evaluasi  adalah  : 

  1. Evaluasi hasil proses belajar dan pembelajaran;
  2. Evaluasi kualitas personalia;
  3. Evaluasi program pendidikan; dan kurikulum.

      Hasil evaluasi dari ketiga aspek di atas disusun dalam laporan hasil evaluasi yang selajutnya dijadikan bahan acuan untuk perbaikan pendidikan. Perbaikan  pendidikan baru akan berarti kalau hal itu dilakukan berdasarkan suatu evaluasi yang dilaksanakan dahulu.

      Dalam penyusunan Laporan hasil proses belajar dan pembelajaran  hal yang harus diperhatikan adalah :

  1. Laporan hasil evaluasi memiliki landasan prosedur penilaian;
  2. Laporan menggambarkan hasil monitoring selama proses pembelajaran berlangsung yang dapat dijadikan bahan informasi pihak ketiga ;
  3. Laporan sebagai ukuran tingkat keberhasilan peserta  didik;
  4. Laporan dapat  menggambarkan    klasifikasi  siswa    ke dalam kelompok prestasi (baik, sedang, dan lemah);
  5. Laporan dapat dijadikan acuan untuk seleksi kecakapan peserta didik dalam kompentesi bidang keahlian.

      Dari hasil pengamatan penulis dalam beberapa kali pendampingan ditemukan ada sebagian laporan evaluasi yang diberikan belum sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan, sebagian guru melakukan evaluasi hanya berdasarkan pengamatan saat pembelajaran saja belum secara menyeluruh artinya ketika ditanyakan mana bukti evaluasi yang dilakukan mereka belum bisa menjawab berdasarkan ketentuan yang ada. Bahkan mungkin ada yang lebih ekstrim lagi, ada oknum guru yang hanya sekedar mengarang saja hasil evaluasi yang mereka berikan. Oleh karena itu maka penulis membuat paparan yang akan dibahas dibawah ini.

  1. Pembahasan
  2. Evaluasi Hasil Belajar

            Evaluasi  Hasil  Belajar  antara  lain  mengunakan  tes  untuk  melakukan pengukuran hasil belajar. Tes dapat didefinisikan sebagai seperangkat pertanyaan dan/atau  tugas  yang  direncanakan  untuk  memperoleh  informasi  tentang  trait, atribut pendidikan, psikologik atau hasil belajar yang setiap butir pertanyaan atau tugas  tersebut  mempunyai  jawaban  atau  ketentuan  yang  dianggap  benar. Pengukuran  diartikan  sebagai  pemberian  angka  pada  status  atribut  atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang, hal, atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas. Penilaian adalah  suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan instrumen test maupun non-test. Penilian dimaksudkan untuk memberi nilai tentang kualitas hasil belajar.

            Secara  klasik  tujuan  evaluasi  hasil  belajar  adalah  untuk  membedakan kegagalan  dan  keberhasilan  seorang  peserta  didik.  Namun  dalam perkembangannya evaluasi dimaksudkan  untuk memberikan umpan balik kepada peserta didik maupun kepada pembelajar sebagai pertimbangan untuk melakukan perbaikan  serta  jaminan  terhadap  pengguna  lulusan  sebagai  tanggung  jawab institusi yang telah meluluskan.

            Evaluasi  hasil  pembelajaran  atau  evaluasi  hasil  belajar  antara  lain mengguakan  tes  untuk  melakukan  pengukuran  hasil  belajar  sebagai  prestasi belajar, dalam hal ini adalah penguasaan kompetensi oleh setiap siswa.

  1. Ciri – ciri Tes Yang Baik

Tes yang baik adalah tes yang dapat mengukur hasil belajar siswa dengan tepat. Untuk dapat menghasilkan tes yang seperti itu maka tes tersebut harus dibuat melalui perencanaan yang baik. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat perencanaan tes yang baik adalah ( http://pustaka.ut.ac.id/learning.php) :

  1. Tentukan tujuan pembelajaran yang ingin diukur.
  2. Pilih pokok bahasan dan sub-pokok bahasan yang relevan untuk mencapai tujuan tersebut.
  3. Tentukan proses berpikir yang ingin diukur.
  4. Tentukan jenis tes yang tepat digunakan untuk mengukur tujuan pembelajaran tersebut.
  5. Tentukan tingkat kesukaran butir soal yang akan dibuat.

