logo-responsive

KONSELING PENDIDIKAN



KONSELING  PENDIDIKAN

Oleh :

H. Abdul Hamid.S,Ag M.M.Pd.

Widyaiswara Ahli Madya IV/b

 

Abstrak

Bimbingan konseling dalam dunia pendidikan berkaitan dengan masa depan generasi muda yang akan memimpin bangsa ini ke depan. Bimbingan konseling dalam bentuk pendidikan yang berupa asih asuh dan asah. Dalam dunia pendidikan di sekolah dasar layanan bimbingan berfungsi untuk membantu anak didik dalam mengatasi masalah-masalah belajar serta masalah-masalah pribadi yang berpengaruh pada kebutuhan belajar. Salah satu faktor kesuksesan yang menentukan program ini adalah konselor. Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik.

Di dalam menjalankan tugasnya konselor memiliki tanggung jawab penuh terhadap fungsi bimbingan serta mempunyai keahlian khusus dalam bidang bimbingan yang tidak dapat dikerjakan oleh guru biasa, selain itu konselor harus memiliki sifat-sifat yang mencerminkan seorang pembimbing yang mampu mengarahkan dan juga mempunyai tugas-tugas untuk menjalankan bimbingan konseling di sekolah. Peranan yang utama seorang konselor adalah tugasnya, tugas guru bimbingan dan Konselor berhubungan dengan pengembangan diri peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan,potensi,bakat,minat,dan kepribadian peserta didik di sekolah.

Kata Kunci : Konseling Pendidikan.

 

 

 

I.                   Pendahuluan

             Latar Belakang

Memiliki anak yang berprestasi dan dapat mengikuti pelajaran sekolah dengan baik tentunya menjadi satu kebanggaan tersendiri bagi para orang tua. Banyak cara yang bisa dilakukan orang tua untuk membuat anaknya memiliki prestasi tersendiri. Walaupun sebenarnya tidak setiap anak memiliki kemampuan yang sama dalam menerima pelajaran baru, beradaptasi dengan lingkungan baru dan melakukan berbagai kegiatan akdemik lainnya.

Sementara banyak orang tua yang ingin anak-anak mereka untuk tampil baik di sekolah. Sehingga mereka akhirnya menekan mereka untuk mencapai keberhasilan. Tapi ketika ketika anak-anak mereka gagal untuk melakukan yang baik dalam kegiatan akademik atau lainnya, mereka akan dihukum. Ini sebenarnya menjadi tanggung jawab orang tua untuk memahami masalah mendasar yang dihadapi anak dan mengetahui bagaimana cara mengatasi anak yang lambat dalam belajar. Anak memiliki tingkat yang berbeda dari belajar, salah untuk menempatkan mereka semua pada satu platform karena mereka memiliki yang berbeda dalam belajar akademis dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

Menurut Abu Ahmadi ( 2011 ) Banyak anak-anak yang gagal untuk memahami pelajaran yang diajarkan atau tidak dapat memahami penjumlahan matematika seperti anak-anak lain yang sering disebut sebagai lambat belajar. Penting untuk dicatat bahwa, anak yang lambat belajar tidak dapat dikatagorikan sebagai anak-anak yang memiliki masalah khusus, tetapi mereka hanya memiliki masalah dalam belajar, mereka sering mengalami kendala belajar hal baru; menghadapi kesulitan dalam belajar dan menghafal konsep-konsep baru dengan cepat. Oleh karena itu, merupakan peran orang tua dan guru untuk membantu anak-anak dalam mengatasi masalah tersebut.

 

II.                Pembahasan

 

A.      Tugas Dari Konseling Dalam Pendidikan

Menurut Oemar Hamalik ( 2010 ) Dalam dunia pendidikan tugas guru bimbingan dan konseling/konselor yaitu membantu peserta didik dalam:

1.         Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai bakat dan minat.

2.         Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan social dan industrial yang harmonis, dinamis, berkeadilan dan bermartabat.

3.         Pengebangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar untuk mengikuti pendidikan sekolah/madrasah secara mandiri.

4.         Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.

Menurut Prayitno dan Amti (2013; 37  ) keberadaan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dipertegas lagi oleh Peraturan Pemerintah No.29 Tahun 2012  (tentang Pendidikan Menengah) menyebutkan bahwa:

1.         Bimbingan dalam rangka menemukan pribadi siswa, dimaksudkan untuk membantu siswa mengenal kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya.

2.         Bimbingan dalam rangka mengenal lingkungan, dimaksudkan untuk membentuk siswa untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan social, ekonomi, budaya, serta alam yang ada.

3.         Bimbingan dalam rangka merencanakan masa depan, mempersiapkan diri untuk langkah yang dipilihnya setelah tamat belajar pada sekolah menengah serta karier dan masa depannya.

