logo-responsive

MANA POTENSI DIRI ANDA

mana

POTENSI DIRI

anda … !!!

KAJIAN TENTANG POTENSI DIRI SEORANG PEMIMPIN

 

 

oleh :

H Zarkani, S.Ag, MAP

NIP 197310102003121005

Widyaiswara Ahli Muda

 

Abstrak

 

Potensi  diri  pemimpin  adalah kekuatan  atau  daya  yang  dimiliki  oleh  pemimpin  dalam menggerakan sumberdaya manusia dan sumberdaya lain yang ada dalam  organisasi  baik  yang  belum  teraktualisasi maupun  yang sudah  teraktualisasi  namun  belum  optimal.  Potensi  tersebut meliputi  potensi fisik,  potensi  sosio  emosional,  potensi  kecerdasan inteligence,  potensi  kecerdasan  spiritual  maupun  potensi  ketahan malangan.

Peran  pemimpin  sangat  diperlukan  dalam  suatu  organisasi dalam  membantu  organisasi  dalam  proses  perubahan, karena  pemimpin  dengan  kepemimpinannya  mampu   mempengaruhi  aktivitas  dari  suatu  kelompok  yang  sudah terorganisasi  untuk  mencapai  suatu  tujuan.

Pengukuran    potensi  diri  yaitu penentuan besaran,  dimensi,  atau  kapasitas,  biasanya  terhadap suatu  standar  atau satuan  ukur.  Pengukuran  tidak  hanya  terbatas pada kuantitas fisik,  tetapi  juga  dapat  diperluas  untuk  mengukur hampir  semua  benda  yang  bisa  dibayangkan,  seperti  tingkat ketidakpastian,  atau  indeks  kepercayaan  konsumen.  Pengukuran ada  beberapa  macam  alat  yaitu:  micro  meter,  jangka  sorong, dial indikator, viler  gauge  dll.  Jadi  Pengukuran  adalah  perbandingan dengan  standar. 

Teknik pengukuran potensi diri, yaitu pengukuran individual, pengenalan diri melalui orang lain, dan pengukuran potensi diri menggunakan instrument tertentu.

 

Kata kunci : potensi diri, intelegensi, spiritual, ketahanmalangan

 

 

 

  1. Latar Belakang

Peran  pemimpin  sangat  diperlukan  dalam  suatu  organisasi dalam  membantu  organisasi  dalam  proses  perubahan.  Mengapa karena  pemimpin  dengan  kepemimpinannya  mampu   mempengaruhi  aktivitas  dari  suatu  kelompok  yang  sudah terorganisasi  untuk  mencapai  suatu  tujuan.  Pemimpin  adalah  seseorang  yang  dengan kemampuan  dari seorang  individu  untuk  mempengaruhi,  memotivasi  dan  membuat orang  untuk  memberikan  kontribusinya  guna  mencapai  keefektifan dan  kesuksesan  organisasi.  ASEAN  Community  berdampak terhadap  perubahan-perubahan  dalam  organisasi.  Perubahan-perubahan  tersebut  baik  internal  maupun  eksternal  yang  akan berdampak terhadap kinerja pemimpin dan kinerja organisasi. Oleh karena  itu  pemimpin  perlu  melaksanakan  kegiatan  secara  kreatif dan inovatif.

Agar  kepemimpinanya  efektif  dan  efisien,  maka  seorang pemimpin perlu mengenal potensi diri dan potensi staf. Pengenalan terhadap  diri  sendiri merupakan prioritas utama seorang pimpinan. Hal ini sesuai dengan kata bijak :‖Kenalilah dirimu sendiri sebelum mengenal  orang  lain‖. Pengenalan  diri  berkaitan  dengan  potensi-potensi  yang  dimiliki  oleh  dirinya  sendiri.  Sebagai  seorang pemimpin  di  level    pelaksana  program  anda  harus  bertindak profesional    dan  mampu  memberdayakan  semua  sumberdaya dalam  organisasinya  baik  Sumberdaya  Manusia  maupun sumberdaya  lain  dalam  organisasi.  Agar  mempu  memberdayakan Sumberdaya Manusia yang adal dalam organisasis perlu mengenal dengan  jelas  siapa  saja  orang-orang      yang  berada  di  bawah kepemimpinannya.  Dengan  memahami  potensi-potensi  diri  dan potensi  orang  yang  dipimpin  ini  akan  memungkinkan memberdayakan  potensi-potensi  staf  dan    organisasi  secara optimal, dalam artian visi dan misi organisasi akan tercapai secara optimal. 

Salah satu penentu dalam keberhasilan perkembangan adalah konsep diri. Konsep diri (self consept) merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan aktualisasi orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan untuk berkembang yang pada akhirnya menyebabkan ia sadar akan keberadaan dirinya. Perkembangan yang berlangsung tersebut kemudian membantu pembentukan konsep diri individu yang bersangkutan.

Perasaan individu bahwa ia tidak mempunyai kemampuan yang ia miliki. Padahal segala keberhasilan banyak bergantung kepada cara individu memandang kualitas kemampuan yang dimiliki. Pandangan dan sikap negatif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki mengakibatkan individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang sulit untuk diselesaikan, maka dari itu sangatlah penting untuk seorang perawat memahami konsep diri. Memahami diri sendiri terlebih dahulu baru bisa memahami klien.

