logo-responsive

MEMBANGUN CITRA DIRI ASN (Esensi Diklat Revolusi Mental Bagi ASN)

Dalam melakukan revolusi mental, kesadaran akan diri sendiri (self awareness) mutlak dibutuhkan. Seseorang hanya akan mungkin melakukan perubahan atas apa yang diketahuinya. Agar mampu melakukan perubahan skema mental syarat utama adalah menyadari citra diri sendiri kekuatan dan kelemahannya serta memahami apa sebenarnya jati dirinya yang sejati. Untuk memperoleh citra diri yang positif sangat dipengaruhi oleh citra diri pemimpin yang berkarakter. Pemimpin yang berkarakter lahir dari kemampuan seseorang menghidupi jati dirinya, yakni memberi yang terbaik kepada orang lain  (pelayan).

                Ada korelasi positif antara upaya membangun citra diri dengan karakter seorang pemimpin. Citra diri akan sangat dipengaruhi oleh karakter pemimpin. Pemimpin yang mempunyai karakter melayani akan membawa pengaruh positif terhadap bawahan yang juga siap untuk memberikan pelayanan yang terbaik.

 

MEMBANGUN CITRA DIRI ASN

(Esensi Diklat Revolusi Mental Bagi ASN)

 

Oleh Surya Subur

Abstrak

 

                Dalam melakukan revolusi mental, kesadaran akan diri sendiri (self awareness) mutlak dibutuhkan. Seseorang hanya akan mungkin melakukan perubahan atas apa yang diketahuinya. Agar mampu melakukan perubahan skema mental syarat utama adalah menyadari citra diri sendiri kekuatan dan kelemahannya serta memahami apa sebenarnya jati dirinya yang sejati. Untuk memperoleh citra diri yang positif sangat dipengaruhi oleh citra diri pemimpin yang berkarakter. Pemimpin yang berkarakter lahir dari kemampuan seseorang menghidupi jati dirinya, yakni memberi yang terbaik kepada orang lain  (pelayan).

                Ada korelasi positif antara upaya membangun citra diri dengan karakter seorang pemimpin. Citra diri akan sangat dipengaruhi oleh karakter pemimpin. Pemimpin yang mempunyai karakter melayani akan membawa pengaruh positif terhadap bawahan yang juga siap untuk memberikan pelayanan yang terbaik.

 

Kata kunci: citra diri ASN, karakter pemimpin

 

  1. Pendahuluan

                Citra diri atau konsep diri mempengaruhi perilaku dan cara seseorang bertindak. Citra diri yang dibangun atas kesadaran mengenai dirinya yang sejati akan melahirkan citra diri positif yang berdampak dalam cara kepemimpinan yang berkarakter melayani. Setiap orang sudah lahir dengan memiliki potensi diri yang positif, sudah memiliki nilai-nilai positif dalam dirinya. Pemimpin yang berkarakter dapat lahir dari pribadi-pribadi yang menghidupi jati dirinya yang sejati.

                Dalam modul diklat  Revolusi Mental (LAN, 2016), konsep diri tersebut dapat dibagi dua:  yaitu konsep diri ideal dan konsep diri aktual.  (a) konsep diri ideal, yakni bagaimana seseorang mempersiapkan dirinya, terutama tentang kemampuan dan sifat-sifatnya. Diri ideal ini adalah keyakinan kita bahwa kita mempunyai sifat atau kompetensi yang tertentu. Walaupun belum tentu orang lain melihat kita memiliki sifat atau kompetensi tertentu. (b) konsep diri aktual yakni konsep diri kita apa adanya. Biasanya orang lain bisa melihat diri kita yang aktual ini, termasuk kekuatan dan kelamahan-kelemahan kita. Diri kita sebagaimana dilihat oleh orang lain.

                Dalam kondisi ideal tentu saja kita ingin memperlihatkan citra diri yang ideal itu kepada orang lain. Kadang-kadang kita berpikir “siapa sebenarnya kita menurut penilaian orang lain”. Dalam psikologi sering disebut dengan istilah citra diri yang kita diharapkan. Kita dilihat seperti apa oleh orang lain. Berdasarkan pembiasaan citra diri ini menentukan perilaku kita, karena kita bertindak menurut yang kita yakini orang lain mengharapkan hal itu dari kita.

