logo-responsive

PERANAN KEPALA MADRASAH DALAM MEMBANGUN BUDAYA ORGANISASI MADRASAH Oleh Surya Subur

 

           Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan peran kepala madrasah dalam membangun budaya organisasi madrasah sebagai sebuah lembaga pendidikan yang memiliki ciri atau karakter yang berbeda dengan lembaga pendidikan lain. Karakter ini dibangun melalui proses pembiasaan yang mengarah kepada  pembudayaan perilaku.

           Untuk mencapai tujuan yang mengarah pada perilaku warga madrasah yang berciri khas madrasah tersebut, diperlukan kepala madrasah yang efektif dan visioner yang mampu merumuskan visi, misi, dan tujuan madrasah sehingga seluruh warga madrasah berpegang pada komitmen bersama tersebut.

        Untuk mencapai tujuan  pembudayaan tersebut diperlukan kepala madrasah yang efektif dan visioner yang mampu berperan  : menanamkan nilai-nilai praktis agama, memberikan pemahaman terhadap visi, misi dan tujuan madrasah, membangun disiplin kerja yang tinggi, menanamkan budaya malu untuk tidak berprestasi, menanamkan nilai-nilai berbangsa dan bernegara bagi seluruh warga madrasah.

 

Kata kunci : Budaya organisasi

 

  1. PENDAHULUAN

Madrasah  sebagai organisasi atau lembaga yang diberi wewenang menyelenggarakan pendidikan formal, yaitu proses belajar mengajar. Sebagai sebuah lembaga pendidikan formal memiliki syarat tertentu, seperti ada sejumlah orang, memiliki tujuan, prosedur, dan ada aturan yang dipatuhi oleh warganya.

Maju mundurnya sebuah madrasah sangat tergantung pada masyarakat madrasah itu sendiri, yakni kepala madrasah, guru, tenaga kependidikan, siswa dan orangtua siswa.

Kepala madrasah sedikit banyaknya bertanggungjawab terhadap tata nilai kehidupan di madrasah. Mau kemana arah karakter (sikap) yang dibangun dalam sebuah madrasah tergantung pada visi, misi, dan tujuan madrasah yang dirumuskan oleh kepala madrasah bersama warga madrasah lainnya (guru, peserta didik, orangtua/wali, dan komite madrasah) serta keinginan kuat dari para pendidik (guru). Karena itu, guru mempunyai peran strategis dalam membangun sebuah budaya madrasah. Peran strategis dimaksud dimotori oleh kepala madrasah bersama dewan guru dan tenaga kependidikan lainnya yakni merencanakan arah penciptaan budaya madrasah yang diawali dengan penyusunan ’rentra’ madrasah yang di dalamnya memuat visi, misi, dan tujuan madrasah, mengimplementasikan rentra tersebut secara intens  bersama seluruh warga madrasah, dan menindaklanjuti dengan tindakan-tindakan konkrit bagi guru, peserta didik, dan tenaga kependidikan lainnya, dan lebih penting adalah guru menjadi figur sentral dalam pelaksanaannya.

Namun, tugas dan tanggungjawab ke arah pembudayaan madrasah belum dilaksanakan secara efektif dikarenakan wawasan dan kemampuan guru itu sendiri, sehingga terkesan bahwa madrasah tidak lain sama saja dengan lembaga pendidikan yang lain yang hanya berorientasi pada prestasi kognisi dengan ukuran lulus dengan nilai yang baik, tanpa melihat watak dan karakter peserta didik itu sendiri.

Untuk membangun budaya madrasah peran masyarakat sangat diperlukan. Bentuk peran masyarakat pada madrasah adalah adanya komite madrasah, melalui program-program yang dibuat bersama, madrasah dan komite. Peran itu dapat berupa  : (1) membantu kelancaran pendidikan di madrasah; (2) memelihara, meningkatkan dan mengembangkan madrasah; (3) memantau, mengawasi dan mengevaluasi penyelenggaraan pendidikan.  (Sonhadji, 2000 : 49 )

Visi dan misi lembaga madrasah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sebuah tatanan pendidikan. Ia merupakan landasan berpijak kemana arah lembaga pendidikan itu mau dibawa. Visi pendidikan  sebagai landasan berpijak untuk mencapai arah tersebut. Visi yang merupakan acuan atau arah yang akan dicapai hendaknya dijabarkan dalam bentuk upaya konkrit yang tertuang dalam bentuk misi, tujuan dan sasaran.  Misi hendaknya dijabarkan  sesuai dengan budaya daerah  masing-masing. Dalam mewujudkan ini maka kepala madrasah, guru, tanaga pendidik, peserta didik dan komite madrasah menjadi sangat penting.

