logo-responsive

KEPEMIMPINAN RASULULLAH

MEMBENTUK KARAKTER PEMIMPIN

BERDASARKAN AKHLAK KEPEMIMPINAN RASULULLAH

Oleh H.Yasir Arafat,  M.Pd

  1. Pendahuluan

 

Menurut Kamus Bahasa Indonesia,  pemimpin sering disebut penghulu,  pemuka,  pelopor,  pembina, panutan, pembimbing, pengurus, penggerak,  ketua,  kepala, penuntun,  raja,  tua-tua,  dan sebagainya. Sedangkan istilah memimpin digunakan dalam konteks hasil penggunaan peran seseorang berkaitan dengan kemampuannya mempengaruhi orang lain dengan berbagai cara. Istilah pemimpin,  kepemimpinan dan memimpin pada mulanya berasal dari kata dasar yang sama,  pimpin . Namun demikian ketiganya digunakan dalam konteks yang berbeda.

Pemimpin jika dialihbahasakan ke  Bahasa Inggris menjadi LEADER,  yang mempunyai tugas untuk me- LEAD anggota disekitarnya. Makna LEAD adalah:

  1. LOYALITY

Seorang pemimpin harus mempu membangkitkan loyalitas rekan kerjanya dan memberikan loyalitasnya dalam kebaikan.

  1. EDUCATE

Seorang pemimpin mampu mengedukasi rekan-rekannya dan mewariskan knowledge pada rekan-rekannya.

  1. ADVICE

Memberikan saran dan nasehat dari permasalahan yang ada.

  1. DISCIPLINE

Memberikan keteladanan dalam berdisiplin dan menegakkan kedisiplinan dalam aetiap aktivitasnya.

Banyak ayat al Quran yang secara tersirat maupun tersurat berbicara masalah kepemimpinan,  misalnya dalam surah  Al-Shâd ayat 26. Bismillahirrahmanirrahim. Yâ dâwûdu innâ ja’alnâka khaliîfatan fil ardli fahkum baynan nâsi bil ‘haqqi,  wa lâ tattibi’il hawâ,  fayudillaka ‘an sabîlillâhi,  innallazîna yadillûna ‘an sabîlillâhi lahum ‘azâbun syadîdun bima nasû yawmal hisâb.” Artinya,  “Wahai Dawud,  telah kami jadikan Engkau khalifah di muka bumi,  tegakkan hukum di antara manusia dengan benar dan jangan Engkau ikuti hawa nafsu yang akan menyelewengkanmu/ menyimpangkanmu dari jalan Allah swt. Sesungguh orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah,  bagi mereka azab yang pedih yang mereka lupakan pada hari perhitungan.”

Di dalam ayat ini Allah menggunakan kata-kata “innâ”,  yang berarti “kami.” Penggunaan “inna”,  selain untuk memuliakan Allah dan bentuk jamak,  adalah menunjukkan keterlibatan kita sebagai manusia yang menjadikan “Dawud” sebagai khalifah. Artinya,  Allah melibatkan ‘masyarakat’ pada masa Dawud di dalam penunjukkan pemimpin dan dalam pengawasannya. Kita bisa ambil pelajaran dari ayat ini bahwa di dalam kepemimpinan: ada yang memimpin dan ada yang dipimpin. Itu artinya,  menuntut adanya keterlibatan semua pihak. Tegasnya,  masyarakat pun harus ikutserta dan mengawasi jalannya kepemimpinan itu. Apa yang harus diawasi dalam kepemimpinan itu? Jawabnya adalah AMANAH.

Kemudian Allah swt. juga berfirman di dalam al Quran surah Al-Ahzâb ayat 72,  bismillahirrahmanirrahim. Innâ ‘aradlnâl amânata ‘alas samawâti wal ardli wal jibâli fa’abayna ayyahmilnahâ wa asyfaqna minhâ,  wa hamalahal insânu,  innahu kâna zalûman jahûlan. Artinya: “Sesungguhnya kami telah menawarkan amanah kepada langit,  bumi dan gunung-gunung,  tetapi mereka semua tidak mau dan merasa berat (dengan amanah tersebut),  lalu manusia yang (menerima amanah itu) dan memikulnya,  sesungguhnya manusia itu zalim dan jahil.”

 

Apakah makna amanah di dalam ayat tersebut? Imam Jalaluddin al-Suyuthi menjelaskan di dalam tafsirnya al-Durr al-Mansûr fi al-Tafsîr bi al-Ma’sûr,  jilid 6,  hlm. 518,  bahwa kata amanah berarti bimâ umirû lahu wa mâ nuhû ‘anhu,  apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang Allah SWT. Jadi,  amanah adalah tanggung jawab untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Artinya,  seorang pemimpin harus melaksanakan program apapun untuk kepentingan umum yang sesuai dengan aturan dan prinsip yang telah Allah tetapkan di dalam Alquran.

