logo-responsive

NASIONALISME DALAM PERSPEKTIF WAWASAN KEBANGSAAN

 

Oleh Surya Subur*

( Widyaiswara pada BDK Banjarmasin )

Editor  :  bangyoes

Abstrak

Nasionalisme sangat penting dipahami bagi setiap ASN. Dikembangkan berdasarkan kerangka pikir bahwa setiap ASN harus memiliki nasionalisme dan wawasan kebangsaan yang kuat dan mampu mengaktualisasikannya dalam pelaksanaan fungsi dan tugasnya sebagai pelaksanaan kebijakan publik, pelayan publik, dan pemersatu bangsa beradasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dalam perspektif wawasan kebangsaan, nasionalisme tidak saja harus dimiliki oleh setiap ASN melainkan kemampuan ASN untuk mengaktualisasikan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya. Diharapkan dengan nasionalisme yang kuat, setiap ASN memiliki orientasi berpikir mementingkan kepentingan publik, bangsa dan negara. ASN tidak lagi berpikir sektoral dengan mental block-nya, melainkan mementingkan kepentingan yang lebih besar, yakni bangsa dan negara.

Kata kunci: Nasionalisme, Wawasan Kebangsaan

 

A. Latar Belakang

      Nasionalisme merupakan sebuah pemahaman pemikiran dan sikap yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dalam mengamankan kehidupan pribadi, berbangsa dan bernegara. Dalam kehidupan pribadi ia merupakan ‘roh’ dalam mencintai bangsa dan negara yang diyakininya sebagai bagian dari iman. Ia akan mendahulukan kepentingan bangsan dan negara di atas kepentingan pribadi dan kelompoknya.Nasionalisme bisa dipandang dari berbagai sudut, bisa secara agama atau kepercayaan, ekonomi, budaya dan politik serta pertahanan dan keamanan.

      Secara politis, makna nasionalisme merupakan menifestasi kesadaran nasional yang mengandung cita-cita dan pendorong bagi suatu bangsa, baik untuk merebut kemerdekaan atau atau mengenyahkan penjajahan maupun sebagai pendorong untuk membangun dirinya maupun lingkungan masyarakat, bangsa dan negaranya. Kita sebagai warga negara Indonesia, sudah tentu merasa bangga dan kecintaan kita terhadap bangsa Indonesia. Kebanggaan  dan kecintaan kita terhadap bangsa dan negara tidak berarti kita merasa lebih hebat dan lebih unggul daripada bangsa dan negara lain. Kita tidak boleh memiliki semangat nasionalisme yang berlebih-lebihan tetapi kita harus mengembangkan sikap saling menghormati, menghargai dan bekerja sama dengan bangsa bangsa lain.

       Dalam perspektif wawasan kebangsaan, nasionalisme tidak boleh dipandang secara sempit, artinya suatu sikap yang meninggikan bangsanya sendiri, sekaligus tidak menghargai bangsa lain sebagaimana mestinya. Sikap seperti ini jelas mencerai-berikan keutuhan bangsa karena dapat membentuk blok nasionalis sempit yang membanggakan diri sendiri tanpa mempedulikan bangsa lain.

Sikap mental individualis dan feodalis dalam tatanan berbangsa dan bernegara menjadi musuh bangsa. Sikap demikian akan dapat dieliminir dengan memberikan pemahanan tentang nasionalisme kebangsaan yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 juga  pemahaman tentang wawasan kebangsaan dan NKRI.

       Wawasan  sering dimaknai dengan konsepsi dan cara pandang seseorang terhadap apa yang ketahui tentang satu hal. Kaitannya dengan negara, wawasan kebangsaan bermakna cara pandang seseorang sebagai warga negara terhadap identitas diri bangsa yang melekat pada dirinya.

Secara tidak langsung, wawasan kebangsaan menekankan adanya pengetahuan mendalam tentang identitas nasional untuk menjelaskan ciri-ciri, tanda-tanda atau jati diri yang melekat dengan dirinya yang diikat oleh kesamaan fisik (seperti budaya, agama, dan bahasa) atau non-fisik ( seperti keinginan, cita-cita dan tujuan ).

