logo-responsive

KAPAN OTAKMU BERPIKIR KREATIF DAN INOVATIF ?

 Oleh : H.Zarkani,S.Ag,M.AP (Wisyaiswara BDK Banjarmasin )

 

Abstrak

Untuk  mewujudkan  kreativitas  dan  menciptakan  inovasi-inovasi  baru  dalam kepemerintahan di Indonesia memerlukan aparatur-aparatur yang kreatif dan inovatif,  yang  memiliki  konsep  berpikir  kreatif.  Untuk  mewujudkan  hal  ini membutuhkan  sebuah  perubahan  bagi  aparatur  dalam  melatih  cara berpikirnya kearah berpikir kreatif dan inovatif.

Kreativitas  dan  inovasi  merupakan  hal  yang  berhubungan,  keduanya  adalah sebuah  proses  yang  berurutan. inovasi adalah kelanjutan proses dari kreativitas.  Kreativitas  sebagai ide  dasar  dan  inovasi  mewujudkan  ide  itu menjadi sebuah produk yang dapat diakui lingkungan. Dalam  inovasi,  pengakuan  menjadi  penting,  karena  dengan  adanya pengakuan berarti membuktikan bahwa implementasi ide kreatif benar-benar memiliki  nilai  fungsi  dan  nilai  guna.  Sebuah  produk  tidak  memiliki fungsi,  maka  belum  dapat  dikatakan  sebagai  sebuah  inovasi.

Hasil pemikiran merupakan kerja keras otak, sudahkah otak kita bekerja untuk kreativitas dan inovasi ? Kapan ?

 

Kata Kunci : Kreatif, Inovatif, Berpikir

  1. Latar Belakang

Berkembangnya  kebutuhan  dan  semakin  kompleksnya permasalahan  yang  dihadapi negara  ini menuntut  cara berpikir  kreatif  bagi aparatur pemerintahnya. Inovasi-inovasi baru juga diharapkan lahir dari hasil-hasil  pemikiran  yang  kreatif  sebagi  usaha  peningkatan  kualitas  layanan birokrasi  kepada  masyarakat. Pemerintah  juga  telah  berupaya  memberikan peluang  dan  bahkan  penghargaan  bagi  daerah-daerah  yang  mampu menerapkan  konsep  kreativitas  dan  inovasi  dalam  penyelenggaraan pemerintahannya.

Seiring  dengan  tuntutan  diatas,  peran  aparatur  juga  sangat menentukan dalam mewujudkan birokrasi yang bersih, akuntabel dan inovatif. Memang  mengubah  pola  pikir  aparatur  memerlukan  waktu  yang  tidak sebentar,  karena  pola  pikir  konvensional  aparatur  yang  terkungkung  dalam frame aturan-aturan kaku sedikit tidaknya harus mendapat perhatian khusus.

 

Untuk  mewujudkan  kreativitas  dan  menciptakan  inovasi-inovasi  baru  dalam kepemerintahan di Indonesia memerlukan aparatur-aparatur yang kreatif dan inovatif,  yang  memiliki  konsep  berpikir  kreatif.  Untuk  mewujudkan  hal  ini membutuhkan  sebuah  perubahan  bagi  aparatur  dalam  melatih  cara berpikirnya kearah berpikir kreatif dan inovatif.

Kreativitas sebenarnya adalah potensi yang dimiliki oleh setiap manusia sejak lahir, dan dapat dibentuk serta dilatih. Untuk itulah sangat penting memberikan pelatihan bagi aparatur dalam merangsang  pola  pikir  kreatifnya,  sehingga  dapat  keluar  dari  kebiasaan-kebiasaan birokrasi yang terkesan kaku selama ini.