 

Menunaikan amanah ini penting dan wajib hukumnya bagi setiap orang yang diberi amanah. Allah SWT.,  berfirman di dalam al Quran surah Al-Nisâ’ayat 58. Bismillahirrahmanirrahim. Innallâha ya’murukum an tu’addul amânâti ilâ ahlihâ,  wa izâ hakamtum baynan nâsi,  an tahkumû  bil ‘adli (…). Artinya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang ahlinya (yang berhak menerima amanah itu),  dan jika kalian memutuskan suatu persoalan di antara manusia,  putuskanlah dengan adil…”

Jadi,  pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang melakukan suatu hal yang sesuai dengan aturan yang Allah buat. Aturan itu adalah yang bersifat semuanya baik,  antara lain: bersikap adil. Tapi,  kira-kira pemimpin macam apa yang bersifat amanah dan adil ini? Siapa yang menjadi teladan bagi kita? Tidak lain,  tentunya,  Rasulullah SAW.,  Berdasarkan al Quran surah Ali-Imran ayat 59 bahwa ciri akhlak Rasulullah di dalam memimpin: bersikap lembut,  selalu meminta maaf dan memaafkan,  bermusyawarah,  dan terakhir memasrahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT. (tawakal). Selain keempat sifat terpuji ini,  yang paling luar biasa dari teladan kepemimpinan Rasulullah adalah sikap beliau yang sangat sederhana.

Rasulullah orang yang sangat sederhana dalam kehidupan sehari-harinya. Anas Ibn Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah hanya punya 1 sho’ (sekitar 500 gram) gandum untuk pagi dan 1 sho’ lagi untuk sore. Jatah gandum itu untuk memberi makan 9 rumah yang menjadi Tanggung jawab Rasulullah. Kesederhaanaan Rasulullah sebagai pemimpin semakin terbukti ketika beliau wafat. Saat Rasulullah wafat,  ia tidak meninggalkan apapun. Diriwayatkan bahwa saat Rasulullah wafat,  baju besinya tergadaikan pada seorang Yahudi untuk mendapatkan satu (wasaq/karung) gandum,  anna rasûlûllâh saw. tuwuffiya,  yawma tuwuffiya wa dir’uhu marhûnatun ‘inda rojulim minal yahûdi biwasaqin min sya’îrin (akhlaqun nabiyy,  abu al-syaikh al-isbahani). Di dalam riwayat lain,  bahwa saat Rasulullah meninggal,  beliau tidak meninggalkan apapun,  (wa lâ dînaran) tidak 1 dinar,  (wa lâ dirhaman) tidak 1 dirham,  (wa lâ ‘abdan) tidak budak lelaki,  dan (wa lâ amatan) tidak juga budak perempuan.

  1. Pembahasan

Siapakah yang paling cocok dicontoh sebagai karakter pemimpin? Jawabannya adalah Nabi Muhammad karena tidak ada yang dapat menandingi akhlak mulia Rasulullah SAW.. Beliau memiliki akhlak dan sifat mulia yang jika kita pelajari,  dapat menjadi kunci sukses untuk melewati lika-liku kehidupan. Di zaman sekarang,  terasa asing jika kita mengamalkan yang diajarkan Rasulullah SAW.. Namun,  banggalah,  bangga menjadi yang berbeda dari biasanya. Bangga karena berusaha untuk menjadi umat nabi dan berusaha mencapai kebahagiaan dunia akhirat.

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu,  yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah, ” (Q.S. Al Ahzab: 21).

Nabi Muhammad SAW.,  memiliki sifat dan karakter,  seperti  sidik,  amanah,  fatanah,  dan tablig Dan sifat itu pula yang menjadi bagian dalam hidup beliau saat memimpin kaum muslimin.

  1. Sidik

Sidik berarti benar. Benar dalam perkataan maupun perbuatan. Kadang-kadang kita terlalu banyak berkata-kata tanpa hasil yang sejalan. Banyak kata yang dilontarkan,  bahkan kadang-kadang berbohong hanya untuk mendapat pujian saja. Sadarkah kita bahwa kita hanya manusia yang lemah? Oleh karena itu,  perbanyak zikir dan menyebut nama Allah SWT.