Berlatar dari masalah tersebut diatas, pada tulisan ini penulis menguraikan tentang potensi diri seorang pemimpin, berkenaan dengan jenis-jenis potensi yang dimiliki oleh manusia, dan relevansinya dengan kepemimpinan, serta teknik mengidentifikasi  potensi  diri  yang  relevan  dengan kepemimpinan  inovatif. Sehingga sebagai rumusan masalah yang akan penulis ungkap antara lain sebagai berikut :

  1. Apa makna dari potensi diri dan relevansinya dalam kepemimpinan ?
  2. Apa saja jenis potensi yang ada pada diri manusia ?
  3. Bagaimana mengidentifikasi potensi diri yang relevan dengan kepemimpinan ?

Itulah hal-hal yang penulis uraikan dalam tulisan ini.

 

  1. Konsep Dasar Potensi Diri seorang pemimpin
  2. Pengertian Potensi Diri

Potensi berasal  dari  bahasa  Inggris “to  potent”  berarti  kekuatan (powerful),  daya,  kekuatan,  kemampuan.  Setiap  individu  pada hakekatnya memiliki suatu potensi yang dapat dikembangkan, secara  individu  maupun  kelompok  melalui  latihan-latihan. Menurut  Prof  DR.Buchori  Zainun,  MPA  yang  disebut potensi adalah Daya atau kekuatan baik yang sudah teraktualisasi tetapi belum optimal  maupun belum teraktualiasasi. Daya tersebut dapat  bersifat  positif  yang  berupa  kekuatan  (power),  yang  bersifat negatif  berupa  kelemahan (weakness).  Dalam  pengembangan potensi  diri  yang  dikembangkan  adalah  yang  positif,  sedangkan yang  negatif  justru  harus  dicegah  dan  dihambat  agar  tidak berkembang.  Potensi-potensi  tersebut  merupakan  salah  satu pembeda antara individu yang satu dengan individu yang lain. Lalu bagaimanakah  dengan  orang  yang  potensial?  Potensial  (potential) dicirikan dengan adanya potensi, memiliki kemampuan laten untuk melakukan  sesuatu  atau  untuk  bertingkah  laku  dengan  cara tertentu, khususnya  dengan cara yang mencakup  laten  atau  bakat pembawaan  atau  intelligensi  (JP  Chaplin :  Kamus  Lengkap Psiklogi : 2004).   

Istilah  lain potensi adalah  kemampuan,  kekuatan, kesanggupan atau daya baik sudah terwujud atau belum  terwujud. Menurut  kamus  umum  Bahasa  Indonesia  potensi  berarti kemampuan  yang  mempunyai  kemungkinan  untuk  dikembangkan. Berdasarkan  pengertian  di  atas potensi merupakan  daya  yang dimiliki  oleh  setiap  manusia.  namun  belum  terwujud  atau  belum dimanfaatkan secara maksimal.

Menurut Slamet Wiyono (2006:38) potensi  diri  manusia  secara  utuh  adalah  keseluruhan  badan  atau tubuh  manusia  sebagai  suatu  sistem  yang  sempurna  dan  paling sempurna  bila  dibandingkan  dengan  sistem  makhluk  ciptaan  Allah lainya,  seperti  binatang,  malaikat,  jin,  iblis  dan  setan.

Menurut  Hery Wibowo  (2007:  1)  minimal  ada  empat  kategori  potensi  yang terdapat  dalam  diri  manusia  sejak  lahir  yaitu,  potensi  otak,  emosi, fisik dan spiritual dan semua potensi ini dapat dikembangkan pada tingkat  yang  tidak  terbatas.  Ahli  lain  berpendapat  bahwa  manusia itu  diciptakan  dengan  potensi  diri  terbaik  dibandingkan  dengan makhluk  Tuhan  yang  lain,  ada  empat  macam  potensi  yang  dimiliki oleh manusia yaitu, potensi intelektual, emosional, spiritual dan fisik.

Siapakah  pemimpin  itu?  Pemimpin    menurut  Henry  Pratt Faiechild  dalam  Kartini  Kartono  (1994:33)  adalah    ialah  seorang yang  dengan  jalan  memprakarsai  tingkah  laku  sosial  dengan mengatur,  mengarahkan,  mengorganisir  atau  mengontrol usaha/upaya  orang  lain  atau  melalui  prestise,  kekuasaan  dan posisi.  Dalam  pengertian  yang  terbatas,  pemimpin  ialah  seorang yang  membimbing,  memimpin  dengan  bantuan  kualitas-kualitas persuasifnya  dan  akseptansi/  penerimaan  secara  sukarela oleh para pengikutnya. 

Miftha Thoha dalam  bukunya Prilaku Organisasi (1983:255) pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan memimpin,  artinya  memiliki  kemampuan  untuk  mempengaruhi orang  lain  atau  kelompok  tanpa  mengindahkan  bentuk  alasannya. Prof.  Maccoby  Pemimpin  pertama-tama  harus  seorang  yang mampu  menumbuhkan  dan  mengembangkan  segala  yang  terbaik dalam diri para bawahannya.