Permasalahan yang timbul dan ingin diketahui adalah sebagai berikut :

  1. Apa pengertian berpikir kreatif dan inovatif ?
  2. Bagaimana teknik berpikir kreatif dan inovatif ?
  3. Apakah ada factor penghambatya ?
  4. Bagaimana proses terbentuknya pola pikir yang kreatif inovatif ?
  5. Konsep dan pengertian dasar Kreatif dan Inovasi

 “Kreatif” merupakan kata yang berasal dari bahasa Inggris To Create, yang merupakan singkatan dari : Combine (menggabungkan) –penggabungan suatu hal dengan hal lain Reverse (membalik) –Membalikan beberapa bagian atau proses Eliminate (menghilangkan) –menghilangkan beberapa bagian Alternatif (kemungkinan) – menggunakan cara, bahan dll dengan yang lain. Twist (memutar) –memutarkan sesuatu dengan ikatan Elaborate (memerinci) – memerinci atau menambah sesuatu Jadi, berpikir kreatif berarti :

  • Melepaskan diri dari pola umum yang sudah tertanam dalam ingatan.
  • Mampu mencermati sesuatu yang luput dari pengamatan orang lain.

Banyak pihak yang mendefinisikan pengertian dari Kreatifitas. Menurut Theresia  Amabile,  seorang  ilmuwan  dari  Harvard  Business  School (Presentasi Ciputra University, 2012) kreativitas adalah menghasilkan ide-ide baru  yang  berguna  dalam  bidang  apapun.  Ada  pula  pendapat  lain  yang menyatakan  bahwa  kreativitas  adalah  kemampuan  individu  untuk mempergunakan  imaginasi  dan  berbagai  kemungkinan  yang  diperoleh  dari interaksi dengan ide atau gagasan, orang lain dan lingkungan untuk membuat koneksi  dan  hasil  yang  baru  serta  bermakna  (Departemen  Pendidikan Nasional,  2008).  Artinya  mengembangkan  pemikiran  alternatif  atau kemungkinan  dengan  berbagai  cara  sehingga  mampu  melihat  sesuatu  dari berbagai  sudut  pandang  dalam  interaksi  individu  dengan  lingkungan  sehingga  diperoleh  cara-cara  baru  untuk  mencapai  tujuan  yang  lebih bermakna.  

Jika ditarik  benang  merah dari beberapa pendapat diatas,  dapat  dirinci  bahwa  kreativitas adalah:

  • Kemampuan menemukan ide-ide baru yang original
  • Kemampuan menemukan hubungan-hubungan baru
  • Kemampuan melihat sesuatu dari sudut pandang baru
  • Kemampuan membentuk kombinasi baru

Inovasi  merupakan  suatu  kreasi,  pengembangan dan  implementasi  suatu  produk,  proses  ataupun  layanan  baru  dengan tujuan meningkatkan  efisiensi,  efektifitas  ataupun  keunggulan  bersaing. Theresia  Amabile  dari  Harvard  Business  School  juga  memberikan pendapatnya  mengenai  pengertian  inovasi  yang  cukup  singkat,  yaitu  sukses mengimplementasikan ide-ide kreatif. Dengan kejelasan definisi seperti telah disebutkan diatas, maka selanjutnya akan digunakan istilah “Kreativitas”.

Berikut beberapa pengertian istilah-istilah yang muncul dari definisi diatas :

  • Kreativitas adalah kemampuan mewujudkan suatu ide baru.
  • Inovasi adalah penerapan praktis dari ide yang kreatif.
  • Berpikir kreatif  adalah  suatu  bakat  yang  dibawa  sejak  lahir  dan sekumpulan  keterampilan  yang  dapat  dipelajari,  dikembangkan  dan digunakan untuk memecahkan masalah sehari-hari.
  • Orang kreatif adalah orang yang tidak menghambat kreativitas bawaan mereka dan  yang  memfokuskan  kemampuan  mereka  dalam  berbagai aspek kehidupan.

Inovasi adalah kelanjutan proses dari kreativitas.  Kreativitas  sebagai ide  dasar  dan  inovasi  mewujudkan  ide  itu menjadi sebuah produk yang dapat diakui lingkungan. Mengapa harus diakui ?  Dalam  inovasi,  pengakuan  menjadi  penting,  karena  dengan  adanya pengakuan berarti membuktikan bahwa implementasi ide kreatif benar-benar memiliki  nilai  fungsi  dan  nilai  guna.  Apabila  sebuah  produk  tidak  memiliki fungsi,  maka  belum  dapat  dikatakan  sebagai  sebuah  inovasi.