      Adalah prestasi para pendiri bangsa yang mampu menyatukan ribuan perbedaan dalam satu tujuan bernama negara Indonesia. Hal tersebut tidak lepas dari proses sejarah munculnya perjuangan “Boedi Oetomo” pada tahun 1908 dan hasil kongres kepemudaan tanggal 28 Oktober 1928 yaitu “Soempah Pemuda” yang dikenal dengan “Kebangkitan Nasional” klimaksnya adalah hari Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945. Kejadian tersebut menggambarkan tentang dalamnya pemahaman wawasan kebangsaaan oleh para pendiri negeri ini.

Pada saat ini tingkat wawasan kebangsaan dapat dinilai dari hasil pencapaian cita-cita bangsa untuk pembentukan Pemerintahan Negara Indonesia yang melidungi segenap bangsa Indonesia, dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan dan Keadilan Sosial.

 

B. Permasalahan

         Seiring berkembangnya zaman, rasa nasionalisme dirasa kian memudar. Hal ini dibuktikan dari berbagai sikap dalam memaknai berbagai hal penting bagi Negara Indonesia. Contoh sederhana yang menggambarkan betapa kecilnya rasa nasionalisme, diantaranya :

  1. Pada saat upacara bendera, masih banyak rakyat yang tidak memaknai arti dari upacara tersebut. Upacara merupakan wadah untuk menghormati dan menghargai para pahlawan yang telah berjuang keras untuk mengambil kemerdekaan dari tangan para penjajah. Para pemuda seakan sibuk dengan pikirannya sendiri, tanpa mengikuti upacara dengan khidmad.
  2. Pada peringatan hari-hari besar nasional, seperti Sumpah Pemuda, hanya dimaknai sebagai seremonial dan hiburan saja tanpa menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme dalam benak mereka.
  3. Lebih tertariknya masyarakat terhadap produk impor dibandingkan dengan produk buatan dalam negeri, lebih banyak mencampurkan bahasa asing dengan bahasa Indonesia untuk meningkatkan gengsi, dan lain-lain.
  4. Kurangnya kesadaran masyarakat “hanya” untuk memasang bendera di depan rumah, kantor atau pertokoan. Dan bagi yang tidak mengibarkannya mereka punya berbagai macam alasan entah benderanya sudah sobek atau tidak punya tiang bendera, malas, cuaca buruk, dan lain-lain. Mereka mampu membeli sepeda motor baru, baju baru tiap tahun yang harganya ratusan bahkan jutaan  tapi mengapa untuk bendera merah putih yang harganya tidak sampai ratusan saja mereka tidak sanggup ?

Semua identitas bangsa Indonesia baik itu bendera merah putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lain sebagainya hanyalah merupakan simbol, simbol bahwa negara Indonesia masih berdiri tegak dan mampu mensejajarkan dirinya dengan bangsa lain. Bagaimana kita bisa  bangga menjadi bangsa ini jika kita malas dan malu memakai atribut bangsa Indonesia ini.

      Jika ditinjau dari sudut pandang, gejala ini mulai terlihat sejak era reformasi karena pada masa orde baru, pemasangan bendera adalah sesuatu yang bersifat wajib. Sejak era reformasi, animo masyarakat untuk turut andil dalam memeriahkan Dirgahayu RI juga berkurang. Pada masa sekarang ini sudah sulit ditemukan perlombaan-perlombaan 17-an. Padahal pada masa orde baru, suasana 17-an telah dirasakan sejak awal Agustus.

Perlombaan 17-an merupakan kegiatan rutin setiap tahunnya dan sudah menjadi budaya baru di negara ini. Melalui kegiatan ini dapat ditanamkan nilai-nilai nasionalisme ke dalam diri generasi muda yang nantinya menjadi penerus bangsa. Contoh, dalam permainan panjat pinang yang paling sulit diraih adalah bendera dan harus melalui usaha keras untuk mendapatkannya. Dari hal kecil tersebut terkandung nilai pembelajaran yang sangat tinggi yaitu untuk merebut kemerdekaan, para pahlawan berjuang mati-matian tanpa mengenal lelah dan tentunya disertai dengan rasa keikhlasan hati. Terakhir, hal yang paling ironis adalah bangsa ini pada kenyataannya kurang menghargai jasa-jasa para pahlawan yang masih hidup hingga sekarang. Mereka yang dahulu telah mengorbankan segalanya untuk kemerdekaan Indonesia justru mendapatkan imbalan berupa kehidupan yang tidak layak disisa umur mereka. Padahal dapat dibayangkan apabila dahulu para pahlawan tidak mau berjuang, pastinya Indonesia masih dalam penjajahan bangsa asing.