Berdasarkan  pengertian  potensi  diri  dan  pemimpin  di  atas, maka  yang  dimaksud  dengan potensi  diri  pemimpin  adalah kekuatan  atau  daya  yang  dimiliki  oleh  pemimpin  dalam menggerakan sumberdaya manusia dan sumberdaya lain yang ada dalam  organisasi  baik  yang  belum  teraktualisasi maupun  yang sudah  teraktualisasi  namun  belum  optimal.  Potensi  tersebut meliputi  potensi fisik,  potensi  sosio  emosional,  potensi  kecerdasan inteligence,  potensi  kecerdasan  spiritual  maupun  potensi  ketahan malangan. Sedangkan Howard gardner menyebutkan dengan multi intelligence (kecerdasan majemuk)

  1. Relevansi potensi diri dengan kepemimpinan

Apakah  relevansi  potensi  diri  dengan  kepemimpinan ? Pemimpin  yang  profesional  tentu  akan  selalu  mengembangkan organisasi  yang  dipimpinnya  sesuai  dengan  visi  dan  misi organisasi.  Dalam  menjalankan  roda  organisasinya  pemimpin menggunakan  potensi-potensi  diri  dan  potensi  staf  secara  optimal. Oleh  karena  itu  pemahaman  tentang  potensi  diri  dan  potensi  staf sangat  diperlukan,  baik  potensi  kecerdasan  intteligence,  potensi kecerdasan  emosi,  potensi  spiritual,  potensi  fisik  dan  potensi ketahan malangan serta potensi kepribadian dirinya.

Pemimpin  harus  mampu  memahami  potensi  staf  dan  potensi organisasi  agar  organisasi  yang  dipimpinnya  efektif  dan  efisien. Mengapa?  Karena  Pemimpin  adalah  seseorang  yang  mampu memberdayakan sumberdaya manusai dan sumberdaya lain dalam organisasi  untuk  mencapai  tujuan  yang  telah  ditentukan.  Potensi diri pemimpin seperti apakah yang perlu dikenal dan dikembangkan agar mampu menjadi pemimpin perubahan? 

Pemimpin  perubahan  yang  seperti  apakah  yang  diharapkan mampu  memimpin  organisasi  menuju  organisasi  kelas  dunia  yang mampu  menghadapi  tantangan-tantangan  yang  ada?  Setujukah anda dengan  konsep  pemimpin  yang  adaptif?  Siapakah  pemimpin adaptif  itu?  Pengertian  pemimpin  telah  di  bahas  dalam  uraian  di atas, yang intinya adalah seseorang yang mampu memberdayakan sumberdaya manusia dan sumberdaya lain untuk mencapai tujuan organisasi. 

Adaptif  berarti  cerdas  menyesuaikan  diri dengan  perubahan.  Jadi  pemimpin  adaptif  adalah  pemimpin yang mampu  menggunakan  kepemimpinan  yang  mudah  menyesuaikan dirinya  dengan  perubahan  dan  keadaan  baru.  Seorang  pemimpin yang  adaptif  dapat  menyesuaikan diri  dan  perusahaan  dengan keadaan  yang  dinamis,  menyesuaikan  nilai  mereka  dengan perubahan  yang  terjadi,  dan  membantu  bawahan  mereka  untuk dapat ikut menyesuaikan diri dan mengenali perubahan yang terjadi tanpa mengurangi kepercayaan bawahan tersebut kepada mereka.

Guna  mewujudkan kepemimpinan  yang  adaptif  perlu  menggunakan  seluruh  potensi yang  dimiliki  oleh  pemimpin.  Baik  potensi  kecerdasan  emosi, potensi kecerdasan  intelligence,  potensi  kecerdasan  spiritual  dan potensi  ketahanan  malangan.  Potensi  Kecerdasan  intelektual sangat  diperlukan  dalam  menggali  permasalahan-permasalahan yang  ada,  menggali  data,  menganalisa  masalah  serta  membuat sintesa.  Sedangkan  potensi  kecerdasan  emosi  diperlukan  dalam menggerakan  sumberdaya  manusia  untuk  melaksanakan  aktivitas yang  sudah  ditentukan  dengan  empati,  motivasi  dan  mampu bekerjasama  bekerja  sama  secara  efektif.

 Potensi  kecerdasan emosi  sangat  diperlukan  dalam  memberdayakan  sumberdaya manusai dalam rangka mewujudkan kepemimpinannya.  Memimpin dengan  empati,  menggunakan  hati  nurani  akan  mampu menggerakan  sumberdaya  manusia  dalam  mencapai  tujuan organisasi.  Untuk  itu  maka  diperlukan  pengembangan  diri  secara terus menerus dan berkesinambungan. 