                Dalam sebuah teori menyatakan bahwa setiap orang mempunyai persepsi tentang dirinya. Joseph Luft (1916-2014) dan Harrington Ingham (1914-1995) menciptakan teknik yang memudahkan kita memahami diri. Istilah yang mereka cetuskan ini disebut “Johari Window”. Nama Johari-Window sebenarnya diambil dari nama kedua pencetus teori ini yakni Joseph dan Harrington.

                Dalam Johari-Window citra diri manusia terbagi menjadi 4 (empat) wilayah. Wilayah pertama adalah open area: wilayah ini adalah bagian diri kita  yang kita sadari dan juga diketahui oleh orang lain. Wilayah ini sering juga disebut public self.  Wilayah kedua adalah hidden area,  yakni bagian dari diri kita yang kita rahasiakan, disebut sebagai privet self. Wilayah ketiga adalah blind area, yakni bagian dari diri kita yang diketahui oleh orang lain tapi kita tidak mengetahuinya. Wilayah ini adalah bagian dari blind spot (kelemahan) kita. Wilayah keempat adalah unknown area, yakni bagian dari diri kita yang kita tidak ketahui dan orang lain pun tidak mengetahuinya. Unknown area ini berisi potensi-potensi yang ada dalam diri kita yang belum muncul. Keseluruhan pemahaman kita tentang diri kita (LAN, 2016).

                Stuart dan Sudeen (1998), mendefinisikan konsep diri sebagai “semua ide, pikiran, kepercayaan, dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain”.  (LAN, 2016).

                Jalaluddin Rahmat (1994) berpendapat bahwa faktor yang mempengaruhi konsep diri seseorang adalah faktor orang lain dan kelompok rujukan. Kelompok rujukan (reference group) di dalam masyarakat kita menjadi anggota masyarakat, selain itu jika juga menjadi anggota kelomppok misalnya, rukun tetangga, atau bergabung dalam kelompok-kelompok lainnya. Kita lebih mengenal orang lain terlebih dahulu daripada mengenal diri sendiri. Bagaimana kita menilai diri kita, hal itu akan membentuk konsep diri kita. (Hj. Wahyu Suprarti, H. Azom Romly, 2009: 19).

                Lalu bagaimanakah terbentuknya konsep diri ? Dari berbagai literatur menjelaskan bahwa konsep diri terbentuk melalui rangkaian pengalaman, yang mula-mula tampak serabutan dan terpisah-pisah, namun dirangkai menjadi satu kesatuan yang membentuk citra diri seseorang. Sejak bayi kita menangkap “pola konsisten” yang membentuk konsep dasar tentang dirinya. Kita membentuk identitas diri melalui proses pengalaman alamiah, pengalaman dari hari ke hari hingga usia kita saat ini.

                Maka ada kehati-hatian dalam memberi label pada saat anak usia dini dalam membentuk citra diri. Seperti anak pintar, anak cantik, anak hebat, anak ganteng, atau anak baik atau stigma negatif seperti anak nakal, anak kurang pintar, tukang ribut, tukang melawan, bawel dan sebagainya. Label atau stigma ini kita terima, diserap alam bawah sadar kita, dan akan mempengaruhi penilaian kita terhadap diri kita. Pemberian label ini terus berlanjut terus pada saat kita remaja, bahkan sampai pada saat kita dewasa. Kita menerima berbagai peran sosial yang disertai harapan dan sekaligus label-label tertentu yang menyertainya.

                Label-label sosial yang melekat dalam diri kita yang dianggap penting akan kita hayati dan menjad sebuah nilai hidup. Maka sudah barang tentu akan menjadi bagian identitas diri kita. .i Identitas diri inilah yang kelak akan menjadi konsep diri atau citra diri kita. Citra diri ini pada gilirannya mempengaruhi cara berpikir, merasa dan berperilaku.

