logo-responsive

MEMAHAMI IHSAN SEBAGAI LANDASAN KEHIDUPAN

Ihsan adalah bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan spritual manusia yang perlu diangkat dalam setiap kajian sSpritual. Ia merupakan refleksi total manusia sebagai hamba,  roh setiap langkah kehidupan manusia. Dalam telaah Kecerdasan Spritual, ada 7 landasan spirit yang diilhami oleh 7 ayat dalam Al Fatihah, yang dikenal dengan seven habit atau lebih dikenal dengan B5KB. Seven habit, diawali dengan bismillah dan diakhiri dengan bercermin.

 

Kata Kunci : Ihsan, B5KB

 

            MEMAHAMI IHSAN SEBAGAI LANDASAN KEHIDUPAN

Oleh : Moh. Junaedi, S.Pd, S.IP

 

 

Abstrak

Ihsan adalah bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan spritual manusia yang perlu diangkat dalam setiap kajian sSpritual. Ia merupakan refleksi total manusia sebagai hamba,  roh setiap langkah kehidupan manusia. Dalam telaah Kecerdasan Spritual, ada 7 landasan spirit yang diilhami oleh 7 ayat dalam Al Fatihah, yang dikenal dengan seven habit atau lebih dikenal dengan B5KB. Seven habit, diawali dengan bismillah dan diakhiri dengan bercermin.

 

Kata Kunci : Ihsan, B5KB

 

  1. PENDAHULUAN

            Salah satu esensi dalam mengkaji berbagai kecerdasan yang ada dalam diri setiap manusia adalah  membedakan pengertian kecerdasan spritual dengan kecerdasan lain. Yang  dimaksud dengan kecerdasan spritual menurut Zohar dan Ian Marshall (2002) adalah kecerdasan jiwa yang membuat seseorang mampu untuk menempatkan perilaku dan kehidupannya menjadi bermakna. Sementara Ary Ginanjar (2006) mengungkapkan kemampuan untuk memberikan makna puncak (ultimate meaning) pada pekerjaannya. Kecerdasan spritual menjadi poros dari kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional.

            Perbedaan antara kecerdasan spritual, intelektual dan emosional adalah terletak pada konteks yang ditonjolkan dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Jika ia mengandalkan pikiran yang bersifat tetap maka ia bergerak pada ranah kecerdasan intelektual, sementara jika ia bergerak pada perasaan maka ia bergerak pada ranah emosional, namun jika ia bergerak berdasarkan alur terdalam dari jiwanya maka ia bergerak pada ranah kecerdasan spritual, yaitu kecerdasan yang membantu manusia menyembuhkan dan membangun diri secara utuh. 

            Untuk melengkapi dan memperdalam pemahaman terhadap kecerdasan spritual diperlukan karakter yang disebut dengan ihsan, penulis mengutif beberapa tulisan terutama dari Ary Ginanjar Agustian dalam buku ESQ Power (2001), dalam prolognya beliau menulis Ihsan adalah menyembah kepada Allah seolah-oleh engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Ia melihat engkau.

            Seperti yang telah dijabarkan terdahulu, fokus kecerdasan spritual dimensi  fisik (IQ) adalah aplikasi, sedangkan fokus untuk dimensi emosi (EQ) cenderung menitikberatkan pada mentalitas, bagaimana menciptakan motivasi tertinggi dan abadi. Adapun pembahasan mengenai dimensi spritualitas melalui nilai-nilai ihsan berfokus pada dorongan (drive). Berbicara tentang ihsan berarti sedang membicarakan tentang bagaimana menghadirkan niat seseorang menjadi selaras serta harmonis dengan tindakannya.  Pembahasan ihsan sederhananya adalah bagaimana menyelaraskan serta mengkomunikasikan rasionalitas, mentalitas dan spritualitas. “Bagaimanakah cara menghadirkan motivasi abadi (the ultimate intention) seseorang menjadi selaras dengan pemahaman seseorang ?” Inilah titik berat pembahasan ihsan, yang berkaitan dengan konsep tentang sifat ideal  jiwa manusia.