Dengan  menggunakan  kecerdasan  ketahan malangan pemimpin adapif mampu mendengarkan, menggali peran anda dan  menganalisas  fakta-fakta  yang  dan  menentukan  dan melakukan tindakan nyata untuk melakukan perubahan yang kreatif dan  inovatif.  Ide-ide  kreatif  tidak  akan  mendapat  dukungan  yang efektif dari stake holder apabila tidak dikomunikasikan kepada para pihak  yang  berkepentingan. 

Untuk  mengemukakan  ide-ide  kreatif tersebut  diperlukan  potensi  percaya  diri.  Tanpa  rasa  percaya  diri yang  optimal  pemimpin  tidak  mampu  mengungkapkan  ide-ide kreatif  secara  gamblang  untuk  memperoleh  dukungan  dalam pelaksanaannya.    Potensi  berfikir  kreatif  akan  tumbuh  subur  apabila  didukung  oleh  faktor  personal  dan  situasional.  Faktor personal  diantaranya    adalah  kemampuan  kognitif  dan  potensi kecerdasan  emosi.  Faktor  lain  adalah  adanya  sikap  terbuka,  sifat bebas  dan  percaya  diri.  Hal  ini  merupakan  potensi  kecerdasan emosi. Dengan sikap terbuka akan dapat menerima stimuli internal dan eksternal yang akan menumbuhkan sikap kreatif.  Mengacu  pada  uraian  di  atas,  maka  pengenalan  potensi  diri sangat  diperlukan  bagi  pemimpin  perubahan,  agar  mampu mengembangkan  potensi  dirinya  secara  optimal.  Di  samping  itu juga  mampu  memberdayakan  Sumber  daya  Manusia  dalam mendukung visi dan misi organisasi.

  1. Jenis-jenis Potensi  Diri
  2. Potensi Fisik

 

Potensi  fisik  (psychomotoric)  adalah  organ  fisik  manusia  yang dapat diperguna-kan dan diberdayakan untuk berbagai kepentingan pemenuhan  kebutuhan  hidup.  Setiap  potensi  fisik  yang  dimiliki manusia  mempunyai  fungsi  sendiri-sendiri.  Misalnya:  kaki  untuk berjalan,  mulut  untuk  berbicara,  telinga  untuk  mendengar  dan  lain sebagainya.

Potensi  fisik  atau  kecerdasan  fisik  adalah  masalah  yang menyangkut kekuatan  dan  kebugaran  otot  sekaligus kekuatan  dan kebugaran  otak  dan  mental.Orang  yang  seimbang  fisik  dan mentalnya  memiliki  tubuh  yang  ideal  serta  otak  yang cerdas.Kecerdasan fisik atau PQ (physical Quotient) juga dianggap sebagai dasar dari elemen IQ (Intellegence Quotient).

Potensi  fisik  merupakan  potensi  yang  dimiliki  individu  yang berkaitan  dengan  aspek  fisiknya.  Potensi  fisik  sebagai wadah untuk  memanifestasikan  potensi  IQ,  EI  (Emotional  Intelligence) , SI (spiritual  Intelegence)  dan  AI  (Adversity  Intelligence).  Manusia memiliki potensi yang luar biasa untuk membuat gerakan fisik yang efektif  dan  efisien  serta  memiliki  kekuatan  fisik  yang  tangguh. Orang  yang  berbakat  dalam  bidang  fisik  mampu  mempelajari  olah raga dengan cepat dan selalu menunjukkan permainan yang baik. 

Karena itu potensi fisik seseorang perlu dipelihara secara efektif.  Pemeliharaan  ini  mencakup  pola  makan  yang  seimbang, istirahat  dan  relaksasi  yang  memadai  dan  berolahraga  secara teratur.  Sebagai  pemimpin  perubahan  perlukah  memelihara  potensi  fisik  tersebut  ?  Tentu  saja  sangat  diperlukan  agar  dapat mampu  menyeimbangkan  dengan  potensi-potensi  yang  lain.  Anda bisa  membayangkan  apabila  salah  satu  potensi  fisik  anda terganggu.  Apakah  yang  Saudara  rasakan  ?  Tentunya  Saudara akan  merasa  terganggu  dan  potensi  tersebut  akan  berpengaruh terhadap  potensi-potensi  yang  lain,  meskipun  tidak  menutup kemungkinan  ada  beberapa    orang  yang  potensi  fisiknya  tidak bagus tetapi sukses. Salah satu potensi terkait dengan potensi fisik adalah potensi otak yang merupakan organ yang sangat vital dalam diri  seseorang. 

  1. Potensi Kecerdasan Intelektual

Istilah  lain  dari  potensi  ini  adalah Intelegensia  Quotient (  IQ), ahli  lain  menyebutkan  potensi  ini  adalah  potensi  berfikir  yakni kecerdasan  dengan  kemampuan  potensi  manusia  dalam  mempelajari  sesuatu  dengan  alat-alat  berfikirnya.  Kecerdasan  ini bisa diketahui atau diukur dengan kekuatan verbal dan logika yang ditunjukkan  oleh  seseorang.    Potensi  ini  berfungsi  untuk memecahkan  masalah-masalah  yang  sifatnya  koqnitif,  antara  lain menganalisis  masalah,  membuat  perencanaan,  membuat  karya  ilmiah/karya  tulis  dan  lain  sebagainya.  IQ  bersifat  genetik  dalam artian  lebih  banyak  dipengaruhi  oleh  faktor  bakat  dari pada lingkungan,  namun  dalam  pengomtimalannya  sangat  dipengaruhi oleh  faktor  lingkungan.  Adapun  aspek-aspek  IQ  antara  lain  taraf kecerdasan,  daya  nalar/logika  berfikir,  daya  mengingat,  daya antisipasi,  kemampuan  memahami  konsep  bahasa,  kemampuan memahami  konsep  hitungan,  kemampuan  analisa  sintesa,  daya baying ruang dan kreatifitas.  