Dari pemaparan diatas dapat kita lihat bahwa seorang konseling memang sangat berpengaruh dan berperan sangat dalam mengarahkan serta membimbing suatu individu (siswa) dalam masa pengembangan dirinya. Karena tujuan dari pemberian bimbingan ialah supaya setiap murid berkembang sejauh mungkin untuk mengambil manfaat sebanyak mungkin dari pengalamnnya di sekolah, mengingat ciri-ciri pribadinya dan tuntunan kehidupan dalam masyarakat sekarang.

 

B.       Kesulitan Belajar Yang Dihadapi Oleh Siswa

Menurut Pertowisarto ( 1997 ) Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru, berkat pengalaman dan pelatihan.

1.        Learning Disorder ( kekacauan belajar )

Keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena adanya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respon-respon yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh: siswa yang sudah terbiasa dengan membaca, menulis dan sejenisya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah gemulai.

2.        Learning Disfunction

Merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh: siswa yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.

3.         Under Achiever

Mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tngkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh: siswa yang telah di tes kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ= 130-140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.

4.         Slow learner ( lambat belajar )

Slow learner adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang lebih tinggi.

5.        Learning Disabilities ( ketidakmampuan belajar )

Mengacu pada gejala dimana siswa sulit atau tidak mampu belajar dan menghindari belajar, sehingga hasil belajar dibawah potensial intelektualnya.

Setelah kita lihat dari berbagai jenis kesulitan diatas maka siswa akan mengalami berbagai tanda atau gejala ditandai dengan sikap:

1)             Hasil belajar rendah.

2)             Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan.

3)             Menunjukkan sikap yang kurang wajar, suka menentang, dusta dan sebagainya.

4)             Menunjukkan gejala emosional diri yang tidak wajar (mudah tersinggung, melamun, pemarah dan sebagainya).

Menurut Winkel  ( 2000 ) ada beberapa alasan atau sebab yang

menghambat serta mengganggu proses belajar siswa, diantaranya yaitu:

1)             Disebabkan oleh gangguan tubuh.

2)             Disebabkan oleh kecerdasan yang kurang.

3)             Disebabkan oleh gangguan alat penerimaan.

4)             Disebabkan oleh gangguan perasaan.

5)             Disebabkan oleh kesalahan tingkah laku.

Sedangkan menurut Sulistiyawan   ( 2010 )  faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesulitan belajar siswa, yaitu:

1)             Faktor-faktor yang bersumber dari diri sendiri.

2)             Faktor-faktor yang bersumber dari lingkungan sekolah.

3)             Faktor-faktor yang bersumber dari lingkungan keluarga.

4)             Faktor-faktor yang bersumber dari lingkungan masyarakat

 

C.      Bimbingan Terhadap Anak yang Lambat Belajar

1. Pengertian Anak Lambat Belajar

Anak lambat belajar adalah anak yang mengalami hambatan atau keterlambatan dalam perkembangan mental (fungsi intelektual dibawah teman-teman seusianya) disertai ketidak mampuan/kekurangan mampuan untuk belajar dan untuk menyesuaikan diri sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

Masalah-masalah yang mungkin bisa jadi penyebab anak lambat belajar anatara lain karena masalah konsentrasi, daya ingat yang lemah, kognisi, serta masalah sosial dan emosional. Anak yang lambat belajar bisa juga dikatakan sebagai anak yang mengalami kesulitan dalam belajar. Kesulitan belajar ( learning difficulty ) merupakan sesuatu konsep multidisipliner yang digunakan pada lapangan ilmu pendidikan, psikologi, maupun ilmu kedokteran. Kesulitan belajar didasarkan atas suatu kondisi dari belajar yang terganggu untuk mencapai hasil belajar. Hal tersebut disebabkan oleh faktor fisik, sosial, maupun pisikologi.

Definisi mengenai kesulitan belajar akan tampak dalam gejala aspek-aspek kognitif, motorik, dan efektif dalam proses maupun hasil belajar yang dicapai. Cirri- ciri tingkah laku yang merupakan pernyataan manifestasi gejala kesulitan belajar.

 

 

D.    Faktor – Faktor Penyebab Kesulitan Belajar

 

1.          Faktor Penyebab Kesulitan Belajar

Fenomena kesulitan belajar seorang siswa biasanya tampak jelas dari menurunnya kineija akademik atau prestasi belajarnya, kesulitan belajar juga dapat dibuktikan dengan munculnya kelainan perilaku (misbehavior) siswa seperti senang berteriak-teriak di dalam kelas, mengusik teman, berkelahi, sering tidak masuk sekolah, dan sering minggat dari sekolah.