  1. Teknik Berpikir Kreatif dan Inovatif

Kreativitas  sebenarnya  adalah potensi  yang  dimiliki  semua  orang, tetapi tidak semua orang mampu memanfaatkan potensi ini. Kreativitas bukan bakat alami seseorang tetapi harus dibimbing, dilatih dan dibina serta diasah, karena  hal  ini  sangat  tergantung  dari  kemampuan  berpikir  dan  pemanfaatan pembagian  kerja  otak.  Otak  kiri  saat  ini  paling  banyak  dipergunakan  dalam sistem berpikir seseorang, sedangkan otak kanan hanya sebagian kecil yang mampu memanfaatkan, tetapi pemberdayaan otak kanan dapat dilatih/diasah.

Kecenderungan  pemanfaatan  sistem  kerja  otak  ini  dapat  dilihat  dari  perilaku individu  tersebut,  dimana  bila dominan  menggunakan otak  kiri, mereka  akan lebih  bersifat  logis  dan  sistematis,  sedangkan  yang  bila  menggunakan  otak kanan, cenderung individu tersebut mampu berimajinasi dengan ide-ide diluar kebiasaan.  Menurut Randsepp (Endang Supardi, 2004), ciri-ciri orang yang berpikir kreatif adalah sebagai berikut :

  1. Sensitif terhadap masalah-masalah,
  2. Mampu menghasilkan sejumlah ide besar,
  3. Fleksibel,
  4. Keaslian,
  5. Mau mendengarkan perasaan,
  6. Keterbukaan pada gejala bawah sadar,
  7. Mempunyai motivasi,
  8. Bebas dari rasa takut gagal,
  9. Mampu berkonsentrasi,
  10. Mempunyai kemampuan memilih

 Manusia yang memiliki pemikiran kreatif, menurut A. Roe, memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Melihat sesuatu dengan cara yang tidak biasa,
  2. Keingintahuan,
  3. Menerima dan menyesuaikan yang kelihatannya berlawanan,
  4. Percaya pada diri sendiri,
  5. Tekun,
  6. Dapat menerima perbedaan,
  7. Keterbukaan pada pengalaman,
  8. Independen dalam pertimbangan, pemikiran, dan tindakan,
  9. Membutuhkan dan menerima otonomi,
  10. Tidak hanya tunduk pada standar dan pengawasan kelompok,
  11. Mau mengambil resiko yang telah diperhitungkan.

Intinya,  untuk  dapat  berpikir  kreatif,  harus  mampu  berpikir  diluar kebiasaan/rutinitas,  yang sering disebut dengan istilah berpikir “Out  Of The Box”.

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kreativitas

 

 

Kreativitas  adalah  potensi  yang  dimiliki  setiap  orang,  sehingga kreativitas  sebenarnya  dapat  diasah  dan  dimanfaatkan.  Dalam  proses mengasah kreativitas atau melatih pola pikir kreatif, menurut Edward de Bono (  Endang  Supardi,  2004)  harus  melalui  4  (empat)  proses  perkembangan, yaitu:

  1. Latar Belakang atau Akumulasi Pengetahuan

Kreasi  yang  baik  biasanya  didahului  oleh  penyelidikan  dan  pengumpulan informasi.  Hal  ini  meliputi  membaca,  berbicara  dengan  orang  lain, menghadiri  pertemuan  profesional  dan  penyerapan  informasi  sehubungan dengan  masalah  yang  tengah  digeluti.  Sebagai  tambahan  dapat  juga menerjuni  lahan  yang  berbeda  dengan  masalah  kita  karena  hal  ini  dapat memperluas  wawasan  dan  memberikan  sudut  pandang  yang  berbeda-beda.