Profesor DR Howard Gardner dalam bukunya  “Multi  Intelegence”  mengatakan  bahwa  potensi  ini diklasifikasikan ke dalam tiga jenis potensi yakni potensi matematik, potensi  lingguistik,  potensi  visual/spatial. Peningkatan  potensi  ini dapat  dilakukan  melalui  pendidikan  yang  berkesinambungan, pengasahan dan perluasan fikiran yang terus menerus. Disamping itu  juga  melalui  kegiatan  pembiasaan  pembuatan  jurnal,  menulis dan  lain  sebagainya.  Apakah  potensi  ini  diperlukan  untuk mengembangkan  potensi  kreatif  dan  inovatif  pemimpin?  Tentunya diperlukan  bukan?    Kapan  potensi  ini  anda  gunakan  dalam membuat  inovasi-inovasi  dalam  organisasi?  Saat  anda  melakukan diagnosis  organisasi  tentunya  anda  akan  menggunakan  potensi kecerdasan intelligensi anda. Dalam melaksanakan diagnosis areal perubahan  anda  dituntut  untuk  cermat,  teliti,  menggunakan  data dengan  benar,  menganalisis  dengan  benar.  Semua  ini  adalah potensi  kecerdasan  Intelligensi. 

Potensi  kecerdasan  ini  juga  diperlukan  dalam  menyajikan  proyek perubahan  serta  meyakinkan  proyek  perubahan  kepada stakeholder  juga memerlukan potensi ini, meskipun tidak menutup kemungkinan menggunakan potensi yang lain.

  1. Potensi Kecerdasan Emosi

Kata emosi  sering  dikonotasikan  negatif,  benarkah  demikian  ?  Coba amati  bayi  mungil  di  sekitar  anda,  bagaimanakah  perasaan  anda melihat  bayi  tersebut?  Setujukah  anda  bahwa  anda  merasa senang,  gemes,  bahagia,  bangga,  ingin  memeluk  dan  lain sebagainya.  Hal-hal  inilah  merupakan  perwujudan  emosi  positif. Lalu  bandingkan  dengan  foto  anak  yang  terkena  busung  lapar, bagaimanakah  perasaan  anda?  Setujukah  anda  bahwa  anda merasa  kasihan,  ngeri,  kecewa,  marah  dan  lain-lain  emosi  yang tidak  mengenakan?  Stimulus  pertama  menghasilkan  emosi  positif, sedangkan  emosi  ke  dua  menghasilkan  emosi  negatif.  Mengapa? Lalu  apakah  yang  dimaksud  dengan  kecerdasan  emosi  itu? Mengapa emosi perlu dikelola dan bagimanakah ciri-ciri orang yang cerdas secara emosi?

Emosi  berasal  dari  bahasa  Latin “movere”  yang  berarti  menggerakkan,  bergerak,  bergerak menjauh, menyiratkan bahwa  kecenderungan  bertindak    merupakan  hal  mutlak  dalam emosi.  Sedangkan  menurut  Oxford  English  Dictionary  yang dimaksud dengan emosi adalah setiap kegiatan atau pengolahan pikiran,  perasaan,  nafsu,  setiap  keadaan  mental  yang  hebat  dan meluap-luap.  Sedangkan  menurut  Prof  DR  Sarlito  Wirawan Sarwono  mengatakan  bahwa  yang  disebut    dengan  emosi  adalah sisi  lain  dari  kepribadian  yang  diwujutkan  dalam  perasaan/affect yang  positif  maupun  negatif  dan  ditampilkan  dalam  berbagai perilaku  seperti  senyum,  tawa  teriak,  tangis,  agresi  dan  lain sebagainya. 

Istilah  ini  untuk  menerangkan  kualitas-kualitas  emosional  yang penting  bagi  keberhasilan.  Kualitas tersebut  meliputi empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah,  kemandirian,  kemampuan  menyesuaikan  diri,  disukai, kemampuan  memecahkan  masalah  antar  pribadi,  ketekunan, kesetiakawanan,  keramahan  dan  sikap  hormat. 

Kecerdasan  emosional  bukanlah  didasarkan pada  kepintaran  seseorang  anak,  melainkan  pada  sesuatu  yang dulu disebut karakteristik pribadi atau karakter . Dengan kata lain kecerdasan  emosi  adalah  ketrampilan  sosial  dan  ketrampilan emosional.