 

  1. Identifikasi Masalah

Permasalahan yang muncul dalam membangun budaya organisasi madrasah teridentifikasi  lemahnya budaya organisasi warga madrasah yang berakar dari lemahnya penerapan  akar budaya pada madrasah, antara lain lemahnya implementasi nilai-nilai agama, kurangnya pemahaman terhadap visi, misi dan tujuan madrasah, disiplin kerja  yang kurang, hilangnya rasa malu, rendahnya komitmen dalam balajar mengajar, lemahnya pemahaman kehidupan berbangsa dan bernegara, dan sebagainya. Hal ini yang membuat madrasah belum mampu memunculkan karakter atau sikap membudayakan Islam atau ciri madrasah itu sendiri dalam kehidupan bermasyarakat.

 

  1. Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang dan identifikasi masalah   di atas penulis mengambil rumusan masalah, yaitu bagaimanakah peran kepala madrasah dalam membangun budaya organisasi   madrasah ?

 

  1. Tujuan Penulisan

Mengacu pada rumusan masalah di atas, maka penulisan ini berutujuan mengungkapkan peran kepala madrasah dalam membangun budaya organisasi madrasah, , yakni bagaimanakah upaya yang dilakukan oleh kepala madrasah  untuk menanamkan nilai-nilai praktis agama, mengaktualisasikan visi, misi, dan tujuan organisasi madrasah, membangun disiplin kerja yang tinggi, menanamkan rasa malu untuk tidak berprestasi, memaksimalkan proses belajar mengajar, menanamkan kesadaran berbangsa dan bernegara  sehingga budaya madrasah bisa tertanam pada warga madrasah sesuai dengan falsafah bangsa.

 

 

  1. PEMBAHASAN
  2. Budaya Organisasi

Budaya organisasi adalah norma-norma yang memberitahu orang-orang tentang apa yang diterima dan apa yang tidak, nilai-nilai yang dominan yang dihargai oleh organisasi, asumsi dasar dan kepercayaan yang dibentuk oleh para anggota organisasi berupa aturan main organisasi, sebagai pilosofi yang dianut suatu organisasi dalam berinteraksi dengan orang-ornag yang ada di dalam atau diluar organisasi (Owen, 1987 : 17)

Kebudayaan dapat dirumuskan sebagai ”Suatu kesatuan dan keseluruhan yang komplek, yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan serta kebiasan lainnya yang dipunyai manusia sebagai anggota masyarakat. ”(Adam, 1999 : 37)

Dalam dunia organisasi kita mengenal apa yang disebut dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang mengatur perilaku organisasi dan perilaku personilnya dalam beraktivitas menjalankan roda organisasi, sehingga organisasi dapat berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

  1. Ritti dan G. Funkhouser (Anonim : 289) mendefinisikan bahwa budaya organisasi adalah suatu persepsi bersama yang dianut oleh anggota-anggota organisasi itu; suatu sistem dari makna bersama. Sistem makna bersama ini bila kita cermati merupakan suatu karakteristik utama yang sangat dihargai oleh organisasi itu.