2.    Amanah

Amanah memiliki arti benar-benar dapat dipercaya. Mengapa Rasulullah dijuluki gelar ‘Al–Amin’? Nabi Muhammad berhak mendapatkan gelar mulia itu karena beliau selalu mengerjakan dengan sebaik-baiknya jika ada urusan yang menjadi tanggung jawabnya. Setiap kata yang diucapkan Nabi Muhammad adalah kejujuran. Belajar dari sifat Nabi tidak semudah teori yang ada. Di zaman sekarang,  nilai amanah semakin luntur.

3.    Tablig

Sifat Nabi selanjutnya adalah tablig yang berarti menyampaikan. Sebagai umat muslim,  kita memiliki kewajiban untuk menyampaikan kebenaran,  meskipun pahit. Sering terdengar kata,  “Sampaikanlah,  meski hanya satu ayat.”

“Supaya Dia mengetahui bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya,  sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi yang ada pada mereka dan Dia menghitung segala sesuatu satu per satu, ” (Q.S. Al Jin: 28).

4.    Fatanah

Fatanah berarti cerdas. Nabi Muhammad adalah suri teladan yang luar biasa cerdas. Nabi mampu menerima dan menyampaikan 6.236 ayat Alquran,  kemudian menjelaskan dalam puluhan ribu hadis. Cerdas bukan berarti sesuatu yang harus sempurna di bidang akademik saja,  melainkan juga berpikir terbuka dan berbeda. Artinya,  kita harus aktif dan memandang sesuatu dari segi kebaikan.

Karakter pemimpin yang ideal tidaklah datang begitu saja. Pemimpin tidak hanya memerintahkan,  tetapi juga bergerak dan mencontohkan.

Hal ini sesuai dengan teori kepemimpinan,  diantara prinsif kepemimpinan ideal adalah sebagai berikut:

  • Tanggung Jawab

Jabatan itu amanah dan setiap amanah akan di pertanggungjawabkan dunia dan akhirat

  • Kolegialitas

Yaitu prinsif kebersamaan yang dijalankan dalam organisasi,  sebab organisasi tersebut bukan milik pribadi melainkan milik bersama,  sehingga semua menjadi tanggung jawab bersama.

  • Musyawarah

Segenap keputusan, pelaksanaan, kebijakan dan pengembalian organisasi yang dijalankan senantiasa bersumber pada hasil musyawarah

  • Organisatoris

Kepemimpinan yang dijalankan sesuai dengan kebijaksanaan dan prinsif organisasi,  peraturan organisasi,  AD/ART dan peraturan lainnya.

  • Semangat Beribadah

Tugas kepemimpinan adalah perwujudan dan aplikasi keberagamaan,  maka semua kegiatan harus dengan “nawaitu” yang ikhlas dan semata-mata karena Allah SWT.

Kepemimpinan merupakan sebuah modal yang harus dimiliki oleh para pemimpin yang hendak menjadi pemimpin. Biasanya,  masing-masing pemimpin memiliki model mereka sendiri dalam memimpin sebuah organisasi baik formal maupun non-formal atau organisasi yang sangat besar. 

Model kepemimpinan dibagi menjadi 5 gaya kepemimpinan,  yaitu

  1. Otokratis
  2. Militeristis
  3. Paternalistis
  4. Kharismatik, dan
  5. Demokratis

Dari kelima model kepemimpinan di atas masing-masing ada penganutnya. Namun yang paling berhasil dan paling fenomenal seorang pemimpin yang pernah ada di dunia ini adalah Rasulullah SAW. Beliau berhasil karena mampu mengkombinasikan kelima model kepemimpinan di atas sehingga model kepemimpinan yang dianut oleh beliau menjadi sempurna. 

Hampir tidak ada sejarah yang menceritakan kecacatan yang Rasulullah lakukan selama beliau menjadi pemimpin. Hal ini dilakukan karena dari model-model terdapat kelemahan dan juga kelebihan dari masing-masing model kepemimpinan tersebut. Selain itu,  yang tidak boleh dilupakan adalah pribadi dari seorang pemimpin itu. Rasulullah sebagai pemimpin merupakan anugerah tersendiri,  atau keistimewaan yang diberikan Allah kepada Rasulullah SAW. Karena pada dasarnya Rasulullah adalah utusan terakhir untuk seluruh umat manusia.