            Selain itu, sebuah test dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memenuhi kriteria, yaitu memiliki validitas, reliabilitas, objektivitas, praktikabilitas dan ekonomis.

      Sebuah alat pengukur dapat dikatakan valid apabila alat pengukur tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur secara tepat. Demikian pula dalam alat-alat evaluasi. Suatu tes dapat dikatakan memiliki validitas yang tinggi apabila tes itu tersebut betul-betul dapat mengukur hasil belajar. Jadi bukan sekedar mengukur daya ingatan atau kemampuan bahasa saja misalnya.

  1. Reliabilitas

      Reliabilitas berasal dari kata reliable yang berarti dapat dipercaya. Reliabilitas suatu tes menunjukan atau merupakan sederajat ketetapan, keterandalan atau kemantapan (the level of consistency) tes yang bersangkutan dalam mendapatkan data (skor) yang dicapai seseorang, apabila tes tersebut diberikan kepadanya pada kesempatan (waktu) yang berbeda., atau dengan tes yang pararel (eukivalen) pada waktu yang sama. Atau dengan kata lain sebuah tes dikatakan reliable apabila hasil-hasil tes tersebut menunjukan ketetapan, keajegan, atau konsisten. Artinya, jika kepada para siswa diberikan tes yang sama pada waktu yang berlainan, maka setiap siswa akan tetap berada dalam urutan (ranking) yang sama dalam kelompoknya.

  1. Objektivitas

      Sebuah tes dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam melaksanakan tes itu tidak ada faktor subyektif yang mempengaruhi. Hal ini terutama pada sistem skoringnya, apabila dikaitkan dengan reliabilitas maka obyektivitas menekankan ketetapan pada sistem skoring, sedangkan reliabilitas menekankan ketetapan dalam hasil tes. Ada dua faktor yang mempengaruhi subjektivitas dari sesuatu tes yaitu bentuk tes dan penilaian.

  1. Praktikabilitas

      Sebuah tes dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila tes itu bersifat praktis, mudah untuk pengadministrasiannya.

      Yang dimaksud dengan ekonomis ialah bahwa pelaksanaan tes tersebut tidak membutuhkan ongkos/biaya yang mahal, tenaga yang banyak dan waktu yang lama, baik untuk memproduksinya maupun untuk melaksanakan dan mengolah hasilnya.

  1. Tantangan evaluasi dalam kurikulum 2013
  2. Pendekatan Saintifik dalam Kurikulum 2013

      Sebagaimana disebutkan Sudrajat (2013) bahwa kehadiran kurikulum 2013 menjadikan menjadikan siswa lebih aktif dalam mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, juga dapat mendorong siswa untuk melakukan penyelidikan guna menemukan fakta-fakta dari suatu fenomena atau kejadian. Artinya, dalam proses pembelajaran, siswa dibelajarkan dan dibiasakan untuk menemukan kebenaran ilmiah, bukan diajak untuk beropini apalagi fitnah dalam melihat suatu fenomena. Mereka dilatih untuk mampu berfikir logis, runut dan sistematis, dengan menggunakan kapasitas berfikir tingkat tinggi (High Order Thingking). Penerapan pendekatan saintifik/ilmiah dalam pembelajaran menuntut adanya perubahan setting dan bentuk pembelajaran tersendiri yang berbeda dengan pembelajaran konvensional. Hal ini sesuai dengan beberapa metode pembelajaran yang dipandang sejalan dengan prinsip-prinsip pendekatan saintifik/ilmiah, antara lain metode: (1) Problem Based Learning; (2) Project Based Learning; (3) Inkuiri/Inkuiri Sosial; dan (4) Group Investigation.