Secara hakikat budaya organisasi ini mengandung tujuh karakteristik tentang budaya organisasi, yaitu : (1) inovasi dan pengembalian resiko, sejauh mana para karyawan didorong untuk berinovasi dan mengambil resiko ; (2) perhatian pada kerincian, sejauh mana para karyawan diharapkan memperlihatkan presisi (kecermatan), analisis dan perhatian pada kerincian; (3) orientasi pada hasil, sejauh mana manajemen, fokus pada hasil bukan pada teknik dan proses yang digunakan untuk mencapai hasil itu ; (4) orientasi pada orang, sejauh mana keputusan manajemen memperhitungkan efek hasil pada orang-orang di dalam organisasi itu ; (5) orientasi pada tim, sejauh mana kegiatan kerja diorganisasikan sekitar tim-tim, bukan individu-individu ; (6) keagresifan, sejuh mana orang-orang itu agresif dan kompetitif dan bukannya santai-santai ; (7) kemantapan, sejauh mana kegiatan organisasi menekankan dipertahankannya status quo sebagai kontrasnya pertumbuhan. (Ritti dan  Funkhouser ; 289).

Madrasah sebagai lembaga pendidikan mendapat masukan siswa dan guru dari berbagai karakter bawaan yang dibawanya dari lingkungannya dengan latar belakang keluarga, kelompok, masyarakat tempat tinggalnya semasa kecil, agama, pendidikan, dan organisasi yang berbeda-beda. Kemudian masuk ke satu lingkungan organisasi, yaitu madrasah. Di mana orang-orang dari latar belakang yang berbeda itu diharapkan memiliki persepsi atau komitmen sama tentang perilaku organisasi atau budaya organisasi dengan cara mengubah atau menciptakan lingkungan tempat bergaulnya.

Lingkungan buatan itu diberikan pada guru dengan memberikan reward dan punishment, kontrak kerja, dan etika kerja. Sedangkan untuk siswa pemberian poin plus atau pengurangan poin pelanggaran bagi mereka yang tidak berprilaku baik (sebagai pelaksana upacara bendera, membawa nama baik madrasah, menjaga kebersihan dan mendapat rangking di kelas), pemberian materi etika.

George G Stern (Owen, 1887 : 5) mengembangkan pendekatan untuk menjelaskan ukuran dan iklim keorganisasian. Yang mendasari pemahaman Stern tentang iklim organisasi adalah berasal dari pendapat Lewinian, bahwa untuk dapat mengidentifikasi karakter dari individu dan kelompok dalam organisasi harus dilihat dalam kontek interaksi dengan lingkungan. Formula yang dikemukakannya sebagai berikut :

                        B = (P x E ) dimana   :     B = Behavior (perilaku)

                                                                 P = Personality / individu

                                                                 E = Enveroment / lingkungan

Menurut formula Lewinian ini perilaku seseorang merupakan hasil bentukan pribadi bawaan seseorang sejak lahir dan hasil pergaulanya dengan lingkungan tempat tinggalnya atau masyarakat tempat tinggalnya dengan latar belakang sosial ekonomi, agama, budaya yang berbeda-beda yang kita sebut pengalaman.

Sedangkan pengertian budaya menurut kamus bahasa Indoesia Pengembangan (peningkatan mutu) budaya adalah pikiran, akal budi, hasil, adat istiadat yang mudah berkembang (berharap, maju).

Dalam Islam sering merupakan terjemahan dari kata-kata akhlak. Di kalangan ulama terdapat berbagai pengertian tentang apa yang dimaksud dengan akhlak. Murtada Muthahari misalnya mengatakan bahwa akhlak mengacu pada perbuatan yang manusiawi, yaitu perbuatan yang lebih bernilai daripada sekedar perbuatan alami, seperti makan, minum, tidur, dan sebagainya. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang memiliki nilai, seperti berterima kasih, khidmat kepada orang tua dan sebagainya (Abudin, 2003 : 196).

Pendapat lain mengatakan bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang langsung diperintahkan oleh agama. Dan ada juga yang mengatakan bahwa perbuatan akhlak itu perbuatan yang bermuara dari perasaan mencintai sesama. (Abudin, 2003 : 1967).

Budaya terkait juga dengan  moral dalam kehidupan sehari-hari. Karena moral ialah kekuasaan yang sesuai ukuran-ukuran (nilai-nilai) masyarakat, yang timbul dari hati dan bukan paksaan dari luar yang disertai pula oleh rasa tanggung jawab atas kelakuan (tindakan) tersebut. Tindakan itu harus mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan atau keinginan pribadi (Zakiah, 2003 : 63, Abuddin Nata, 2003 : 196).