  1. Proses Inkubasi

Dalam  tahap  ini  seseorang  tidak  selalu  harus  terus  menerus  memikirkan masalah  yang  tengah  dihadapinya,  tetapi  ia  dapat  sambil melakukan kegiatan  lain,  yang  biasa,  yang  sama  sekali  tidak  ada  hubungannya dengan masalah.  Akan tetapi, ada waktu-waktu tertentu di mana ia harus menyempatkan diri memikirkan masalah ini untuk pemecahannya.

  1. Melahirkan Ide

Ide atau solusi yang selama ini dicari-cari, mulai ditemukan. Terkadang ide muncul pada saat yang tidak ada hubungannya dengan masalah yang ada. Ia bisa muncul tiba-tiba.  Di sini ia  harus dapat  dengan cepat  dan tanggap menangkap  dan  memformulasikan  baik  ide  maupun  pemecahan  masalah lanjutan dari ide tersebut.

  1. Evaluasi dan Implementasi

Tahap  ini  merupakan  tahap  tersulit  dalam  tahapan-tahapan  proses kreativitas  karena  dalam  tahap  ini  seseorang  harus  lebih  serius,  disiplin, dan  benar-benar  berkonsentrasi. 

Pemikir  yang  kreatif,  seperti misalnya wirausaha yang sukses dapat mengidentifikasi ide-ide yang mungkin dapat dikerjakan  dan  memiliki  kemampuan  untuk  melaksanakannya.  Lebih penting  lagi,  ia  tidak  menyerah  begitu  saja  bila  menghadapi  hambatan. Bahkan  biasanya  ia  baru  akan  berhasil  mengembangkan  ide-ide  setelah beberapa kali mencoba. Hal penting lain dalam tahapan ini adalah di mana Wirausaha  mencoba-coba  kembali  ide-ide  sampai  menemukan  bentuk finalnya karena ide yang muncul pada tahap ketiga (c) tadi biasanya dalam bentuk yang tidak sempurna. Jadi, masih perlu dimodifikasi dan diuji untuk mendapatkan bentuk yang baku dan matang dari ide tersebut.

[ 1 ] Akumulasi Pengetahuan

[ 2 ] Inkubasi

[ 3 ] Melahirkan Ide

[ 4 ] Evaluasi dan Implementasi

Dalam proses keempat, yaitu Evaluasi dan Implementasi inilah posisi untuk mewujudkan  ide-ide  kreatif itu  menjadi  produk  yang  inovatif,  yang  memiliki nilai tambah. Memunculkan pemikiran kreativitas seseorang sangat tergantung dari faktor-faktor  yang  mempengaruhi,  baik  yang  menghambat  maupun  yang mendukung. 

Faktor-faktor  yang mempengaruhi  perkembangan kreativitas seseorang dapat  dibagi  menjadi  2  (dua)  bagian,  yaitu  Faktor  Internal  dan Faktor Eksternal (menurut Ciputra University, 2012) :

Faktor Internal :

  1. Penggunaan Otak (belahan otak kiri atau otak kanan)

Melatih  penggunaan  otak  kanan  melalui latihan-latihan  kreatif  dapat membantu mempercepat berkembangnya pola pikir kreatif.

  1. Rasa percaya diri (berpikir positif)

Rasa  percaya  diri  dan  berpikir  positif  akan  memberikan  motivasi  dan keberanian  bagi  seseorang  untuk  terus  mencoba  dan  mencoba  serta melahirkan jiwa optimistis untuk mencoba sesuatu yang berbeda.

  1. Kebiasaan (statis – dinamis)

Kebiasaan-kebiasaan  atau  adat  istisadat  seringkali  berdampak terhadap kebiasaan hidup seseorang. Mereka yang hidup di lingkungan yang  serba  kaku  dan  dengan  adat  yang kuat  akan  berbeda  dengan mereka  yang  hidup  di  lingkungan  yang  dinamis,  yang  selalu  memberi ruang  untuk  perkembangannya.  Kebiasaan  yang  telah  terpola  akan sulit untuk dilakukan perubahan atau bila memungkinkan, perlu proses yang lebih lama.