 

C. Rumusan Masalah

Melihat dari permasalahan di atas fokus masalah yang diangkat dalam tulisan ini adalah bagaimana membangkitkan kembali semangat nasionalisme dalam perspektif kebangsaan ?

 

D. Pembahasan

      Kewajiban menegakkan sistem kenegaraan Pancasila sebagai terjabar dalam UUD Proklamasi seutuhnya, termasuk melaksanakan amanat: “memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa”. Amanat ini mengandung makna ganda, yaitu:

  1. Meningkatkan kesejahteraan rakyat, terutama dengan menegakkan asas moral sila V Pancasila dan UUD 45 pasal 33 dan 34 yang terjabar sebagai ekonomi Pancasila ( ekonomi kerakyatan, dan demokrasi ekonomi ); dan
  2. Membina kualitas dan integritas SDM Indonesia yang unggul – kompetitif – terpercaya; sebagai wujud nation and character building sebagai manusia dan warga negara NKRI demi tegaknya integritas sistem kenegaraan Pancasila.

        Integritas nilai ganda ini juga mengandung makna sebagai perwujudan kejayaan bangsa dan negara yang jaya dan bermartabat. Integritas demikian memancarkan ketahanan nasional sekaligus integritas dan martabat nasional sebagai bangsa dan negara yang sederajat dalam pergaulan internasional dalam peradaban postmodernisme. Artinya, bangsa NKRI merdeka, berdaulat dan mandiri dalam dinamika dan tantangan postmodernisme.

Kesadaran nasional adalah perwujudan jatidiri bangsa; juga sebagai pengamalan kesadaran kesatuan dan kekeluargaan. Kesadaran kebangsaan merupakan kesadaran harga diri kolektif manusia yang terbentuk oleh alam ( nusantara ), sosio-budaya (tatanan nilai) dan sosio-psikologis rakyat.

        Wawasan kebangsaan Indonesia berkembang dalam dinamika sejarah yang amat panjang, sebagai terlukis dalam skema 1.  yang menunjukkan bahwa asas wawasan kebangsaan ( wawasan nasional ) sesungguhnya bersumber dan berakar dalam sejarah Indonesia yang panjang; seumur dengan nilai filsafat Pancasila. Mengutip pernyataan Bung Karno dalam pidato beliau di PBB 29 September 1961, antara lain: “Berbicara tentang dasar negara Pancasila, kami menyatakan bagaimana nilai-nilai pandangan hidup bangsa Indonesia yang sudah berkembang 2000 tahun berselang……”. Artinya, kesadaran nasional ( sila III Pancasila ) seutuhnya adalah ajaran filsafat Pancasila yang telah tumbuh dan berkembang sejak 2000 tahun peradaban Indonesia, dan diwarisi oleh the founding fathers untuk kita warisi dan tegakkan ( pembudayaan nilai Pancasila seutuhnya ).

Berdasarkan analisis filosofis-ideologis dimaksud, dapatlah dilukiskan perkembangan wawasan nasional Indonesia dalam skema berikut :

 

Dari skema di atas perjalanan bangsa Indonesia tidak lepas dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia dalam membentuk negara Indonesia.  Konsep ini tercetus pada waktu diikrarkan sumpah pemuda 28 oktober 1928 sebagai tekad perjuangan bangsa Indonesia yaitu : satu nusa, satu bangsa dan menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia.