                Lalu bagaimanakah terbentuknya citra diri positif dalam kira ASN ? Pemahaman tentang citra diri positif bagi aparatur sipil negara adalah terkait dengan jiwa melayani dengan sepenuh hati. ASN yang baik adalah ASN yang berperan sesuai dengan amanah yang diberikan kepadanya yakni sebagai pelayan masyarakat. Untuk bisa menjadi ASN berkarakter melayani diperlukan latihan terhadap diri sendiri dan selalu diberi contoh atau teladan dari pada pemimpin dimana ASN tersebut bekerja.

                Stephen R. Covey (2006) setelah sukses dengan program The 7 habits of highly effective people akhirnya menyempurnakan ketujuh kebiasaan efektif itu dengan kebiasaan kedelapan yang disebutnya sebagai kebiasaan yang melampaui efektivitas dan mencapai keagungan yakni kebiasaan mendengarkan suara hati. Ini adalah bagian lapisan terdalam dari kepribadian setiap orang. Maka ketika orang sampai pada jati dirinya yang sejati, berarti dia sampai pada nilai terdalam, di mana semua makhluk menemukan akar dari semua nilai yakni dalam “suara hatinya”. Pada titik ini orang mampu memberikan yang terbaik kepada orang lain secara tulus. Prilaku inilah yang sering kita sebut sebagai kemampuan “melayani dengan sepenuh hati”.

                Dari hasil penelitiannya, Covey menyimpulkan bahwa ini dari kepemimpinan adalah  kemampuan melayani (mempengaruhi orang lain secara positif), sehingga orang lain bertumbuh dan berkembang. Ia yakin bahwa di dalam diri setiap orang ada kemampuan seorang pemimpin, yakni kemampuan “melayani” tesebut.

                Kemampuan bertumbuh dan berkembang setelah mendapat pelayanan dalam hal kebutuhan kepribadian seseorang  dari seorang pemimpin menunjukkan bahwa pelayanan dari aspek apapun yang diberikan oleh seorang “pelayan” (pemimpin) adalah sesuatu yang lazim didapatkan masyarakat.  Dengan kemampuan memberikan pelayanan yang terbaik dalam setiap sisi kehidupan seorang ASN akan tercermin dalam kehidupannya sebagai ASN yang bercitra diri positif.

 

  1. Permasalahan

                Dari uraian di atas permasalahan yang diangkat dalam tulisan ini adalah bagaimanakah cara membangun citra diri Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berkarakter melayani dengan sepenuh hati ? Mengubah citra diri ASN yang berparadigma minta dilayani menjadi ASN yang siap memberikan pelayananan dengan kesadaran dan ketulusan hati, karena pada dasarnya ASN lahir untuk menjadi pemimpin yang “melayani” ? Inilah sisi esensi yang harus diangkat dalam upaya membentuk citra diri ASN yang melayani.

 

III. Pembahasan

                Dalam membangun citra diri ASN banyak sudu pandang yang harus dikaji dan dianalisa sehingga memberikan formula yang ideal. Dalam sebuah teori tentang konsep diri Joseph Luft (1916-2014) dan Harrington Ingham (1914-1995) sebagaimana tertulis di atas. Wilayah open area merupakan wilayah yang harus dikembangkan untuk menciptakan citra ideal karena ia berada di bawah kesadaran kita. Kita mengetahui betul siapa diri kita dan juga orang lain tahu sifat kita ini. Wilayah ini merupakan wilayah formal dalam diri kita, misalnya sifat penakut. Kita sadar betul bahwa diri ini penakut atau fobia dalam kesendirian, sikap ini bisa diketahui oleh orang lain. Karena kita dan orang lan tahu, maka sifat ini akan menjadi perhatian teman, kerabat dan diri kita untuk diperbaiki, sehingga berubah menjadi sift pemberani. Secara umum wilayah ini menjadi  perhatian kita atau bisa jadi menjadi modal kita untuk mengembangkan potensi diri dalam membentuk citra. Dengan memanfaatkan potensi ini kita bisa menjalin komunikasi yang apik dalam bermasyarakat. 