Francis Hutcheson mengembangkan pandangan A.S. Cooper dengan memisahkan moral sense dan aesthethic. Moral sense berfungsi khusus, yakni membedakan yang benar dari yang salah ( Francis Hutcheson, an Inquiri into the Original of our Ideas of beauty and Virtue, London, 1725, filsafat Moral : 135)

Moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukan

bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk (Poespoprodjo, 1999 : 118).

       Moralitas dapat bersifat intrinsik atau ekstrinsik. Moralitas memandang sesuatu perbuatan menurut hakekatnya bebas lepas dari setiap hukum positif. Yang dipandang adalah apakah perbuatan itu baik atau buruk pada hakekatnya, bukan karena perintah seseorang atau melarangnya. Sedangkan moralitas ekstrinsik adalah moralitas memandang perbuatan seseorang karena diperintah oleh seseorang atau karena dilarang oleh seseorang yang berkuasa atau oleh hukum positif, baik oleh manusia atau oleh tuhan. (Poespoprodjo, 1999 : 119).

Lebih jauh untuk menciptakan sebuah budaya madrasah maka harus dibangun suatu sistem moral yang mencakup aspek kehidupan yang secara nasional telah tercantum dalam visi,  misi, dan tujuan pendidikan nasional

Penanaman sebuah budaya di atas tidak mudah, tidak dapat dilakukan secara serampangan, harus terprogram yang dimulai dari stimulan dari luar, dimulai dari motivasi yang paling dasar, yaitu motivasi ekonomi, dilanjutkan bagaimana orang memiliki jiwa sosial, dan dilanjutkan dengan motivasi orang bekerja atas dasar tuntutan agama.

Munculnya motivasi kiranya perlu dirangsang, seperti yang dikemukakan oleh Sardiman (2001, 72) sebagai berikut : Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Motivasi memang muncul dari dalam diri manusia, tetapi kemunculannya karena dirangsang / terdorong oleh adanya unsur lain, dalam hal ini adalah tujuan. Tujuan ini menyangkut masalah kebutuhan.

 

Melihat fenomena ini  madrasah, guru (kepala madrasah dan guru) melakukan terobosan agar keterlambatan masuk kelas, kekosongan jam dapat diperkecil bahkan kapan perlu dihapuskan, karena sangat merugikan peserta didik dan juga menyangkut kelangsungan sekolah dimasa yang akan datang. Bila keadaan ini dibiarkan maka visi dan misi sekolah akan dipertaruhkan. Madrasah yang akan menjadi dambaan masyarakat yang dicita-citakan tidak akan terwujud. Untuk mengurangi banyaknya kekosongan jam belajar, sekolah  memberikan motivasi dalam bentuk penghargaan atas prestasi kerja guru dan sangsi bagi mereka yang tidak sesuai dengan ketetapan madrasah (reward and punishment).

Seperti yang dikemukakan oleh Adam Indrawijaya (1999 : 75) bahwa harapan akan imbalan dan hukuman merupakan pendorong bagi tindakan seseorang.

Zakiah (1978) mengemukakan bahwa moral bukanlah suatu pelajaran yang dapat dicapai dengan mempelajari saja, tanpa membiasakan hidup bermoral dari sejak kecil. Moral itu tumbuh dari tindakan kepada pengertian dan tidak sebaliknya ( Abuddin, 2003 : 192 ).

Pendidikan moral tidak saja dapat diperankan di rumah tangga, madrasah pun dapat mengambil peran yang penting dalam pembinaan moral anak didik. Hendaknya dapat diusahakan agar madrasah menjadi lapangan yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan mental dan moral anak didik. Di samping sebagai tempat pemberian ilmu pengetahuan, pengembangn bakat dan kecerdasan. Dengan kata lain supaya sekolah dapat berperan aktif sebagai lapangan sosial bagi anak-anak, dimana pertumbuhan mental moral dan sosial serta segala aspek kepribadian dapat berjalan dengan baik ( Abuddin, 2003 : 193 )

Bertitik tolak dari uraian di atas, dan mengupayakan penjabaran Undang-undang Dasar 1945 dan Undang-Undang  sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003, bahwa lembaga pendidikan dituntut diantaranya menghasilkan anak-anak yang cerdas dan memiliki akhlak yang mulia agar bisa berhasil dan berprestasi dilingkungan tempat tinggalnya maupun dilingkungan kerja nantinya, maka semua lembaga pendidikan haruslah mencoba mengembangkan dan menterjemahkan tujuan pendidikan nasional tersebut ke dalam rumusan sistematik dan terencana dalam kurun waktu tertentu untuk menciptakan budaya yang selaras dengan kebidayaan nasional Indonesia.