Sejarah abad ke 7 sampai dengan ke 16 bangsa Indonesia berada dalam periode yang disebut “ kerajaan Nusantara “,  pada masa itu ada 2 kerajaan besar :

a) Kerajaan Sriwijaya ( abad ke 7 s.d. 12 )

b) Kerajaan Majapahit ( abad ke 13 s.d. 16 )

       Politik luar negeri majapahit di kenal dengan “ mitreka satata “ (prinsip bertetangga yang baik). Pihak kolonial menggunakan politik “ devide et impera “ (pecah belah kuasai). Tgl 20 mei hari kebangkitan nasional yaitu pergerakan Budi Utomo tgl 20 mei      1908 sebagai perjuangan nasional, yang dijiwai cita-cita Wahidin Sudiro Husodo.

         Dari perjuangan di atas terdapat nilai-nilai dasar wawasan kebangsaan, yaitu :

  1. Penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia.
  2. Tekad bersama untuk berkehidupan kebangsaan yang bebas, merdeka, dan
  3. Cinta akan tanah air dan bangsa.
  4. Demokrasi atau kedaulatan rakyat.
  5. Kesetiakawanan sosial,
  6. Masyarakat adil dan makmur.

Di samping itu terdapat makna-mana wawasan kebangsaan yang mengamanatkan kepada seluruh bangsa Indonesia agar menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi atau golongan. Yakni :

  1. Kesatuan politik
  2. Kesatuan sosial budaya,
  3. Kesatuan ekonomi,
  4. Kesatuan pertahanan keamanan negara.

         Wawasan itu sendiri adalah kemampuan untuk memahami atau cara memandang sesuatu  konsep tertentu yang direpleksikan dalam prilaku tertentu sesuai   dengan konsep atau pokok pikiran yang terkandung di dalamnya.

Kebangsaan bermakna sebagai tindak tanduk kesadaran dan sikap yang memandang dirinya sebagai suatu kelompok bangsa yang sama   dengan keterikatan sosio-kultural yang disepakati bersama.

      Jadi wawasan kebangsaan intinya adalah suatu wawasan yang mementingkan kesepakatan, kesejahteraan, keselamatan, dan keamanan bangsanya sebagai titik tolak dalam berfalsafah berencana dan bertindak. ( aspek moral dan aspek intelektual ). Agar memberikan pemahaman yang kuat terhadap rasa nasionalisme kebangsaan yang lebih mendalam perlu dipahami terbentuknya sebuah negara.

        Dalam sebuah teori negara terbentuk dari adanya tata aturan hidup kelompok, mula-mula tidak tertulis yang batas-batasannya tidak jelas dan merupakan adat kebiasaannya. Lambat laun dengan tuntutan suatu kelompok tersebut terbentuk sebuah organisasi yang memiliki kekuasaan yang disebut negaraNegara Indonesia terbentuk kesamaan nasib dan seperjuangan merasa sama-sama ingin bebas dari belenggu penjajah.

         Negara berasal bahasa asing staat ( Belanda – Jerman ) yaitu status – Inggris (keadaan yang menunjukan sifat atau keadaan tegak dan tetap). Menurut George Jellinek negara ialah organisasi kekuasaan dari sekelompok manusia yang telah berkediaman diwilayah tertentu.

Dari bentuknya negara terbagi  2 :

A. Negara Kesatuan ; Suatu negara yang merdeka dan berdaulat, dimana diseluruh negara yang berkuasa hanya satu pemerintah ( pusat ) yang mengatur seluruh daerah. Hal ini dilaksanakan dengan sistem :

  1. Sentralisasi, yaitu segala sesuatu dalam negara itu langsung diatur dan diurus oleh pemerintah pusat, sedang daerah-daerah tinggal melaksanakan.
  2. Desentralisasi, yaitu daerah diberikan kesempatan dan kewenangan untuk mengurus urusan rumah tangganya sendiri ( otonomi daerah ) yang dinamakan daerah otonom.

B. Negara serikat ( federasi ) ialah suatu negara yang merupakan gabungan beberapa negara, yang menjadi negara-negara bagian dan negara Unsur Negara:

a. harus ada wilayahnya,
b. ada rakyatnya,
c. ada pemerintahannya yang berkuasa
d. ada tujuannya dan mendapat pengakuan dari negara lain.