      Metode-metode tersebut merupakan berusaha membelajarkan siswa untuk mengenal masalah, merumuskan masalah, mencari solusi  atau menguji  jawaban sementara atas suatu masalah/pertanyaan dengan melakukan penyelidikan (menemukan fakta-fakta melalui penginderaan), pada akhirnya dapat menarik kesimpulan dan menyajikannya secara lisan maupun tulisan. Dengan kata lain, paradigma pengembangan kurikulum 2013 sesuai dengan paradigma pembelajaran abad 21, yakni menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi (http://www.kemdikbud.go.id)

  1. Standar Penilaian dalam Kurikulum 2013

      Sebagaimana diketahui bahwa diantara elemen perubahan dalam kurikulum KTSP adalah standar proses, standar kompetensi kelulusan, standar isi dan standar penilian. Tentu saja standar penilaian dalam kurikulum 2013 mempengaruhi standar penilaian kurikulum KTSP. Standar Penilaian Pendidikan kurikulum 2013 mengacu pada Permendikbud No. 66 tahun 2013 tentang standar penilaian pendidikan yakni kriteria mengenai mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Penilaian pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik mencakup: penilaian otentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu tingkat kompetensi, ujian nasional, dan ujian sekolah/madrasah.

      Jika pada kurikulum KTSP, penilaian lebih ditekankan pada aspek kognitif yang menjadikan tes sebagai cara penilai yang dominan, maka kurikulum 2013 menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik secara proporsional yang sistem penilaiannya berdasarkan test dan portofolio yang saling melengkapi.

  1. Prinsif Penilaian dalam Kurikulum 2013

      Standar Penilaian pendidikan dalam kurikulum 2013 sebagaimana telah disebutkan dalam permendikbud No. 66 Tahun 2013 bahwa Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Adapun prinsif penilaian dalam peraturan baru (Pemendiknas No 66 tahun 2013) tersebut sebagai berikut:

  • Objektif, berarti penilaian berbasis pada standardan tidak dipengaruhi faktor subjektivitas penilai.
  • Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik dilakukan secara terencana, menyatu dengan kegiatan pembelajaran, dan berkesinambungan.
  • Ekonomis, berarti penilaian yang efisien dan efektif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporannya.
  • Transparan, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diakses oleh semua pihak.
  • Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak internal sekolah maupun eksternal untuk aspek teknik, prosedur, dan hasilnya.
  • Edukatif, berarti mendidik dan memotivasi peserta didik dan guru.

        Pendekatan penilaian yang digunakan adalah penilaian acuan kriteria (PAK). PAK merupakan penilaian pencapaian kompetensi yang didasarkan pada kriteria ketuntasan minimal (KKM). KKM merupakan kriteria ketuntasan belajar minimal yang ditentukan oleh satuan pendidikan dengan mempertimbangkan karakteristik Kompetensi Dasar yang akan dicapai, daya dukung, dan karakteristik peserta didik.

  1. Paradigma Penilaian Kurikulum 2013

      Dalam kurikulum 2013 mengisyarakatkan penggunaan penilaian otentik (authentic assesment), dimana siswa dinilai kesiapannya, proses, dan hasil belajar secara utuh. Keterpaduan penilaian ketiga komponen tersebut akan menggambarkan kapasitas, gaya, dan perolehan belajar siswa atau bahkan mampu menghasilkan dampak instruksional (instructional effect) dan dampak pengiring (nurturant effect) dari pembelajaran. Hasil penilaian otentik dapat digunakan oleh guru untuk merencanakan program perbaikan (remedial), pengayaan (enrichment), atau pelayanan konseling. Selain itu, hasil penilaian otentik dapat digunakansebagai bahan untuk memperbaiki proses pembelajaran sesuai dengan Standar Penilaian Pendidikan. Evaluasi proses pembelajaran dilakukan saat proses pembelajaran dengan menggunakan alat: angket, observasi, catatan anekdot, dan refleksi.

