logo-responsive

MEMAHAMI TEKS SASTRA NARATIF DAN SASTRA NONNARATIF DALAM PEMBELAJARAN SASTRA BERBASIS TEKS Oleh H. Yasir Arafat, M.Pd

  1. Pendahuluan

Teks sastra naratif adalah teks-teks yang disusun dengan tujuan artistik dengan menggunakan bahasa. Bahasa yang digunakan terdiri atas bahasa lisan dan tulis.  Berdasarkan situasi bahasa itulah sastra diklasifikasi atas teks puisi, teks naratif atau prosa dan teks drama.

Teks naratif adalah teks sastra yang situasi bahasanya berlapis. Artinya, ada situasi pergantian ketika antara pencerita dengan tokoh membawakan teks secara bergantian. Teks naratif disebut juga sebagai teks pencangkokan. Pencangkokan yaitu ketika pencerita mencangkokan pikirannya ke dalam pikiran-pikiran tokoh. Hubungan antara pencerita dengan tokoh adalah hubungan yang hierarkis sifatnya.

Adapun teks sastra nonnaratif lebih banyak berhubungan dengan puisi. Puisi adalah teks monolog yang menggunakan bahasa yang khas dan mengandung simbol serta kiasan. Bersifat metaforis, metonimia, sinekdoks, personifikasi, hiperbola dan harus ada rima dan irama.

  1. Pembahasan

 

Beberapa pakar sastra menyatakan bahwa teks naratif terdiri atas novel, cerpen, roman, prosa, dan lirik. Perbedaannya terletak pada kompleksitas masing-masing. Misalnya cerpen kompleksitasnya lebih sederhana dibandingkan dengan novel. Novel unsur-unsurnya lebih kompleks sifatnya. Perbandingan antara  cerpen dan novel dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

 

NO

CERPEN

NOVEL

1

Alur lebih sederhana

Alur lebih rumit dan lebih panjang

2

Tokoh yang dimunculkan hanya beberapa orang

Tokohnya lebih banyak dalam berbagai karakter

3

Latar yang dilukiskan hanya sebentar dan sangat terbatas

Latar meliputi wilayah geografi yang luas dan dalam waktu yang lebih lama

4

Tema mengupas masalah yang relatif sederhana

Tema lebih kompleks

 

Berdasarkan isinya karya sastra terbagi empat (4) macam, yaitu:

 

  1. Epik : Karangan yang melukiskan sesuatu secara objektif tanpa mengikuti pikiran dan  perasaan pribadi pengarang.
  2. Lirik : Karangan yang berisi curahan perasaan secara subjektif
  3. Didaktik : Karya sastra yang isinya mendidik penikmat/pembaca tentang masalah moral, tatakrama, keyakinan, dan lain-lain.
  4. Dramatik : Karya sastra yang isinya melukiskan sesuatu kejadian (baik atau buruk) dengan pelukisannya yang berlebih-lebihan.

 

Bagaimana cara menulis teks fiksi?

Ada enam (6) cara yang paling efektif dalam menulis teks fiksi. Cara tersebut dianggap paling pas untuk para penulis teks fiksi, terutama pemula. Inilah enam (6)  tips menulis teks fiksi:

  • Paragraf Pertama yang mengesankan

   Selain judul, paragraf pertama adalah etalase sebuah cerita. Paragraf pertama itu kunci, kunci pembuka. Oleh karena itu, mulailah paragraf itu dengan kata-kata yang mengesankan, yang membuat pembaca penasaran.

  • Pertimbangkan Pembaca dengan baik

   Pembaca adalah konsumen, sedangkan pengarang adalah produsen. Produsen harus senantiasa mempertimbangkan “mutu produknya” agar bisa dipasarkan. Pembaca memerlukan bacaan yang segar, unik dan menyentuh rasa kemanusiawiannya.  

  • Menggali suasana

   Mengaitkan suasana hati tokoh ceritanya dengan suasana tempat, kota, gedung, lalu lintas,dan lain-lain.

 

 

  • Menggunakan kalimat efektif

    Kalimat efektif adalah kalimat yang berdaya guna, yang langsung memberikan kesan kepada pembaca. Kalimat demi kalimat disusun seefektif mungkin, sehingga pembaca merasa mudah untuk menangkap maksud dari setiap bagian cerita tersebut hingga tamat.

  • Menggerakkan tokoh (karakter)

   Dalam cerita pasti ada tokoh. Tokoh-tokoh harus senantiasa bergerak secara fisik dan psikis hingga terlukis kehidupan sebagaimana wajarnya dalam kehidupan sehari-hari.

  • Sentakan akhir

   Cerita harus diakhiri ketika persoalan sudah dianggap selesai.

Ketika menulis teks fiksi, harus pula diingat, ada dua unsur yang paling dominan. Dua unsur ini menjadi pembangun dalam setiap teks fiksi. Dua unsur itu adalah unsur Intrinsik dan eksterinsik.

Unsur intrinsik meliputi:

  • Tema

Yaitu garis besar sebuah karya. Tema dapat menjadi acuan dalam setiap penulisan teks fiksi. Misalnya ada tema percintaan, perjuangan, keluarga, politik dan sebagainya. Setiap tema bisa menjadi menjadi judul sebuah karya fiksi. Tema yang baik harus mampu menjadi inspirasi penulis dan juga pembaca/penikmat sastra.