Faktor Eksternal :

  1. Peluang / kesempatan (di rumah, kantor, lokasi lain)

Peluang  /  kesempatan  sangat  menentukan  perkembangan  pola  pikir kreatif  seseorang.  Kondisi  yang  memberikan  peluang  bagi  kreativitas akan  mendorong  motivasi  seseorang  untuk  dapat  terus  berkarya  dan terus mencoba sesuatu yang baru dan berguna bagi kehidupannya.

  1. Tantangan (situasi yang sulit, budaya kerja, kondisi lingkungan)

Tantangan yang sulit dan berat senantiasa akan membatasi kreativitas seseorang, apalagi bila orang tersebut tidak memiliki faktor pendukung internal.  Tantangan  akan  membuat  seseorang  untuk  menghindari resiko  yang  mungkin  akan  dialami  sehingga  kreativitasnya  pun  akan sulit  untuk  dikembangkan. Hal ini dapat dicontohkan pada “ketakutan” kepala  daerah  untuk  berinovasi,  karena  tidak  ada  aturan  jelas  yang memayungi  kebijakan  inovasi,  bahkan  kecenderungan  mengarah menjadi pelanggaran administrasi.

  1. Pendidikan (formal / informal)

Pendidikan  menjadi  penting,  karena  berhubungan  dengan  wawasan yang  dimiliki  seseorang.  Tingkat  pengetahuan  akan  menumbuhkan perbedaan motivasi. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin besar peluang kreativitas untuk tumbuh. Bila  dilihat  dari  keberlangsungan  proses,  ada  pula  faktor  yang mempengaruhi  cara berpikir  kreatif  ini,  yaitu  faktor  penghambat  dan faktor pendorong.

Faktor Penghambat :

  1. Sikap negatif
  2. Takut gagal
  3. Stress yang berlebihan
  4. Taat pada aturan
  5. Membuat asumsi
  6. Terlalu mengandalkan logika
  7. Merasa tidak kreatif

                Faktor Pendorong :

1.Perubahan sikap

2.Tehnik mengambil resiko

3.Mampu menyalurkan stress

4.Melanggar aturan

5.Memeriksa asumsi

6.Menggunakan imajinasi dan intuisi

7.Yakin kalau kreatif

  1. Proses terjadinya pola pikir yang kreatif dan inovatif

Pola  pikir  adalah  pola–pola  yang  menjadi  acuan  utama seseorang  untuk  bertindak. Selanjutnya  dikatakan  bahwa  pola  pikir  adalah pola  yang  menetap  dalam  pikiran bawah  sadar  seseorang. Pikiran  bawah sadar  ini  adalah  gudang  penyimpanan  seluruh  informasi.  Pengalaman-pengalaman masa kecil tersimpan permanen dalam “gudang” ini. Pola  pikir kreatif  dapat  dijabarkan  dalam  2  bentuk,  yaitu  pola  penemuan dan  bukan penemuan.

  1. Penemuan  (dari  sesuatu  yang  belum  ada  menjadi  ada)

Kesalahan, Perbaiki, Perubahan

Kesalahan : Suatu saat Anda memiliki ide, kemudian Anda lakukan atau Anda coba ide  tersebut,  ternyata  gagal.  Perbaiki  ide  tersebut  sampai  berhasil, jadilah ide baru. Belajar dari kesalahan. Kesalahan bisa menghasilkan ide  baru  yang  lebih  baik.  Tanyakanlah  terhadap  ide  lama  Anda  yang gagal,  apa  pelajaran  dari  ide  tersebut,  bisakah  dilakukan  lagi  dengan cara baru.