Wilayah yang kedua, yakni hidden area. Adalah wilayah rahasia dalam diri kita. Wilayah dimana hanya diri kita yang tahu. Dalam kaitannya dengan membangun citra diri. Wilayah ini hendaknya kita optimalkan sifat-sifat positifnya, yakni potensi dalam diri kita yang masih tersembunyi dan orang lain belum tahu dan itu adalah potensi luar biasa yang kita tersembunyi dalam kita. Semangat untuk memunculkan sifat=sifat atau potensi positif ini akan mempengaruhi citra positif diri  kita. Sedang area ketiga dalam Johari Window, yakni blind area, yaitu arena dimana diri kita tidak mengetahui apa yang dalam diri kita, justru orang lain yang melihat potensi diri ini. Untuk membangun potensi diri positif, kita hendaknya mengembangkan public area yang ada dalam diri kita dengan cara berkomunikasi terbuka tentang diri kita. Misalnya bertanya kepada teman sejawat, kira-kira apa kekuarangan saya dalam bergaul dengan kalian ? Apakah saya terlihat sombong ? dan sebagainya. Sikap seperti ini akan membuka tabir perilaku atau karakter kita yang kita tidak sadari atau ketahui. Wilayah keempat, yakni unknown area, adalah area dimana kita dan orang lain belum bisa melihat potensi diri yang kita miliki. Dalam kaitannya dengan membangun citra positif diri, wilayah ini harus kita buka seluas-luasnya dengan cara melakukan aktivitas-aktivitas positif setiap hari seraya merenungkan apa yang telah kita lakukan. Apakah menyenangkan atau justru menjadi beban ?

Sebenarnya setiap diri seseorang sudah tertanam potensi-potensi  nilai dalam kodratnya sebagai jati diri sejati. Proses menumbuhkan potensi nilai yang tertanam dalam diri tersebut untuk menjadi sebuah karakter berlangsung melalui 2 (dua) langkah secara terus-menerus. Pertama, melakukan perbuatan nilai tersebut dalam hidup sehari-hari. Misalnya, memberi yang terbaik kepada orang lain mulai dari anggota keluarga dan juga rekan-rekan di kantor. Wujudnya bisa jika ketemu selalu menyambut dengan senyum ramah dan tulus serta sapa. Berusaha memberi yang terbaik dalam layanan, berusaha membantu dan menolong dengan tulus. Kedua, perilaku nilai itu dilakukan secara terus menerus (lagi dan lagi), yakni dilakukan terus-menerus berkelanjutan, sehingga lama-lama perilaku nilai tersebut menjadi “kebiasaan” (habit).

                Kebiasaan yang terus menerus dipraktikan, diulang-ulang – dalam proses waktu, akhirnya kebiasaan itu menjadi sangat menonjol, kita lakukan secara otomatis dalam berbagai situasi dan kondisi. Kebiasaan yang sangat menonjol inilah yang kita sebut sebagai sifat.

                Sifat yang sangat menonjol yang dilakukan oleh seseorang secara alamiah dan diyakini sebagai sebuah perilaku yang bernilai, sehingga mempengaruhi cara pikir, cara merasa, dan cara bertindak seseorang, itulah yang pada akhirnya secara teoritis disebut sebagai “karakter”. Demikianlah perilaku yang diulang-ulang , bisa menjadi kebiasaan, meningkat menjadi sifat dan akhirnya menjadi karakter.

                Pertanyaannya dari manakah karakter ini bisa terbentuk ? Akankah karakter ini bisa dibentuk dengan sendirinya dalam diri seseorang ? Jawabannya tentu tidak ! Karakter itu tumbuh dan berkembang seiring dengan pembiasaan yang dilakukan secara terus menerus. Anak akan mengikuti pembiasaan orangtuanya dan guru, remaja akan mengikuti pembiasaan orang-orang yang menjadi idolanya. Bawahan akan melalukan pembiasaan-pembiasaan yang dilakukan oleh atasannya (pemimpin).

                Terkait dengan ASN sangat dipengaruhi oleh perilaku atau pembiasaan karakter atasanya. Karakter seorang pemimpin bisa mempengaruhi seluruh anggota yang dipimpinnya. Seorang ASN akan mengobservasi apa yang dilakukan oleh pemimpinnya – dan berdasar pada apa yang mereka lihat – mereka memutuskan apakah mereka menghormati dengan tulus atau berpura-pura menghormati pemimpinnya tersebut. Seorang pemimpin yang sungguh-sungguh menampilkan nilai-nilai dalam setiap perilakunya, akan dihormati dengan penuh respek dan apa yang dikatakannya diikuti oleh semua bawahannya. Sebaliknya, jika pemimpin dalam memimpin tidak berdasarkan nilai maka akan terjadi penghormatan yang penuh dengan kepura-puraan.