 

 

 

  • Amanat

Amanat dalam karya fiksi bersifat tersirat (tidak tampak) tetapi dapat dirasa dan dipahami oleh penikmat sastra. Amanat selalu diselipkan oleh penulisnya. Tujuan dari amanat agar pembaca “melakukan” apa yang ingin disampaikan penulisnya.

  • Latar

Latar biasa disebut dengan setting. Latar bisa juga bermakna dasar pijakan seorang penulis memulai tulisannya. Misalnya karya fiksi Hamka dengan judul Tenggelamnya kapal Vanderwijk” berlatar tentang adat Minangkabau dan kawin muda.

  • Alur

Alur bisa maju, mundur atau kedua-duanya. Alur maju maksudnya, karya fiksi memulai dari awal, tengah dan akhir dengan pola yang dinamis. Sedangkan alur mundur adalah menceritakan akhir dari sebuah tulisan fiksi, kemudian disambung dengan alur tengah dan alur awal. Contohnya alur ini sangat banyak ditemukan pada novel-novel para pujangga lama.

  • Tokoh

Tokoh atau karakter dalam karya fiksi ada dua macam, yaitu: antagonis, an protogonis. Antagonis bermakna jahat sedangkan protogonis bermakna baik. Pertarungan antara tokoh antagonis dan protogonis selalu ada dalam setiap karya fiksi.

 

  • Sudut pandang

Sudut pandang atau cara pikir penulis karya fiksi berbeda-beda. Hal ini terjadi karena masing-masing penulis mempunyai ilmu,pengalaman dan wawasan yang berbeda-beda pula. Sudut pandang sastrawan angkatan 66 sangat berbeda dengan sudut pandang sastrawan kontemporer.

  • Diksi

Diksi atau pilihan kata. Masing-masing penulis teks fiksi mempunyai cara yang berbed dalam melakukan diksi. Kata-kata seperti;  saya, aku, beta, duli, adalah diksi yang sering digunakan penulis dalam menulis karya fiksinya.

  • Gaya Bahasa

Penggunaan gaya bahasa dalam menulis teks fiksi juga merupakan hak “paten” seorang penulis. Setiap penulis punya gaya bahasa yang menjadi ciri khas mereka masing-masing. Misalnya, ada gaya bahasa yang mendayu-dayu dalam melukiskan kesedihan tokohnya. Ada juga gaya bahasa yang blak-blakan, saat tokoh tersebut marah atau emosinya lagi memuncak.

  • Dialog

Dialog merupakan bagian dari kata atau kalimat dari tokoh-tokoh dalam teks fiksi. Dialog bisa berbentuk monolog atau dua arah, bahkan beberapa arah. Dialog menjadi “hidup” jika para tokoh menghayati isi dialognya. Selain itu yang didialogkan merupakan peristiwa yang sedang terjadi di masyarakat.

Unsur Ekstrinsi meliputi:

  • Latar belakang kehidupan, keyakinan dan pandangan hidup pengarangnya
  • Adat istiadat yang berlaku disuatu tempat
  • Situasi politik
  • Persoalan sejarah
  • Masalah ekonomi

 

  1. Penutup

 

Teks sastra naratif terdiri atas bahasa lisan dan tulis.  Berdasarkan situasi bahasanya, yang termasuk ke dalam teks naratif adalah teks puisi, teks prosa dan teks drama.

Yang termasuk ke dalam teks nonnaratif adalah puisi. Puisi merupakan teks monolog menggunakan bahasa yang khas dan mengandung simbol serta kiasan. Puisi selalu bersifat:

  1. Metaforis yaitu berhubungan dengan lambang-lambang.
  2. Metonimia yaitu majas yang menggunakan sepatah-dua patah kata atau lainnya yang merupakan satu kesatuan dari sebuah kata. Contoh: Rokok diganti dengan DJARUM. Mobil diganti dengan KIJANG
  • Sinekdoks yaitu majas yang menggunakan sesuatu bagian dari objek untuk menyatakan benda/sesuatu secara keseluruhan atau sebaliknya. Contoh: “Kembang desa”.
  1. Personifikasi yaitu perlakuan tokoh yang “bukan” manusia tetapi mempunyai sifat atau karakter seperti manusia.
  2. Hiperbola penggunaan majas yang berlebihan.
  3. Rima disebut juga aturan dalam menulis puisi, seperti aa atau bb atau ab-ab
  4. Irama yaitu ritme atau artikulasi dalam bentuk puisi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bahan Bimtek Kurikulum 2013 (revisi) Kemendikbud. Jakarta.

Buku Teks Guru , 2017. Bahasa dan Sastra Indonesia SMP/MTs. Kemendikbud: Jakarta

Buku Teks Siswa , 2017. Bahasa dan Sastra Indonesia SMP/MTs. Kemendikbud: Jakarta

E.Kosasih, 2016. Jenis-Jenis Teks. Penerbit Yrama Widya: Bandung

Permendikbud  No. 20-24 tahun 2016 (revisi)