Format Penilaian Dan Prosedur Implementasi Kurikulum 2013

Sesaat

Antar waktu

Dari waktu ke waktu

Pilihan Berganda, Benar/ Salah, Mencocokan

Jawaban Terstruktur, Esai

Investigasi, Laporan Penelitian, Tugas Ilmiah

Portofolio, Jurnal,  Laporan Praktikum

       

 

  1. Ruang Lingkup Penilaian dalam kurikulum 2013

      Penilaian otentik  disebutkan dalam kurikulum 2013 adalah model penilaian yang dilakukan saat proses pembelajaran berlangsung berdasarkan tiga komponen di atas. Diantara teknik dan isntrumen penilaian dalam kurikulum 2013 sebagai berikut.

  • Penilaian kompetensi sikap

            Pendidik melakukan penilaian kompetensi sikap melalui observasi, penilaian diri, penilaian “teman sejawat” (peer evaluation) oleh peserta didik dan jurnal. Instrumen yang digunakan untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian antarpeserta didik adalah daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik, sedangkan pada jurnal berupa catatan pendidik.

  • Penilaian Kompetensi Pengetahuan

            menilai kompetensi pengetahuan melalui tes tulis, tes lisan, dan penugasan.

  • Penilaian Kompetensi Keterampilan

            Pendidik menilai kompetensi keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan menggunakan tes praktik, projek, dan penilaian portofolio. Instrumen yang digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik.

 

 

  1. Kesimpulan

      Guru ketika mengelola pembelajaran  harus memiliki kemampuan sebagai evaluator untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dalam membentuk karakter bangsa Indonesia yang mulia, di mana guru mampunyai peran sebagai fasilitator, pembimbing, motivator dan organisator, sehingga ketika kurikulum 2013 diberlakukan peran guru bisa menjadi maksimal      

      Kurikulum 2013 menekankan pada penilaian terhadap tiga komponen dalam proses. Tiga komponen tersebut adalah skill (keterampilan), knowlidge (pengetahuan), dan attitude (prilaku). Tiga komponen itu didapatkan pada proses pembelajaran berlangsung. Selain itu, kurikulum 2013 lebih mengedepankan penilaian otentik (penilaian yang sebenarnya). Seluruh rangkaian pembelajaran siswa menjadi titik perhatian seorang pendidik dalam memberikan penilaian.

      Dalam proses penilaian, digunakan pendekatan penilaian menggunakan sistem penilaian otentik, siswa dinilai pada proses pembelajaran berlangsung. Pada proses pembelajaran, mengedepankan pendekatan saintifik, siswa diarahkan untuk mengelabolarisakan, menemukan dan menjelaskan fenomena yang terjadi dilapangan berdasarkan hasil temuannya. Dengan demikian, pendekatan ini mengarahkan pada satu kesimpulan bahwa siswa akan memahami pengetahuan berdasarkan apa yang ia rasakan dan ditemukan. Sehingga proses laporan evaluasi yang diberikan adalah benar-benar nyata berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh guru.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

            Arikunto, Suharsimi. (2005). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta. Bumi Aksara.

            Djamarah,  Bahri  Syaiful  dan  Zain Aswan.  (2006).  Strategi  Belajar  Mengajar.  Edisi revisi. Jakarta : PT Rineka Cipta.

            Karlina, Ina. (2008). Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) sebagai salah Satu Strategi Membangun Pengetahuan Siswa. Tersedia : www.sd-binatalenta.com. artikel_ina.pdf [29 Juli 2008].

            Kunandar. (2014). Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013). Edisi Revisi. Jakarta : PT. Raja Grafido Persada.

            Lie,  Anita.  (2007).  Cooperative  Learning,  Mempraktikkan  Cooperative  Learning  di Ruang-Ruang Kelas. Cetakan kelima. Jakarta: PT Grasindo.

            Purwanto, Ngalim. (1996). Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

            Stufflebean, Daniel. L, Scriven, Michel S, Madaus, George F, (1983) Evaluation Models, Boston : Kluwer Nijhoff Publishing.

            Sudrajat, Ahmad. 31 Januari 2008. Teori Pendidikan dan Kurikulum, (http://akhmadsudrajat.wordpress.com, diunduh 15 September 2013).

            Undang-undang Republik Indonesia No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.

            Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.