                Menurut Higgins (1987), ada empat komponen konsep diri yang membentuk skema diri atau citra diri seseorang, yakni (a) diri ideal (ideal self), (b) citra diri (self image), (c) harga diri (self esteem), dan (d) jati diri (true self).

(a) diri ideal (ideal self) adalah diri yang kita cita-citakan. Kita ingin menjadi pribadi seperti apa ? Menjadi pribadi  yang berkarakter melayani masyarakat atau menjadi pribadi yang dilayani. Diri ideal ini menyangkut keyakinan diri tentang kita yang seharusnya berdasar pada nilai-nilai yang sudah kita internalisasikan (batinkan).

(b) citra diri (self image) adalah citra diri seseorang tentang penampilan dirinya. Hal ini meliputi kondisi fisik (cantik, ganteng, kuat, muda, sehat an lain-lain). Citra diri ini meliputi persepsi seseorang tentang penampilan dirinya, kemampuan atau ketidakmampuannya, peranan sosial dan status sosialnya. Konsep diri sosial tergantung pada bagaimana kita mempersepsi diri kita. Hal itu tergantung pada apa yang kita lakukan dan tentu orang lain merasakannya secara langsung. Misalnya pribadi yang terus-menerus melayani, akan mengembangkan konsep diri sosial sebagai pribadi yang senang melayani.

(c) harga diri (self estem) adalah adalah rasa hormat diri, bagaimana kita menghargai diri kita sendiri. Harga diri ini merupakan hasil dari bagaimana kita menjalani kehidupan. Ketika seseorang selalu memilih melakukan yang baik dan mendapat pengakuan dari orang lain, maka yang bersangkutan makin memiliki harga diri yang kuat. Harga diri ini membentuk cara kita memandang diri kita sendiri dan mempengaruhi cara kita berelasi dengan orang lain (Liberman, 2007).

(d) jati diri (true self)  adalah adalah diri kita yang paling dalam, sering juga disebut “jati diri” yang merupakan diri kita yang paling dasariah. Bagian diri yang paling sejati inilah yang merupakan citra diri kita yang paling murni dan suci. Diri yang sejati inilah yang sebenarnya esensi diri kita yang sesungguhnya. (Citra Diri Pemimpin Yang Berkarakter, Modul LAN, 2016)

                Citra diri ini muncul dari penilaian orang lain terhadap diri kita. Kalau kita kaitkan dengan konsep  Johari Window, maka diri ideal adalah konsep yang berada pada wilayah terbuka (open arena). Wilayah dimana kita sadar tentang diri kita dan orang lain sama-sama memahami tentang sifat dan karakter kita. Kondisi ini akan memunculkan citra diri  jika terus-menerus kita kembangkan ke arah sifat atau perilaku positif. Sifat-sifat positif yang terus menerus berulang akan membentuk karakter atau citra diri positif (diri ideal).

                Pembiasaan yang terus menerus dipraktikan, diulang-ulang dalam proses waktu akhirnya akan membentuk sifat atau karakter. ASN yang senantiasa melakukan hal-hal positif mulai dari keaktifan, disiplin, tanggungjawab, akuntabel dalam setiap pekerjaan akan membentuk citra positif terhadap dirinya, yakni ASN yang diharapkan oleh Bangsa dan Negara.

                Pemimpin yang berkarakter melayani akan muncul melalui pembiasaan karakter yang terus-menerus dilakukan. Karakter pemimpin seperti ini akan menjadi magnit bagi bawahan untuk melakukan hal yang sama, sehingga tanpa regulasi atau aturan yang mengikat pun bawahan akan serta merta melalukan hal yang sama yakni memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.

                Dengan demikian jelas citara seorang memimpin berkarakter hanya bisa dibangun oleh mereka yang menghidupi nilai-nilai kebaikan itu sendiri. Artinya nilai-nilai itu telah menjadi kenyataan dalam ucapan, perilaku dan keputusan-keputusan yang mereka ambil. Pemimpin seperti ini akan mempunyai citra diri positif dan mempengaruhi orang-orang disekitarnta.