Perbaiki :

Jangan  berpikir  bahwa  kreatif  itu  hanya  membuat  hal-hal  yang  baru. Justru  salah,  karena  manusia  tidak  pernah  membuat  hal  yang  baru. Hanya  Tuhan  yang  bisa.  Manusia  hanya  bisa  menemukan  apa yang belum ditemukan oleh orang lain, manusia hanya bisa mengubah atau menggabungkan hal-hal perbaiki terus tiap kesalahan yang terjadi pada ide  kreatif  anda,  atau  bila  tidak  memungkinkan,  manfaatkan  yang sudah ada, sekali lagi bukan menciptakan hal yang baru. Jadi jika Anda ingin kreatif Anda bisa mulai dengan barang yang ada di depan Anda, perbaikan apa yang bisa Anda lakukan terhadap barang tersebut.

Perubahan :

Jangan terpaku dengan ide lama. Bagaimanapun suksesnya ide Anda pada  waktu  yang  lalu,  belum tentu  akan  berhasil  lagi  pada  saat  ini. Evaluasi  lagi,  tidak  masalah  mengeliminasi  ide  Anda  sendiri  yang sukses  untuk  mendapatkan  ide  baru  yang  lebih  baik.  Termasuk  juga disini saat ide Anda disisihkan oleh ide orang lain, jangan sedih karena meskipun  tidak  disisihkan  oleh  orang  lain,  Anda  harus  menggantinya sendiri jika ide Anda tersebut sudah tidak relevan.

  1. Bukan penemuan (dari  sesuatu  yang  sudah  ada)   Amati,  Tiru, Modifikasi.

 Pola  ini  banyak  dilakukan  saat  ini.  Inovasi-inovasi  baru  juga  banyak diawali  dari  ide-ide  kreatif  dengan  pola  yang  dikenal  dengan  istilah  ATM ini.

   Amati :

Individu  yang  kreatif  tidak  harus  ditandai  dengan  penemuan  sebuah produk,  tetapi  juga  bisa  melakukan  perubahan  terhadap  suatu  produk yang sudah ada. Hal ini biasanya dimulai dari tahap mengamati suatu produk yang akan dijadikan objek kreativitas. 

Tiru :

Setelah  pengamatan  terhadap  objek  yang  menjadi  fokus  kreativitas, maka  akan  dilakukan  peniruan.  Peniruan  ini  memiliki  nilai  positif, dimana sudah tidak melalui proses try and error, sebab objeknya sudah ada (bukan produk baru).

Modifikasi :

Tahap ini mulai memainkan kreativitas, dimana produk yang sudah ada ini  dilakukan  modifikasi  secukupnya  sehingga  menghasilkan  produk yang memiliki nilai tambah dan nilai komersil. Penulis  sendiri  memiliki  pendapat  bahwa  untuk  memancing  kreativitas dapat dilakukan dengan “Pola TaKUT KO” (Tambah, Kurang, Ubah, Tiru, Kombinasi).

Pembentukan Pola Pikir berdasarkan dari tahapan tersebut diatas, maka menurut hemat kami bahwa proses terbentuknya pola pikir dapat berasal dari 3 sumber :

  1. Bersumber dari genetika/keturunan

Seorang  anak  secara  garis  keturunan  akan  mewarisi  sifat  salah  satu (dominan) atau kedua orang tuanya.

  1. Bersumber dari proses sosial

Anda  mungkin  tahu  kalau  Tarzan  yang  seorang  manusia  namun kelakuannya seperti monyet, itu dikarenakan dia dididik di lingkungan sosial monyet. 

Jika  anda  hidup  di  lingkungan  preman,  maka  bersiap  siaplah  anda menjadi  preman,  jika  anda  hidup  di  lingkungan  orang  orang  yang saleh  dan  taat  beragama,  maka  bersyukurlah  anda  karna  mau  tak mau anda akan mengikuti mereka. Inilah bentuk bahwa proses sosial / interaksi sosial seseorang ikut berperan dalam pembentukan pola pikir orang bersangkutan.

  1. Imprinting

“Imprint” adalah peristiwa masa lalu yang sangat  membekas. Imprint dapat  bersifat  positip  maupun  negatif.  “Imprinting”  (penanaman, pencapan) yaitu “satu reaksi tingkah laku yg diperoleh orang selama usia masih sangat muda dalam kehidupan”.