        Rasulullah SAW adalah contoh pemimpin sempurna yang pernah ada selama ini. Karena beliau mengkombinasikan antara akhlakul karimah dengan model kepemimpinan yang ada. Kekuatan akhlak yang Rasulullah miliki mampu menciptakan kekuatan baru yang sangat luar biasa. Dengan kekuatan itu,  Rasulullah menjadi mampu menegakan dan menyebarkanajarannya keseluruh penjuru dunia. Walaupun begitu,  karena kemuliaannya tadi,  tidak ada rasa sombong,  ujub atau membanggakan diri sedikitpun yang timbul pada diri Rasulullah SAW.
         Inilah yang membedakan Rasulullah dengan pemimpin-pemimpin yang ada saat ini. Mereka sangat haus dengan kedudukan,  harta,  bahkan hal-hal yang menurut mereka dapat membuatnya kaya di dunia ini,  sehingga mereka dapat menjalankan segala keinginan mereka sesuai nafsu yang mereka inginkan. Oleh karena itu,  ketika ada pertanyaan model kepemimpinan apa yang harus kita jalankan,  maka jawaban yang harus timbul adalah poin yang keenam yaitu model atau gaya kepemimpinan Rasulullah SAW. Hal ini dikarenakan Rasulullah SAW-lah seorang pemimpin yang sudah diakui oleh dunia dalam berbagai hal,  baik dari segi akhlak dan kemampuan-kemampuan yang lainnya. Oleh karena itu,  pemimpin yang relevan dengan keadaan saat ini adalah seorang pemimpin yang paling mengenal siapa itu Nabi Muhammad SAW dan mengamalkan segala bentuk ajaran/risalah yang beliau bawa. Selain itu pemimpin saat ini haruslah benar-benar memusatkan perhatiannya terhadap amanah yang ia emban. Dan yang perlu diterapkan adalah keadilan yang harus ditegakan dalam kinerjanya kelak.

Sejarah dan kebudayaan Islam sebagaimana yang ditulis Hasan Ibrahim (2001:141) menguraikan bahwa kesuksesan kepemimpinan Rasulullah SAW antara lain disebabkan oleh:

  • Ketika memimpin,  beliau mengunakan sistem musyawarah.
  • Beliau menghargai orang lain,  baik lawan maupun kawan.
  • Sifat ramah,  kelembutan perangai menjadi lekat dengan pribadi beliau,  akan tetapi beliau juga dapat bersifat tegas ketika dibutuhkan.
  • Lebih mementingkan umat daripada diri sendiri.
  • Cepat menguasai situasi dan kondisi,  serta tegar menghadapi musuh.
  • Sebagai koordinator dan pemersatu ummat.
  • Prestasi dan jangkauan beliau di segala bidang.
  • Keberhasilan beliau sebagai perekat dasar-dasar perdamaian dan penyatu kehidupan yang berkesinambungan.
  • Beliau merupakan pembawa rahmat bagi seluruh alam.
  • Beliau menerapkan aturan dengan konsisten. Tidak memandang bulu dan tidak pilih kasih.
  1. Penutup

Dari Uraian diatas dapat diambil simpulan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelopmpok orang untuk mencapai tujuan tertentu pada situasi tertentu.Kepemmpinan merupakan masalah sosial yang didalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin dengan pihak yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama,  baik dengan cara mempengaruhi, membujuk,  memotivasi, dan mengkoordinasi.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa tugas utama seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya tidak hanya terbatas pada kemampuannya dalam melaksanakan program-program saja,  tetapi lebih dari itu yaitu pemimpin harus mampu melibatkan seluruh lapisan organisasinya,  anggotanya,  atau masyarakatnya untuk ikut berperan aktif sehingga mereka ikut bertanggung jawab dalam mencapai visi dan misi sebuah organisasi.

Dan tentu saja untuk mencapai visi dan misi dalam sebuah organisasi,  maka pola kepemimpinan Rasulullah SAW.,  adalah yang paling ideal dengan cara menerapkan empat (4) karakter atau sifat beliau,  yaitu : sidik,  amanah,  tablig dan fatanah

 

 

 

Daftar Bacaan

 

Hasan Ibrahim 2001,  Sejarah dan kebudayaan Islam.

Imam Jalaluddin al-Suyuthi  al-Durr al-Mansûr fi al-Tafsîr bi al-Ma’sûr,  jilid 6,  hlm. 518

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) 2010,  Kemendikbud-Pusat Bahasa Jakarta

Serbaserbi.com. Kepemimpinan Rasulullah SAW (diunduh tanggal 1 Nopember 2017. Pukul 12.15.wita)

Terjemah Al Quran ,  2014. Kementerian Agama RI

Ust. Ayang Utriza Yakin. 2017. Akhlak Kepemimpinan Rasulullah SAW.

Wibby Al dryani. 2016. 4 Sifat Kepemimpinan Rasulullah.