            Kata ihsan sendiri adalah sebuah kata kerja yang berarti ”berbuat atau menegakkan sesuatu dengan kualitas terbaik”. Manusia adalah ciptaan Allah yang terindah, sehingga Allah memberikan potensi (fisik, emosi, dan spritual) kepada manusia agar mampu melakukan yang terindah/terbaik. Hal tersebut bagaikan percikan air surgawi yang membasuh wajah umat manusia, untuk selalu tampil prima, sebagai pekerja keras, berprestasi puncak dan memiliki makna. Setiap manusia wajib menjadi Top Performers dan memiliki “Can Do Spirit” di bidangnya masing-masing, apakah dia seorang pilot, engineer, dokter, accountant, businessman, tentara, guru, pelajar, ibu rumah tangga, petani, atau apapun. Kalau saja setiap manusia memahami konsep ihsan ini, niscaya dunia akan kembali bermandikan cahaya kedamaian, prestasi besar sebagai wujud pengabdian cinta kepada Dia Yang Maha Agung (Agustian, 2001).

            Aplikasi ihsan itu sendiri dalam kehidupan bermakna filosofis bahwa manusia berada dalam genggaman Allah, setiap gerak-geriknya adalah di bawah pengawasan Allah. Jadi, jika manusia beribadah kepada-Nya, maka seakan-akan ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu melihat Allah maka yakinlah bahwa Allah melihat dia.

            Melalui tulisan ini, bahwa pemahaman yang tepat  tentang nilai-nilai ihsan akan sangat mengoptimalkan tingkat Kecerdasan Emosi dan Spritual (ESQ) yang kita miliki. Apabila emosi dalam keadaan tidak stabil, maka spritualitas tidak dapat bekerja secara optimal.

 

  1. PERMASALAHAN

            Dalam mengarungi kehidupan ini, kita cenderung berjalan sesuai dengan instuisi pribadi yang cenderung tidak memperhatikan adanya kekuatan lain di luar diri kita. Kecenderungan ini telah banyak membawa kita kepada permasalahan-permasalahan yang spisifik untuk urusan dunia semata. Kecenderungan ini juga banyak menyisakan problem-problem kemanusiaan seperti putus asa, bunuh diri, dan sebagainya. Karenanya, dalam kondisi kehidupan modern seperti sekarang ini, kecerdasan spritual melalui naungan ihsan menjadi sangat krusial.

 

III. PEMBAHASAN

  1. Kaitan Ihsan dengan Habit Sukses Mulia

            Pembelajaran ihsan dalam pelengkap modul ini tentu saja bersifat aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Pemaknaan ihsan dalam kehidupan harus diawali dengan piranti-piranti spritualitas yang membawa rasa ihsan itu dalam kehidupan. Piranti yang dimaksud adalah nilai-nilai tauhid, yang dijabarkan ke dalam sikap tunduk atas ketentuan dan ketetapan Allah. Tauhid sebagai pondasi iman seseorang tentu saja tidak saja dipahami sekedar mengesakan Allah dalam batin, tetapi mengaplikasikannya dalam bentuk perbuatan, sebagaimana yang dituangkan dalam 5 rukun Islam, yakni syahadat, sholat, puasa, zakat, dan haji bagi yang mampu. Aplikasi ihsan dalam kehidupan tentu saja lebih terkait dengan ibadah baik wajib maupun sunnah. Ibadah yang wajib, tentu diawali dengan sholat 5 waktu. Dalam sholat 5 waktu, kita selalu diwajibkan membaca Al Fatihah, karena Al Fatihah merupakan inti daripada sholat itu sendiri. Bacaan yang dapat membatalkan sholat adalah Al Fatihah, jika tidak dibaca secara sempurna. Dan surat ini dibaca berulang-ulang sudah barang tentu mengandung makna yang luar biasa (Harjani Hefni, The 7 Islamic daily habits, cet. IV, 2009).