          Sebuah negara tidak akan berdiri jika tidak ada rakyatnya dan pemerintahan yang sah. Kumpulan rakyat yang mendiami suatu wilayah berdaulat dinamakan bangsa.  Bangsa merupakan kumpulan dari masyarakat yang membentuk negara. Menurut Ernest Renan ( Prancis ), bangsa terbentuk karena adanya keinginan untuk hidup bersama dengan perasaan setia kawan. F. Ratzel ( Jerman ) ; bangsa terbentuk karena adanya hasrat bersatu. Hasrat itu timbul karena adanya rasa kesatuan antara manusia dan tempat tinggalnya.

Bangsa Indonesia sejak terbentuknya suatu negara yang berdaulat telah menyusun cita-cita bangsa strategis yang mencakup tidak saja demi kemakmuran bangsa dan negara melainkan juga berperan aktif dalam kancah internasional. Tujuan mulia tersebut tercantum dalam pembukaan UUD 1945, antara lain :

  1. Supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas ……..
  2. Membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia……

      Nilai kejuangan diletakan pada upaya selama bergenerasi-generasi untuk mencapai kemerdekaan. Nilai kejuangan ini dimiliki oleh generasi pra 45 dan generasi 45 yang seterusnya dipertahankan dalam kemerdekaan ini dengan diisi oleh kegiatan-kegiatan yang positif.

Jiwa dan makna dalam perjuangan yang diwariskan kepada seluruh elemen bangsa Indonesia adalah:

  1. jiwa merdeka, ( tanpa ketergantungan pada negara lain )
  2. jiwa persatuan dan kesatuan.
  3. jiwa konsekwen tanpa pamrih dan sederhana.
  4. jiwa kokoh dan tak kenal menyerah.
  5. jiwa propatria, ( rasa cinta besar terhadap tanah air )
  6. jiwa keikhlasan berjuang.

Di samping jiwa dan makna perjuangan yang diwariskan ada juga nilai-nilai prinsip kejuangan :

I  Nilai-nilai 1945 :

  1. Proklamasi kemerdekaan 17 agustus 1945 sebagai penjelma falsafah dan pandangan hidup seluruh bangsa Indonesia dalam pembukaan     UUD 45
  2. Lima sila dalam Pancasila.
  3. Nilai-nilai yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945 :
  •  Negara kesatuan ( mengatasi segala paham golongan, dan segala faham perorangan )
  •  Tujuan negara, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan  seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut  melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,   perdamaian abadi dan keadilan sosial.

    4. Negara yang berkedaulatan rakyat ( kerakyatan dan permusyawaratan perwakilan )

  • Negara berdasarkan ketuhanan Y M E
  • Negara yang merdeka dan berdaulat.
  • Anti penjajahan ( tidak sesuai dengan prikemanusiaan )

         Hal maha penting yang juga harus dipahami oleh semua elemen bangsa adalah prinsip-prinsip penjelmaan pancasila, yaitu:

a. Prinsip-prinsip yang tercantum dalam UUD 1945:

  1. Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik.
  2. Menjunjung tinggi hak asasi manusia
  3. Sistem sosial budaya berdasarkan azas bhineka tunggal ika.
  4. Sistem politik atas dasar kesamaan kedudukan semua warga negara dalam hukum.
  5. Sistem ekonomi yang disusun sebagai usaha bersama ( kekeluargaan )
  6. Sistem pembelaan negara berdasarkan hak dan kewajiban bagi semua warga negara
  7. Sistem pemerintahan demokratis berdasarkan ( hukum dan kedaulatan rakyat )
  8. Pemerintah yang bertanggung jawab pada rakyat.
  9. Presiden adalah kepala pemerintahan.
  10. Pengawasan oleh DPR
  11. Kekuasaan kehakiman yang bebas.
  12. Otonomi daerah.

b. Prinsip-prinsip yang lahir dari perjuangan sampai mengisi kemerdekaan :

  1. rasa senasib sepenanggungan dan rasa persatuan yang kuat.
  2. mempertahankan dan mengembangkan kepribadian bangsa Indonesia yang berakar pada sejarah dan kebudayaan bangsa.
  3. mengambil segi-segi positif dari kebudayaan bangsa lain yang bermanfaat untuk pembangunan bangsa dan negara.
  4. rasa kekeluargaan dan prinsip hidup gotong royong.
  5. Beraneka ragam sosial budaya :

c. Beraneka ragam sosial budaya yang ada di Indonesia ( Wilayah/daerah ), mulai dari etnis dan suku daerah yang bersangkutan. Keaneka ragaman ini justru dapat sebagai perekat bangsa menjadi kekuatan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam NKRI.