 

  1. Penutup

                Karakter seorang pemimpin bisa dibangun melalui proses pembiasaan perilaku yang berlangsung lama. Proses ini muncul dengan sendirinya melalui semangat untuk melakukan sesuatu yang terbaik dalam hal memberikan pelayanan kepada masyarakat. Ada keinginan untuk selalu berbuat baik kemudian ditindaklanjuti dengan eksen nyata melalui kontrol bawahan dan masyarakat. Aktivitas yang dilakukan seorang pemimpin yang sadar akan perilakunya selalu diawasi oleh “ribuan mata” baik bawahan maupun masyarakat, membuat pemicu tercendiri untuk selalu membuang perilaku yang kurang baik atau kurtang pas menjadi perilaku yang diterima oleh bawahan dan masyarakat. Perasaan inilah yang mendorong seorang pemimpin untuk selalu menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam keseharian. Nilai-nilai yang ditanamkan ini sudah barang tentu menjadi nilai-nilai kolosal yang akan diikuti oleh bawahan. Karenanya, pembiasaan nilai-nilai kebaikan akan menjadi dorongan bagi bawahan untuk selalu berbuat baik.

                Dalam hal memberikan pelayanan, sebenarnya pemimpin adalah segalanya. Apa yang dilakukan seorang pemimpin akan mempengaruhi perilaku bawahan. Pemimpin yang memberikan pelayanan yang terbaik terhadap bawahan, akan berdampak bawahan akan memberikan pelayanan yang lebih baik dari apa yang diberikan pemimpinnya.

                Untuk dapat melakukan pembiasaan yang baik, diperlukan pemahaman tentang karakter diri kita sendiri. Apakah kita termasuk orang yang terbuka, tertutup atau seperti apa ? Dengan mempunyai kesadaran ini kita dapat mencoba untuk memperbaiki yang kurang untuk kesempurnaan kehidupan sebagai ASN yakni sebagai pelayanan bagi masyarakat.

 

  1. Kesimpulan

                Dari uraian di atas, dapat ditarik beberapa simpulan yaknni:

  1. Citra diri adalah pemahaman tentang diri kita dimana di dalamnya semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang kita ketahui tentang diri kita. Citra diri ini disebut juga dengan konsep diri dimana ia terbentuk dari potensi nilai yang dilakukan melali proses pembiasaan;
  2. Potensi nilai perlu diwujudkan dalam perbuatan nyata sehari-hari untuk dijadikan sebagai pembiasaan;
  3. Pembiasaan-pembiasaan yang bernilai positif dari pimpinan akan menjadi dorongan bagi bawahan untuk melakukan hal yang sama bahkan lebih;
  4. Bila kebiasaan sudah menjadi karakter maka setiap orang  akan bertanggung jawab akan apa yang menjadi karakter tersebut;
  5. Ketika kita menghidupi jati diri kita yang sejati, maka kita selalu melakukan yang baik dan benar. Hal ini akan membuat harga diri kita makin kokoh dan kuat. Orang lain juga mengapresiasi perilaku kita yang baik dan benar, sehingga membuat citra diri (self imahe) kita menjadi makin positif;
  6. Setiap orang dapat membangun citra dirinya sebagai pemimpin yang berkarakter dengan cara sederhana yakni memimpin dengan hati. Dengan kata lain , pemimpin yang menghidupi jati dirinya yang sejati.

 

  1. Daftar Pustaka
  • Covey, R.S, 2004, The 8th Habit: From Effectiveness to Geatness, Free Press, New York
  • Covey, R.S, 2008, The leader in me, Free Press, New York
  • Erickson, E.H, 1982, The life cycle completed, Norton, New York
  • Lembaga Administrasi Negara, 2016, Bahan Ajar Pelatihan Revolusi Mental Bagi Aparatur Sipil Negara, Pusat Diklat Teknis Fungsionsal, Jakarta
  • Suprarti, Hj., Azom Romly, 2009, Pengembangan Potensi Kepemimpinan Kepala Tata Usaha, Seri Modul Diklat, Departemen Agama Badan Litbang dan Diklat, Jakarta.