            Makna luar biasa Al Fatihah ini dikupas oleh beliau dan menjadi dasar pemikiran seven habits ini yang diawali dari ayat pertama hingga ayat akhir. Seven habits ini juga telah mewarnai Modul Kecerdasan Spritual yang ditulis oleh Ibu Ir. Hj. Sovia Emmy, M.MAgb dan Drs. Satia Supardi, SH.,M.Pd, yang penulis kutip sebagai bagian aplikatif dari ihsan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu

  1. Bismillahirrahmanirrahim. Setiap mengawali denyut kehidupan hendaknya diawali dengan bismillah, seraya meresapkan makna :
  2. Merasakan kehadiran Allah (menghubungkan tali dengan Sang Pencipta)
  3. Bersemangat melakukan kebaikan (selalu merasa diawasi oleh Allah)
  4. Takut melanggar aturan (menyesuaikan kata dengan berpuatan)
  5. Memiliki ketajaman nurani (bekerja berbuat dengan suara hati)

2, Alhamdulillah Rabul Alamin.

Manusia karakternya, dia bahagia dan senang dengan nikmat yang ada, kemudian mengapresiasi nikmat dengan mengungkapkannya, mengembangkan nikmat yang ada. Sehingga muncul la’insyakartum la’azidannakum. Ada rasa kepuasan, sehingga dia akan berterimakasih, Inna’athoina qal kautsar . Implikasi dari rasa syukur tersebut antara lain :

  1. Pandai membaca nikmat
  2. Merasa gembira dengan nikmat yang ada
  3. Menguatkan perasaan gembira dengan ungkapan
  4. Memanfaatkan nikmat yang ada dengan optimal
  5. Memanfaatkan nikmat sesuai dengan aturan Allah
  6. Tidak sombong dan merasa besar diri dengan prestasi dan capaian, dan tidak malas.
  7. Ar Rahman ar Rahim.

Dalam kehidupan tidak semuanya enak, ada saja gelombang dalam kehidupan ini, cobaan dan musibah, maka perlu disampaikan bahwa Allah maha sayang kepadanya.

Istish arnya adalah Allah itu memiliki kasih sayang kepadanya. Sebagaimana permainan melepar bola ke sasaran, tidak semua bola yang memenuhi sasaran, melainkan atas kehendaknya. Setiap petir selalu diiringi dengan hujan, setelah pekatnya malam akan ada cahaya pagi, inna ma’al usyri yusra….Implikasi dalam kehidupan sehari-hari dari Ar Rahman ar Rahim ini antara lain :

  1. Membaca kasih sayang Allah terhadap kita
  2. Membandingkan kasih sayangnya dengan kondisi kita apa adanya
  3. Mampu menata jiwa saat menghadapi musibah
  4. Menghilangkan perasaan kesal, marah, jengkel saat menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan
  5. Menghilangkan perasaan dengki terhadap orang lain

f/ Menghilangkan penyakit stres menghadapi peristiwa berat

  1. Mampu Menemukan hikmah di balik peristiwa
  2. Tidak putus asa mengharap kasih sayangnya
  3. Maliki yaumiddin. Berorientasi Akhirat: Berpandangan masa depan, implikasinya dalam kehdupan sehari-hari antara lain :
  4. Meningkatkan kualitas keimanan
  5. Menyadari bahwa rentang waktu kehidupan adalah singkat
  6. Memanfaatkan waktu dan umur dengan sebaik-baiknya
  7. Menjaga anggota tubuh pemberian Allah dari berbuat maksiat
  8. Selektif dalam mengais rezeki
  9. Meningkatkan sensitivitas hati: apakah pekerjaan dan perbuatan saya menguntungkan untuk akhirat saya
  10. Iyyakana’budu wa iyya kanastai’in, Beribadah dan berdoa: Menjadi seorang hamba yang hakiki yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari sebagai berikut :
  11. Meluruskan tujuan hidup: kita adalah makhluk yang dha’if
  12. Memahami bahwa ibadah adalah kebutuhan, bukan sekedar kewajiban.
  13. Mengenal jenis-jenis ibadah
  14. Menjadikan setiap pekerjaan bernilai ibadah
  15. Memotivasi diri agar rajin berdoa
  16. Menjadikan doa sebagai pemenuh keinginan kita untuk meminta
  17. Memahami bahwa doa adalah pengawal diri
  18. Ihdinasy syirotholmustaqim. Konsisten dalam komitmen: Ketahanan dalam integritas
  19. Jalan kehidupan berliku dan kadang-kadang penuh ranjau.
  20. Cerdas membaca jalan hidup
  21. Cerdas menentukan jalan hidup
  22. waspada terhadap berbagai bahaya saat menempuh jalan kehidupan: bahaya dari dalam diri dan dari luar diri.
  23. Membuat komitmen untuk konsisten.
  24. Syirotollazii na’an ‘am ta ‘alaihim ghoiril maghdhobi ‘alaihim wa ladhollim. Bercermin: Pembelajar sejati
  25. Manusia selalu terobsesi untuk meneladani orang lain
  26. Bercermin adalah perlu: bisa melihat apa adanya tentang diri, kelebihan dan kekurangan
  27. Jangan salah memilih cermin
  28. Belajar mengamati dan mendengarkan dari orang lain
  29. Belajar meniru
  30. Belajar memodifikasi dan menjadi diri sendiri
  31. Sukses menanti