Adapun faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam, yaitu:

a.    Faktor intern siswa yakni, hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dalam diri siswa sendiri. Faktor intern siswa meliputi gangguan atau kekurang mampuan psiko-fisik siswa.

1.         Bersifat kognitif (ranah cipta), seperti rendahnya kapasitas intelektual / intelegensi siswa.

2.         Bersifat afektif (Ranah rasa), seperti labilnya emosi dan sikap.

3.         Bersifat psikomotorik (ranah karsa), seperti terganggunya alat-alat indera penglihat dan pendengar (mata dan telinga).

b.    Faktor ekstern siswa yakni hal-hal atau keadaan-keadan yang datang dari luar diri siswa. faktor ekstern meliputi semua situasi kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktifitas belajar siswa. Faktor lingkungan ini meliputi:

1.    Lingkungan keluarga contohnya: ketidak harmonisan hubungan antara ayah dan dengan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.

2.    Lingkungan perkampungan atau masyarakat, contohnya: wilayah perkampungan kumuh (slum area), dan teman sepermainan (peer group) yang nakal.

3.    Lingkungan sekolah, contohnya: kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru dan alat-alat belajar yang berkualitas rendah.

Selain faktor-faktor yang bersifat umum di atas ada juga faktor-faktor lain yang menimbulkan kesulitan belajar siswa. Di antara faktor-faktor yang dapat dipandang sebagai faktor khusus ini ialah sindrom psikologis berupa learning disability (ketidakmampuan belajar). Sindrom yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis yang menimbulkan kesulitan belajar itu terdiri atas:

a.          Diseleksia, yakni ketidakmampuan belajar membaca

b.         Disgrafia, yakni ketidakmampuan belajar menulis

c.          Diskalkulia, yakni ketidakmampuan belajar matematika.

 

2.Ciri-Ciri Anak Lambat Belajar.

1.         Kemampuan kognisi dibawah lewel normal

2.         Hubungan interpersonal kurang matang.

3.         Mempunyai kesulitan dalam mengikuti petunjuk-petunjuk yang memiliki banyak langkah

4.         Hanya memperhatikan saat ini dan tidak mempunyai tujuan jangka panjang

5.         Keterbatasan strategi internal, seperti kemampuan organisasional, kesulitan dalam belajar dan menggeneralisasikan informasi

6.         Rata-rata prestasi belajarnya kurang dari 6

7.         Lambat dalam mengeijakan tugas-tugas

8.         Daya tangkap terhadap pelajaran lambat

9.         Lambat penguasaan keterampilan

10.         Mempunyai daya ingat yang memadai, tetapi mereka lambat mengingat

 

 

3.Diagnosis Kesulitan Belajar.

Sebelum menetapkan alternatif pemecahan masalah kesulitan belajar siswa, guru sangat dianjurkan untuk terlebih dahulu melakukan identifikasi (upaya mengenali gejala dengan cermat) terhadap fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan belajar yang melanda siswa tersebut. Upaya seperti ini disebut diagnosis yang bertujuan menetapkan” jenis penyakit” yakni jenis kesulitan belajar siswa.

 

4.         Bimbingan Terhadap Anak yang Lambat Belajar

Jika seorang anak mengalami kesulitan belajar sehingga cenderung lambat dalam belajar, seharusnva anak tersebut tidak ditinggalkan dan diabaikan, tetapi sang anak haruslah mendapatkan perhatian khusus dari seorang guru dan lingkungannya. Maka, seorang guru tidak harus mengucilkan atau meremehkan anak yang lambat dalam belajar. Adapun usaha dalam membimbing anak yang lambat belajar adalah sebagai berikut:

a.         Pola pengajaran terstruktur

Dengan berpedoman pada perlunya pengajaran ilmu agar lebih berhasil, maka ditekankan perlunya:

1. Tujuan-tujuan instruksional yang harus dicapai ditetapkan secara tegas. Tujuan-tujuan ini dirangkaikan dalam materi pelajaran dibagi atas unit-unit pelajaran yang diurutkan sesuai dengan rangkaian tujuan instruksional

2. Supaya siswa mencapai tujuan instruksional yang pertama lebih dahulu, sebelum siswa diperbolehkan mempelajari unit pelajaran yang baru untuk mencapai tujuan instruksional yang kedua harus tercapai lebih dahulu sebelum siswa melanjutkan materi berikutnya.

3. Ditingkatkan motivasi belajar siswa dan efektifitas hasil belajar siswa, serta memberikan umpan balik mengenai keberhasilan atau kegagalannya pada saat itu juga atau testing formatif.