Kecakapan  pribadi  dalam  artian  kecakapan  mengelola  diri  sendiri yang  meliputi  aspek  kesadaran  diri.  Yang  dimaksud  dengan kesadaran  diri  dalam  artian  (1)  mengetahui  kondisi  diri  sendiri termasuk  kelebihan  dan  kelemahannya;  (2)  kesadaran  emosinya; (3)  penilaian  diri  sendiri  secara  teliti  serta  rasa;  (4)  percaya  diri. Aspek  pengaturan  diri  meliputi  (1)  mengelola  kondisi  impuls  dan sumber  daya  diri;  (2)  pengendalian  diri;  (3)  dapat  dipercaya;  (4) kewaspadaan  serta  kemampuan  melakukan  adaptasi  secara maksimal serta kemampuan melaksanakan inovasi-inovasi.

Pemimpin yang kreatif dan inovatif harus mampu mengelola kedua  aspek  tersebut  untuk  memantapkan  kompetensinya  serta mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Kapan potensi ini anda  gunakan?  Mulai  mengidentifikasi  perlunya  perubahan  dalam organisasi,  meyakinkan  pada  stake  holder,  membuat  inovasi-inovasi  dalam  organisasi. 

  1. Potensi Kecerdasan Spiritual

Dimensi  spiritual  seseorang  merupakan  titik  sentral pribadinya,  merupakan  komitmen    individual  terhadap  sistem nilainya,  yang  menjadi  dasar/  landasan  yang  kuat  bagi  seorang pemimpin  adanya  kekuatan  spiritual  dalam  dirinya  yang  dapat mengendalikan emosinya. Dimensi ini merupakan sumber spiritual yang  mengangkat  semangat  seseorang  dan  mengikatnya  pada kebenaran  tanpa  waktu.  Setiap  orang  berbeda  cara mengembangkannya.    Dimensi  spiritual  sering  disebut  dengan spiritual  Intelegence  (SI).  Spiritual    Intelligence  merupakan kecerdasan  yang  bertumpu  pada  bagian  dalam  diri  kita  yang berhubungan  dengan  kearifan  di  luar  ego,  atau  jiwa  sadar  (bukan hanya mengetahui nilai tetapi juga menemukan nilai (Danah Zohar). Lebih  lanjut  dikatakan  oleh  Sinetar  bahwa  kecerdasan  spiritual adalah  kecerdasan  yang  mendapat  inspirasi,  dorongan  dan efektivitas yang terinspirasi Theis-ness (Penghayatan Ketuhanan).   

Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan manusia yang paling tinggi.  Pokok  dari  SQ  adalah  kemampuan  seseorang  untuk memahami keberadaan Tuhan, memahami hakikat diri secara utuh, hakikat  dibalik  realitas,  membedakan  yang  benar  dan  yang  salah  serta  kemampuan  memaknai  bahwa  kehadiran  kita  entah  profesi atau  status  kita  mampu  membuat  orang  lain  merasa  dihargai  dan mempunyai  penghargaan   (Mulyaningtyas  &  Hadiyanto,  2007).

Ingat  bahwa  dalam  membuat  inovasi-inovasi  anda  perlu memperhatikan  hati  nuani  anda.  Dalam  membuat  inovasi  sering melakukan  ATM  (Amati,  Tiru,  Modifikasi).

 

  1. Konsep Dasar Pengukuran Potensi Diri

Apakah  pengukuran    potensi  diri  itu?  Pengukuran  adalah penentuan besaran,  dimensi,  atau  kapasitas,  biasanya  terhadap suatu  standar  atau satuan  ukur.  Pengukuran  tidak  hanya  terbatas pada kuantitas fisik,  tetapi  juga  dapat  diperluas  untuk  mengukur hampir  semua  benda  yang  bisa  dibayangkan,  seperti  tingkat ketidakpastian,  atau  indeks  kepercayaan  konsumen.  Pengukuran ada  beberapa  macam  alat  yaitu:  micro  meter,jangka  sorong, dial indikator,viler  gauge  dll.  Jadi  Pengukuran  adalah  perbandingan dengan  standar.  Menurut  William  Shockley.  Potensi  diri  adalah suatu  kekuatan  atau  daya  baik  yang  sudah  teraktualisasi  maupun sudah  teraktualisasi ,  namun  belum  optimal

Adapun teknik-teknik Pengukuran Potensi Diri sebagai berikut :

  1. Pengukuran Individual
  2. Pengenalan diri melalui orang lain (feedback)
  3. Pengukuran potensi  diri  menggunakan  Instrumen Tertentu.

          Bagaimanakah  pandangan  saudara  terhadap  pemimpin yang  sukses?  Setujukah  anda  bahwa  pemimpin  yang  sukses adalah pemimpin  yang  mampu  mencapai  target-target  yang telah  ditentukan.  Target  yang  telah  dicanangkan  tentunya dibuat berdasarkan diaknosis organisasi yang dipimpinya. Dari diaknosis yang ada dibuat upaya pengembangan dalam bentuk inovasi-inovasi. Bagaimanakah dengan diri Anda apakah anda termasuk  orang  yang  memiliki  kualifikasi  pemimpin  yang sukses  yang  mampu  melakukan  inovasi-inovasi?   