 

  1. Lima Karakteristik Aplikasi Ihsan Aparatur Pemerintah

Aplikasi ihsan dalam Diklat Kecerdasan Spritual  dalam pelayanan aparatur dapat dilihat dari berbagai aspek  kehidupannya sehari-hari peserta diklat sebagai berikut :

  1. Kemampuan bersifat fleksibel dalam melaksanakan pelayanan
  2. Tingkat kesadaran diri tinggi untuk bekerja sebagai ibadah
  3. Kemauan untuk menghadapai permasalahan tugas
  4. Kecenderungan untuk melakukan pekerjaan secara holistik
  5. Berupaya bekerja untuk tidak menyebabkan kerugian yang tidak perlu

 

III. PENUTUP

  1. Kesimpulan

     Kecerdasan spritual (SQ) adalah kecerdasan yang berakar dari dalam jiwa untuk membangun potensi diri, ia merupakan ’roh’ dari kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ).

         Ihsan dan seven habits tidak bisa dipisahkan, jika 7 kebiasaan Al Fatihah ini dilaksanakan dengan baik, maka dalam diri seseorang itu akan tumbuh nilai-nilai ihsan. Sebab, setiap awal denyut kehidupan seseorang, di mulai dengan bismllah, sebagai pembuka pintu rahmat dari kehidupan itu sendiri dan penyadaran penuh akan kelemahan diri. Selanjutnya mengiktuti siklus berulangnya waktu dan berulangan denyut kehidupan itu sendiri, hingga sampai pada cerminan diri.

 

  1. Tindak Lanjut

          Untuk memahami ihsan dalam aplikasi B5KB diperlukan komitmen yang kuat dalam diri seseorang untuk berhijrah dari kondisi kekinian ke kondisi seven habits, diperlukan konsistensi komitmen dan konsistensi untuk melakukan perbaikan diri terus menerus. Untuk itu diperlukan evaluasi diri dalam bentuk agenda kegiatan yang dilakukan setiap hari. Hati harus selalu bersih dari berbagai kotoran dan selalu menanamkan pemahaman bahwa setiap tindakan diri baik yang nyata atau tersembunyi selalu dilihat oleh Allah SWT. Karenanya memelihara konsistensi spritual jadikan kebiasaan sukses dan mulia dan ihsan selalu dalam kehidupan sehari-hari. Dan lebih utama adalah menyisipkan ihsan dalam setiap kegiatan diklat Kecerdasan Spritual dimana saja dalam pelaksanaannya.

 

  1. DAFTAR RUJUKAN

 

Al Qur;anul Karim, 2006. PT. Syaamil Cipta Media, Jakarta

Agustian, A.G., ESQ Power, 2006. Penerbit Agra, Jakarta

Emmy, S. Supardy, S., 2012. Kecerdasan Spritual Bagi PNS, Modul Diklat Kewidyaiswaraan, 

          LAN, Jakarta

Hefni, H., 2008. The Seven Islamic Daily Habit, IKADI, Jakarta