logo-responsive

PENDIDIKAN AKHLAK MULIA

PENDIDIKAN AKHLAK MULIA

Oleh :

H. Abdul Hamid.S,Ag M.M.Pd.

Widyaiswara Ahli Madya

Abstrak

Manusia adalah makhluk yang memiliki kapasitas untuk melakukan penalaran berfikir, merasa dan berbuat atau bertingkahlaku. Kapasitas itu dimungkinkan karena manusia dibekali Allah dengan potensi akal, hati dan tubuh-jasmani. Namun untuk mampu mengembangkan kapasitas tersebut secara baik, fungsional, dan sempurna, manusia memerlukan pendidikan. Namun bagaimana dengan akhlak? Islam merupakan agama yang berakhlak. Ini dapat dilihat bahwa akhlak merupakan salah satu perhatian terpenting dalam agama. Untuk menjadi berakhlak harus melalui tahap pembentukan akhlak.

. Muhammad Athiyah al-Abrasyi misalnya mengatakan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa dan tujuan pendidikan Islam. Analisa penulis tentang akhlak mulia ditingkat sekolah/ madrasah sekarang ini menjadi perhatian serius bagi para pelaku pendidikan dan juga stakeholder. Guru juga telah berjuang untuk memeperbaiki akhlak mereka dengan meningkatkan sholat berjamaah dan sebagainya.

Kata kunci  : Pendidikan akhlak mulia

I. PENDAHULUAN

 

Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting.

Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk di sekoiah harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Pembinaan akhlak mulia sangat penting dilaksanakan dalam sebuah lembaga pendidikan disekolah/ madrasah, karena hal ini sangat utama untuk dalam rangka membina anak didik agar berkepribadian yang santun, mulai serta bertanggung jawab.

Madrasah merupakan sebuah lembaga pendidikan Islam yang selalu mengedepankan akhlak mulia dan berjiwa kreatif serta mampu bertanggung jawab untuk masa depan yang akan datang. Menurut Muhammad Yusuf ( 2014 ) bahwa pendidikan akhlak mulia sudah ada sejak madrasah ini muncul pada zaman kolonial belanda, dan hal itu banyak mengalami rintangan yang sangat sulit, sehingga para tuan guru dalam memberikan ilmu agama denga cara sembunyi- sembunyi. Mari kita kedepankan pendidikan akhlak mulia untuk anak didik kita di sekolah dan di madrasah.

II. PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendidikan Akhlak Mulia

Pendidikan Akhlak mulia merupakan gabungan dari dua kata, yaitu akhlak dan mulia. Menurut Muhammad Imran ( 2007 ) bahwa pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek), dan tubuh anak. Sedangkan pada Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Sedangkan istilah akhlak secara harfiah berasal dari bahasa arab yakni Khalaqa  ,yang antara lain berarti: watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau akhlak. Akhlak mulia adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang. Muhammad Nuh ( 2008 )  mendefinsikan Akhlak mulia sebagai cara berpikir dan berperilaku yang baik dan menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara. Maka pendidikan Akhlak mulia merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Pendidikan akhlak mulia  melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action).

Drs. Najib Sulhan, MA ( 2005 ) menyampaikan tiga pilar pendidikan berbasis akhlak mulia sebagai pijakan. Ketiga pilar itu memadukan potensi dasar anak yang selanjutnya bisa dikembangkan. Pilar pertama, membangun watak, kepribadian atau moral. Pilar kedua, mengembangkan kecerdasan majemuk. Pilar ketiga, kebermaknaan pembelajaran. Pilar pertama mengacu pada perilaku (akhlak) yang mulia, misalnya yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Pilar kedua mengacu pada prinsip bahwa semua anak itu cerdas. Setiap anak memiiiki keunikan dan kecerdasan yang berbeda-beda (multiple intelligence). Kecerdasan masing-masing itulah yang dikembangkan. Pilar ketiga mengacu pada proses pembelajaran yang bermakna, yaitu yang memberikan nilai manfaat untuk menyiapkan kemandirian anak. Konsep pendidikan karakter juga mensinergikan antara pendidikan di sekoiah dan di rumah. Peran orangtua di rumah adalah sama sebagaimana guru di sekoiah dalam hal mendidik anak

Ganes Gunansyah menekankan pada orang tua, guru maupun lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab untuk memberikan penanaman dan pembinaan terhadap aspek kepribadian dan akhlak mulia peserta didik ketika di tingkatan sekoiah dasar dengan menekankan aspek nilai-nilai moral.