 Untuk  dapat  berpikir kreatif dan inovatif adalah berpikir “Out of The Box”, artinya, berusaha berpikir di  luar  kebiasaan  dan  mencoba  melihat realita  dari  sisi  yang  berbeda  dari kebiasaan. Di bidang tata kelola pemerintahan, banyak inovasi dilakukan oleh pemerintah  daerah  antara  lain  terkait  dengan  upaya  pengembangan  sistem transparansi,  mekanisme  penanganan  aduan  masyarakat,  dan pengembangan  forum-forum  lintas  pemangku  kepentingan  dalam  rangka meningkatkan partisipasi masyarakat.

 

Dalam  aspek  pelayanan  publik,  banyak  praktik  inovasi  ditemukan  di sektor  pendidikan  dan  kesehatan  dengan  orientasi  utama  meningkatkan akses dan kualitas pelayanan. Beberapa daerah seperti Makasar, Bandung, Banjarmasin,  dan  kota lainnya, merupakan  sederetan  daerah  yang  dikenal produktif dalam menghasilkan terobosan-terobosan inovatif.

Untuk  menjadi  aparatur  yang  kreatif,  tetap  dipengaruhi  oleh  faktor internal  dan  eksternal,  yaitu  individu  aparaturnya  (internal)  dan  lingkungan kerja,  termasuk  payung  hukum (eksternal).  Semarak  inovasi  di tingkat  lokal dan  nasional  ternyata  hingga  saat  ini  belum  disertai penyediaan  payung hukum  yang  kuat  bagi  para  inovator  di  daerah.  Dalam  banyak  hal,  inovasi yang dilakukan sering berbenturan dengan kekakuan rezim administrasi yang berlaku.  Tak  jarang  inovasi  yang  bertujuan  memperbaiki  pelayanan  publik justru  dipandang  sebagai  praktik  pelanggaran  administrasi  yang  memiliki implikasi hukum.

  1. Kesimpulan

Dari uraian dan pembahasan di atas berkenaan dengan berpikir kreatif dan inovasi, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

  1. Berpikir kreatif  adalah  suatu  bakat  yang  dibawa  sejak  lahir  dan sekumpulan  keterampilan  yang  dapat  dipelajari,  dikembangkan  dan digunakan untuk memecahkan masalah sehari-hari.
  2. Inovasi adalah penerapan praktis dari ide yang kreatif.
  3. Hasil  kreativitas  baru  dapat  dikatakan  sebagai  sebuah  inovasi  jika  telah diterima  oleh  pasar  dan  memiliki  nilai  guna  dalam  membantu memecahkan masalah kehidupan.
  4. Kreativitas  adalah  potensi  yang  dimiliki  oleh  setiap  manusia  sejak  lahir dan dapat dibentuk serta dilatih.
  5. Pola pikir kreatif pada dasarnya dapat dibedakan kedalam 2 model, yaitu Pola Penemuan  (kesalahan,  perbaiki,  perubahan)  dan  Pola  Bukan Penemuan (ATM / Takut KO)
  6. Untuk menunjang  dan  mendukung  terwujudnya  aparatur  yang  memiliki pola  pikir  kreatif  dan  inovasi  harus  didukung  oleh  faktor  internal  dan eksternal

 

 

 

 

 

 

  1. Bahan bacaan
  2. Endang Supardi, Drs, M.Si, Kiat Mengembangkan Sikap Kreatif dan Inovatif, Direktorat  Pendidikan  Menengah  Kejuruan-Direktorat  Jenderal  Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2004
  3. _______, Kreativitas, Direktorat  Tenaga  Kependidikan-Direktorat  Jenderal Peningkatan  Mutu  Pendidik  dan  Tenaga  Kependidikan,  Departemen Pendidikan Nasional, 2008
  4. http://bisnis.liputan6.com/read/783906/tahun-depan-pns-yang-kreatif-inovatif-dapat-tunjangan-kerja (diakses tanggal 8 Januari 2014)