d. Manfaat sosial budaya sebagai kekuatan bangsa :

  1. Adanya nilai kebersamaan dalam rangka mencapai tujuan.
  2. Adanya nilai aturan, ketentuan yang telah membudaya dalam kehidupan kelompok-kelompok masayarakat.
  3. Hubungan masyarakat yang saling menghormati
  4. Adanya nilai kesetiaan dan kecintaan terhadap NKRI
  5. Dll

Sebagai warga dan aparatur pemerintah dalam melaksanakan tugas yang diemban beberapa hal yang tetap harus dipelihara, yaitu :   

1) keutuhan dan kedaulatan wilayah negara dari sabang  sampai merauke.

2) Pancasila dan UUD 1945 sebagai acuan dasar dalam  hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

3) Konsep wawasan nusantara dan ketahanan nasional     sebagai acuan operasional.

4) Kekayaan budaya bangsa Indonseia termasuk hasil-hasil  pembangunan nasional sebagai perwujudan cipta, rasa, dan karsa bangsa Indonesia.

Sementara hal yang harus dicegah adalah :

1) hilangkan  pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan antar suku, bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, golongan, masyarakat dari rasa superior.

2) Kesenjangan pembangunan antar wilayah harus dicegah 

3) Kesenjangan sosial dan ekonomis antar golongan penduduk harus dicegah.

4) Upaya-upaya untuk mengekang proses demokratisasi dan desentralisasi dengan alasan stabilitas dan kesatuan bangsa yang  berlebih-lebihan harus dicegah.

Gagasan yang perlu dikembangkan :

1) menggali, menghimpun, mengidentifikasikan, mendeskripsikan berbagai aspek budaya, menyusun peta bahasa secara nasional.

2) Mengadakan kontak lintas budaya dan media apresiasi antar budaya dengan prinsip sasling mengakui, saling menghargai, saling melengkapi untuk memperkaya khasanah budaya nasional.

3) Pengarahan pendidikan anak sejak dini untuk memahami dan menghargai budaya lokal dan juga memahami dan menghargai budaya dari kelompok suku bangsa lain.

4) Terus mengembangkan pendidikan, diantaranya mengenai nilai-nilai luhur budaya bangsa.

5) Meningkatkan daya adaptasi masyarakat terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

E. Kesimpulan

     Nasionalisme dalam perspektif wawasan kebangsaan harus senantiasa dibina dan dipelihara sehingga tetap terpelihara persatuan dan kesatuan, kebersamaan, saling menghargai serta merasa tidak ada perasaan ingin menang sendiri, ingin menonjolkan diri dan lain sebagainya.

    Untuk nasionalisme kebangsaan dimaksud haruslah ditempuh melalui rekayasa sosial dan jangan dibiarkan menentukan arahnya sendiri. Proses ini haruslah ditumbuh kembangkan dari nilai-nilai moralitas  Pancasila yang diaktualisasikan dengan perkembangan zaman. Proses kearah ini dilaksanakan melalui pembangunan nasional yang berciri konsepsi wawasan nusantara sebagai satu kesatuan politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan untuk memperkuat ketahanan nasional bangsa Indonesia.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Lembaga Pengkajian Strategi dan Pembangunan & PT Gramedia Widia Sarana Indonesia, Jakarta, 1994., Pendidikan

                            Wawasan Kebangsaan., Tantangan dan Dinamika Perjuangan Kaum Cendikiawan Indonesia

 

Suhady, Idup, dan Sinaga, AM.,Jakarta, 2006., Wawasan Kebangsaan Dalam Kerangka   Negara Kesatuan Republik                               Indonesia., Bahan Ajar Diklat Prajab Gol. III,  LAN- RI

 

Soeprapto-Safroedin, Bahar-Ismail Arianto., 1995., Cinta Negara Kesatuan  Republik Indonesia, BP & Pusat

 

LAN RI, Jakarta, 2014., Nasionalisme Modul Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri Sipil. LAN-RI