B. Tujuan Pendidikan Akhlak Mulia

Tujuan Pendidikan Nasional merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan Pendidikan. Oleh karena itu, rumusan tujuan Pendidikan Nasional menjadi dasar dalam pengembangan pendidikan akhlak mulia ( karakter ).

Tujuan Pendidikan Akhlak mulia ( karakter ) diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Mengembangkan potensi afektif peserta didik sebagai manusia dan Warga Negara yang memiliki nilai-nilai Pancasila
  2. Mengembangkan Kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai agama.
  3. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa
  4. Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan dan
  5. Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan.

Secara singkatnya pendidikan akhlak mulai ( karakter ) bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan,dan menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan.

Pendidikan akhlak mulai  juga bertujuan meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekoiah yang mengarah pada pencapaian pembentukan  akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai dengan standar kompetensi kelulusan. Melalui pendidikan akhlak mulia  diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuaannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai  akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.

C. Landasan Pendidikan Akhlak Mulia

Dalam perspektif Al-qur,an  pendidikan bukanlah sekedar memberikan pengetahuan, lebih dari itu pendidikan melatih kemampuan berpikir secara agamis . Manusia memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibanding makhluk lain, yaitu dianugerahi akal dan kecerdasan. Sehingga dengan akal dan kecerdasan tersebut diharapkan manusia atau seseorang dapat mengetahui, memahami, dan mengembangkan potensi-potensi yang telah ada pada dirinya sejak dilahirkan. Hal inilah yang menjadi dasar atau landasan terbentuknya pendidikan akhlak mulia.

Baginda Rasulullah Saw diutus kedunia ini untuk menyempurnakan akhlak mulia dan beliau dalam berdakwah selalu menampilkan prilaku yang santun dan patut dicontoh oleh semua bangsa arab pada waktu itu.

Nilai-nilai pendidikan akhlak mulia merupakan nilai-nilai yang dikembangkan dan diidentifikasi dari sumber-sumber agama Islam , karena masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama, maka kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaan.

D. Prinsip Pendidikan Akhlak Mulia

Ary Ginanjar Agustian ( 2010 )  merekomendaikan sebelas prinsip untuk mewujudkan pendidikan akhlak mulia yang efektif, sebagai berikut:

  1. Mempromosikan nilai-nilai dasar agama sebagai basis akhlak mulia.
  2. Mengidentifikasikan akhlak mulia secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan dan perilaku.
  3. Mengguanakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun akhlak mulia.
  4. Memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan perilaku yang baik.
  5. Mengusahakan tumbuhnva motivasi diri para siswa.
  6. Adanya pembagian kepimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan akhlak mulia.
  7. Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun akhlak mulia.

Sang Pencetus Pendidikan Holistik Berbasis Karakter, Ratna Megawangi, menjelaskan ada Sembilan pilar karakter dasar dalam pendidikan berbasis karakter yang harus di ditanamkan dan dikembangkan dalam diri siswa, yaitu:

  1. Cinta Tuhan Dan Kebenaran;
  2. Tanggung Jawab, Kedisiplinan, Dan Kemandirian;
  3. Amanah;
  4. Hormat Dan Santun;
  5. Kasih Sayang, Kepedulian, Dan Kerjasama.

III. Penutup

Simpulan

Pendidikan akhlak mulia  merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Pendidikan akhlak mulia  bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Jamal. 2010.  Anak Cerdas Anak Berakhlak, Cetakan pertama, Semarang: Pustaka Adnan.

Elmubarok, 2000.  Membumikan Pendidikan Karakter.  Bandung: Alfabeta.

Koesoema A, Doni, 2007. Pendidikan Karakter. Jakarta: Grasindo.

Ary Ginanjar, 2010. Akhlak Mulia dalam Beragama. Jakarta.

Shulhan, Najib,2005.  Nilai Spritual dalam Beragama.  cetakan: pertama, Surabaya: Jaring Pena.