Edward De Bono membedakan 2 (dua) cara berpikir yakni berfikir lateral dan berpikir vertikal. Berpikir vertikal adalah cara berpikir  yang  tradisional  atau  logis.  Berpikir  vertikal  melihat solusi melalui pandangan yang wajar dari masalah atau situasi dan bekerja melalui itu, umumnya dalam jalur yang paling biasa terpilih  (umum).  alat  ada  informasi  baru  atau  masalah  yang muncul  kita  terbiasa  memprosesnya  dengan  melakukan analisa.  Sedangkan  berfikir  lateral  mengabaikan  kebenaran yang harus hadir sepanjang proses analisa, cara berpikir lateral atau horisontal membolehkan kita untuk melakukan kesalahan.

Ciri-ciri  orang  yang  kurang  memiliki kepercayaan  diri?  Lauster  (2012:13)  menyatakan  bahwa rendahnya  kepercayaan  diri  pada  seseorang  menyebabkan orang  menjadi  ragu-ragu,  pesimis  dalam  menghadapi rintangan,  kurang  tanggung  jawab,  dan  cemas  dalam mengungkapkan  pendapat/gagasan.  Sedangkan  menurut Hakim  (2002:8),  ciri-ciri  individu  yang  tidak  memiliki kepercayaan  diri  adalah:  (1)mudah  cemas  dalam  menghadapi persoalan  dengan  tingkat  kesulitan  tertentu;  (2)  memiliki kelemahan atau kekurangan dari segi mental, fisik sosial, atau ekonomi;  (3)  sulit  menetralisasi  ketegangan  di  dalam  suatu situasi;  (4)  gugup  dan  kadang-kadang  berbicara  gagap;  (5) memiliki  latar  belakang  pendidikan  keluarga  kurang  baik;  (6) memiliki perkembangan yang kurang baik sejak masa kecil; (7) kurang memiliki kelebihan pada bidang tertentu dan tidak tahu bagaimana  cara  mengembangkan  dirinya;  (8)  sering menyendiri dari kelompok yang dianggapnya lebih dari dirinya; (9)  mudah  putus asa;  (10)  cenderung  tergantung  pada  orang lain dalam mengatasi masalah; (11) pernah mengalami trauma; (12) sering bereaksi negatif dalam menghadapi masalah.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepercayaan Diri

Faktor  yang  mempengaruhi  rasa  percaya  diri  pada  seseorang menurut Hakim (2002:121) sebagai berikut:

  1. Lingkungan keluarga

Lingkungan keluarga sangat mempengaruhi pembentukan awal rasa  percaya  diri  pada  seseorang.  Rasa  percaya  diri merupakan suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang ada pada dirinya dan diwujudkan dalam tingkah laku  sehari-hari. Didikan  orang  tua  dan  suasana  keluarga sangat berpengaruh terhadap pengembangan percaya diri.

  1. Pendidikan non formal

Salah satu modal utama untuk bisa menjadi seseorang dengan kepribadian  yang  penuh  rasa  percaya  diri  adalah  memiliki kelebihan tertentu yang berarti bagi diri sendiri dan orang lain. Rasa  percaya  diri  akan  menjadi  lebih  mantap  jika  seseorang memiliki  suatu  kelebihan  yang  membuat  orang  lain  merasa kagum.  Kemampuan  atau  keterampilan  dalam  bidang  tertentu bisa didapatkan melalui pendidikan non formal.  Secara formal dapat  digambarkan  bahwa  rasa  percaya  diri  merupakan gabungan  dari  pandangan  positif  diri  sendiri  dan  rasa  aman. Oleh  karena  itu  pelatihan-pelatihan  sangat  berperan  dalam membangun rasa percaya diri.

14

 

Beberapa  tips  berikut  ini  yang  dirangkum  dari beberapa  ahli  juga  dapat  meningkatkan  rasa  percaya  diri :

  • Tersenyum
  • Apabila sedang  bicara Tatap Mata Lawan Bicara Anda
  • Ubahlah Suara Dalam Diri Anda
  • Lupakan Standar Yang Ditetapkan Orang Lain
  • Reka Ulang
  • Tentukan Langkah Anda Selanjutnya

Tips Pengembangan Potensi :

1)  Menentukan Konsep Diri

Konsep  diri  menurut  para  tokoh  sangat  beragam artinya,  berikut  akan  dikutipkan  beberapa  pengertian tentang konsep diri. James F Calhoun mendefinisikan konsep diri merupakan gambaran mental diri sendiri yang  terdiri  dari  pengetahuan  tentang  diri  sendiri, pengharapan  diri  dan  penilaian  terhadap  diri  sendiri‖ (James  F  Calhoun,  1995:  90).  Menurut Jalaludin  Rahmat  (1996:  125)  Konsep  diri  adalah pandangan  dan  perasaan  kita,  persepsi  ini  boleh bersifat psikologis, sosial dan psikis. Konsep diri bukan hanya gambaran deskriptif, tetapi juga penilaian kita. Pengertian  konsep  diri  dalam  istilah umum  mengacu  pada  persepsi  seseorang  mengenai dirinya  sendiri.