4. Mengefektifkan program pengajaran remedial

Pengajaran remedial bertolak dan konsep belajar tuntas, yang ditandai oleh sistem pembelajaran dengan menggunakan modul. Pengajaran remedial pada hakikatnya merupakan kewajiban bagi semua guru setelah mereka melakukan evaluasi formatif karena secara umum keseluruhan sistem pendidikan bertujuan untuk mengubah tingkah laku peserta didik.

Untuk lebih mengefektifkan program pengajaran remedial sangat dibutuhkan peran aktif guru. Fungsi guru dalam pengajaran remedial berperan sebagai “fungsi preventif”, yakni mencegah teijadinya kesulitan belajar siswa. Guru harus memiliki strategi-strategi yang jitu dan efektif ketika mengajar sehingga proses belajar menjadi nyaman, menyenangkan, enjoy dan tidak membosankan. Selain itu sesuai dengan fungsi guru sebagai konselor, guru harus memberikan bimbingan yang bersifat kuratif (penyembuhan), yaitu dengan memberikan bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah. Tekhnik yang dapat digunakan adalah konseling dan remedial teaching.

Kesulitan belajar siswa tidak selalu disebabkan oleh tingkat IQ yang rendah atau kemalasan siswa saja, tetapi bisa juga disebabkan oleh kurangnya strategi yang menarik dari guru dalam proses penyampaian materi. Sekali lagi perlu ditekankan bahwa perlunya bagi guru untuk memilih strategi pembelajaran menyangkut strategi dan metode yang akan digunakan untuk mencapai tujuan kompetensi.

Bimbingan belajar merupakan salah satu bentuk layanan bimbingan yang penting di selenggarakan di sekolah. Pengalaman menunjukkan bahwa kegagalan yang di alami siswa dalam belajar tidak selalu di sebabkan oleh kebodohan aturan intelegensi. Sering kegagalan itu teijadi di sebabkan mereka tidak mendapat layanan bimbingan yang memadai. Layanan belajar di laksanakan melalui tahap-tahap sebagai berikut:

1. Pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar

2. Pengungkapan sebab-sebab timbul masalah belajar

3. Pemberian bantuan pengentasan masalah belajar

Di sekolah, disamping banyak siswa yang berhasil secara gemilang dalam belajar sering pula menjumpai adanya siswa yang gagal, seperti angka-angka raport rendah, tidak naik kelas sebagainya. Secara umum siswa-siswa yang seperti itu sebagai siswa yang mengalami masalah belajar.

Siswa yang mengalami masalah belajar dapat di kenali melalui prosedur pengungkapan melalui tes hasil belajar, tes kemampuan dasar, skala pengungkapa sikap dan kebiasaan belajar, dan pengamatan.

Siswa yang mengalami masalah belajar perlu mendapat bantuan agar masalahnya tidak berlarut-larut yang nantinya dapat mempengaruhi proses perkembangan siswa. Beberapa upaya yang dapat di lakukan yaitu:

1. Pengajaran perbaikan

2. Kegiatan pengayaan

3. Peningkatan motivasi belajar

4. Pengembangan sikap dan

5. Kebiasaan belajar yang efektif

Dalam layanan bimbingan belajar peranan guru dan konselor adalah saling membantu, mengisi, dan menunjang. Guru sebagai penguasa lapangan dan penggerak kegiatan pembelajaran siswa, sedangkan konselor sebagai arsitek, penasehat, dan penyumbang data, masukan dan pertimbangan bagi di tetapkannya layanan bimbingan belajar, dan kedua pihak selalu bahu membahu meningkatkan kemampuan siswa belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

 

 

 

 

 

III.           Penutup

Simpulan

Berdasarkan uraian di atas, bahwa bimbingan konseling merupakan salah satu pendidikan di sekolah dan bantuan untuk membimbing siswa menyelesaikan masalahnya dan konselor yang baik adalah kunci kesuksesan serta jelas bahwa tugas seorang pembimbing dalam suatu sekolah. Sering dibayangkan bahwa pembimbing di sekolah tidak banyak menghadapi masalah siswa. Namun, dalam praktik di lapangan, banyak siswa yang membutuhkan bimbingan, selain itu konselor juga membantu guru dan kepala sekolah untuk menjalakan program pendidikan secara lancar dan baik. Di tangan para konselor atau Guru BK itulah, letak nasib dan keberhasilan pendidikan mereka.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmadi, Abu. ( 2011) . Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Hamalik, Oemar. ( 2000 ) . Metode Belajar. Bandung : Tarsito

Partowisastro, Koestoer. ( 1997 ) . Diagnosa Dan Pemecahan Kesulitan Belajar. Jakarta: Erlangga

Prayitno, Amti ( 2013 ) . Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Winkel, W.S. 1997. Bimbingan Dan Konseling. Di Institusi Pendidikan. Jakarta: PT. Gramedia Widia Sarana