  1. Organisasi Madrasah

Organisasi ialah setiap bentuk kerjasama antara manusia yang diikat oleh suatu ketentuan yang dimaksud untuk mencapai tujuan yang sama (Indrawijaya, 1999:3)

Menurut Sondang P. Siagian, organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja sama serta secara formal terikat dalam rangka mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan dimana terdapat seseorang, beberapa orang yang disebut atasan dan seorang atau kelompok orang yang disebut bawahan (Indrawijaya, 1999:3).

Menurut Prajudi Atmosudirdjo (1976:5), Organisasi adalah struktur tata pembagian kerja dan struktur hubungan kerja antar kelompok orang pemegang posisi yang bekerja sama secara tertentu untuk bersama-sama mencapai tujuan tertentu.

Dalam kata lain organisasi dapat pula didefinisikan sebagai himpunan interaksi manusia yang bekeja sama untuk mencapai tujuan bersama yang terikat oleh suatu ketentuan yang telah disetujui bersama. Sedangkan menurut pengertian administrasi dan manajemen, organisasi diartikan bahwa setiap organisasi selalu ada seseorang yang bertanggung jawab dalam mengkoordinasikan sejumlah orang yang bekerjasama dalam beraktivitas dengan menggunakan berbagai fasilitas.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas bahwa organisasi itu ada sekelompok orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan yang sama, dan biasanya dikoordinir oleh seorang untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan. Madrasah sebagai organisasi mempunyai keterkaitan dengan proses pembelajaran yang diarahkan untuk mempunyai karakter sikap tertentu sesuai dengan proses pembudayaan yang akan dibentuk.

James Rosenweig (Atmodiwirio, 2000:12) menjelaskan, melihat organisasi dari sistem kerjasama, sistem hubungan atau sistem sosial. Bila dilihat dari kegiatannya (proses) organisasi bersifat aktif, terjadi sebagai hubungan antar orang dengan orang, antar orang dengan kelompok, antara kelompok dengan kelompok, yang menghasilkan beberapa kepentingan baik yang bersifat pribadi maupun pencapaian tujuan organisasi.

Sebagai sistem terbuka suatu organisasi akan tergantung pada lingkungan luar organisasi, agar organisasi itu tetap hidup, dan karenanya organisasi itu harus terbuka terhadap pengaruh dan transaksi dengan dunia luar sepanjang organisasi itu hidup. Sistem terbuka memiliki komponen-komponen : (1) batas (boundary);  (2) tujuan;  (3) masukan;  (4) transpormasi; (5) keluaran (output);  (6) balikan (feedback);  (7) lingkungan.

  1. Membangun Budaya Organisasi Madrasah
  2. Madrasah Sebagai Organisasi

Menurut undang-undang No 2 tahun 1989, madrasah adalah satuan pendidikan yang berjenjang dan berkesinambungan untuk memyelenggarakan kegiatan belajar mengajar.

Madrasah merupakan bagian kecil dari suatu masyarakat, bangsa dan negara. Keberadaan madrasah sangat tergantung pada keberadaan masyarakat sekitar. Artinya keberhasilan suatu madrasah akan dipengaruhi oleh kondisi dan situasi masyarakat sekitarnya. Karena madrasah bagian dari sistem yang lebih besar, yaitu masyarakat, maka keterlibatan masyarakat, partisipasi masyarakat sangat penting (Atmodiwirio, 2000:35).