Menurut  Hurlock (1994)  yang  dimaksud konsep  diri adalah  kesan  (image)  individu  mengenai  karakteristik dirinya,  yang  mencakup  karakteristik  fisik,  sosial, emosional,  aspirasi  dan  achievement.  Clara  R Pudjijogyanti (1995: 2) berpendapat bahwa konsep diri merupakan  salah  satu  faktor  yang  menentukan apakah seseorang akan berperilaku negatif atau tidak, sebab perilaku negatif merupakan perwujudan adanya gangguan  dalam  usaha  pencapaian  harga  diri.  Dari beberapa  definisi  di  atas  dapat  disentikan  konsep  diri adalah  persepsi  individu  tentang  dirinya,  kemampuan dan  ketidakmampuannya,  tabiat-tabiatnya,  harga dirinya dan hubungannya dengan orang lain.

2)   Meminimalisasi  Hambatan

Hambatan  dalam pengembangan potensi diri meliputi hambatan internal (hambatan  berasal  dari  dalam  dirinya  sendiri  dan hambatan  eksternal.(  hambatan    dari  lingkungan).  Hambatan  yang  berasal  dari  individu  sendiri; Penghambat  yang  cukup  besar  adalah  pada  diri sendiri,misalnya  sikap  berprasangka,  tidak  memiliki tujuan  yang  jelas,  keengganan  mengenal  diri  sendiri, ketidak  mampuan  mengatur  diri,  pribadi  yang  kerdil, kemampuan  yang  tidak  memadai  untuk  memecahkan masalah,  kreativitas  rendah,  wibawa  rendah, kemampuan  pemahaman  manajerial  lemah, kemampuan  latih  rendah  dan  kemampuan  membina tim  yang  rendah. 

Hambatan eksternal adalah  berasal  dari  lingkungan  baik  lingkungan keluarga maupun  lingkungan kerungan social dimana kita  berada. Hambatan  yang  berasal  dari  ingkungan kerja  misalnya  tidak  mendapatkan    kesempatan, atasan  yang  tidak  memberikan  kesempatan  untuk pemberdayaan dirinya, teman maupun staf yang tidak mendukung.  Lingkungan  keluarga  antara  lain  tidak mendapatkan  dukungan  dari  keluarga  dan  lain sebagainya.

3)  Menentukan strategi Pengembangan diri anda

Strategi  pengembangan  diri  adalah  suatu teknik  dalam  pengembangan  diri  untuk  mencapai tujuan/ arah dalam rangka pengembangan diri sebagai pimpinan  yang  kreatif  dan  inovatif.  Strategi-trategi tersebut disingkat dengan strategi 4P sebagai berikut :

  1. Menambah Pengetahuan
  2. Menambah Pengalaman
  3. Melakukan Perenungan diri
  4. Menambah Pergaulan

 

  1. Kesimpulan

Pemahaman  potensi  diri  akan  terlaksana  apabila  anda  pengenal potensi  diri  anda.  Ada  beberapa  teknik  yang  dapat  anda  lakukan penilaian  secara  pribadi,  melalui  feedback  orang  lain  dan menggunakan  instrument  tertentu.  Agar  anda  mampu  berperan sebagai  pemimpin  perubahan  anda  perlu  memiliki  ketrampilan berfikir  kritis.  Potensi  ini  akan  optimal  apabila  anda mengembangkan potensi ketahan malangan, potensi berfikir secara lateral serta percaya diri. Potensi  yang  telah  teridentifikasi  perlu  ditindak  lanjuti  dengan pengembangan-pengembangannya.  Pengembangan  potensi  diri dapat  dilakukan  melalui  langkah-langkah yang  sistimatis.  

Langkah tersebut meliputi (1) mengenal konsep diri, mengenal hambatan diri  menerima  feedback  dan  neyikapinya  secara  positif  dengan  penuh kearifan  sertaenentukan  tujuan/arah  pengembangan  diri,  (2)    dan melaksanakan  tips-tips  dalam  pengembangan  diri  agar  menuju pemimpin perubahan yang kreatif dan inovatif. 

Potensi  diri  pemimpin  adalah kekuatan  atau  daya  yang  dimiliki  oleh  pemimpin  dalam menggerakan sumberdaya manusia dan sumber daya lain yang ada dalam  organisasi  baik  yang  belum  teraktualisasi maupun  yang sudah  teraktualisasi  namun  belum  optimal.  Potensi  tersebut meliputi  potensi fisik,  potensi  sosio  emosional,  potensi  kecerdasan inteligence,  potensi  kecerdasan  spiritual  maupun  potensi  ketahan malangan.

 

  1. Bahan bacaan
  1. Aminah,  S.,  dan  Husni.  (2007).  “Kajian  Pengembangan  Kerangka  Kerja Kolaborasi  Evaluasi  dengan  Pendekatan  Collaborative  Business  Process.
  2. Ancok,  Djamaludin.  Psikologi  Kepemimpinan  dan  Inovasi.  Surabaya: PT Erlangga, 2012
  3. Modul Diklat Kepemimpinan Tk.IV mata ajar Koordinasi dan Kolaborasi