Madrasah sebagai organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan, tentu tidak dapat menutup diri dari pengaruh luar, yaitu masyarakat. Masyarakat merupakan lembaga pendidikan ketiga setelah keluarga, dan sekolah. Madrasah atau sekolah dan keluarga sangat terbatas memberikan pengaruh kepada individu, maka masyarakatlah yang banyak memberikan pengaruh kepada seseorang sepanjang hidupnya. Segala pengetahuan yang diperolehnya di madrasah dan keluarga akan dapat dikembangkan dan dirasakan manfatnya oleh masyarakat (Ihsan, 1997:59).

Bentuk pengaruh masyarakat pada madrasah menurut Atmodiwirio (2000:48) dapat kita lihat menurut komponen-komponen madrasah yang terdiri dari masukan, keluaran langsung, keluaran tidak langsung, dan balikan.

1) Masukan (input)

Masukan adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh sistem sekolah untuk menghasilkan keluaran yang diharapkan. Masukan mencakup masukan baku, masukan instrumental, dan masukan lingkungan.

  1. a) Masukan Baku

Yang termasuk masukan baku adalah siswa, termasuk karakteristiknya. Misalnya : jenis kelamin, kemampuan dasar, kondisi sosial, dan ekonomi orang tua siswa.

  1. b) Masukan Instrumental

Yang dikategorikan masukan ini adalah guru, sarana dan prasarana, kurikulum, dana dan pengelolaan.

  1. c) Masukan lingkungan

      Yang dapat dikategorikan masukan lingkungan ialah :

      (1) Kondisi sosial ekonomi orang tua dan masyarakat sekitar.

      (2) Kondisi sosial budaya masyarakat setempat.

      (3) Kondisi lingkungan hidup

     2) Proses

                  Kegiatan yang dilakukan oleh dalam madrasah, termasuk segala proses yang terjadi di madrasah dalam rangka mengubah masukan untuk menghasilkan keluaran. Proses itu mencakup kegiatan :

  1. a) Kegiatan belajar mengajar
  2. b) Kegiatan pengelolaan sekolah
  3. c) Kegiatan administrasi sekolah

 3) Keluaran Langsung (output)                                             

Segala sesuatu yang secara langsung dihasilkan oleh sistem pendidikan, mencakup antara lain jumlah siswa yang tamat sekolah, dan hasil belajar siswa dalam ranah penalaran, perasaan dan keterampilan.

4)  Keluaran Tidak Langsung (outcame)

Segala hasil yang diperoleh oleh para lulusan di masyarakat sebagai hasil pendidikan yang mencakup daya serap lulusan yang tertampung oleh dunia kerja.

  1. Peran Kepala Madrasah

Kepala madrasah bersama guru, dan warga madrasah lainnya hendaknya mampu merumuskan visi, misi dan tujuan madrasah yang selaras dengan perundangan di atas. Untuk itu diperlukan seorang pemimpin lembaga madrasah yang visioner, yaitu mampu membuat, merencanakan, melaksanakan, mengkomunikasikan, mengembangkan kepada anggota masyarakat madrasah, melaksanakan kontrol dan evaluasi terhadap visi, misi dan tujuan tersebut.

Untuk dapat melakukan peran di atas kepala madrasah harus berkualitas. Pada umumnya madrasah yang berkualitas, dipimpin leh seorang kepala madrasah yang efektif. Menurut Soebagio Atmodiwiryo (2000: 145), berdasarkan hasil perhitungan statistik sekitar 70 % madrasah yang efektif dipimpin oleh seorang kepala madrasah yang efektif. ”Maka benarlah apa yang diduga banyak orang, bahwa keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuannya lebih banyak ditentukan oleh pimpinannya”.

Seorang kepala madrasah yang efektif memenuhi kompetensi berikut :

1) Komitmen terhadap misi madrasah

2) Orientasi kepemimpinan pro-aktif

3) Ketegasan

4) Sensitif terhadap hubungan yang bersifat interpersonal dan

     Organisasi

5) Mengumpulkan informasi, menganalisis pembentukan konsep

6) Fleksibilitas intelektual

7) Persuasif dan memanajemeni interaksi

8) Kemampuan beradaptasi secara teknis

9) Motivasi dan perhatian terhadap pengembangan

10) Kontrol dan evaluasi

11) Kemampuan berorganisasi dan pendelegasian

12) Komunikasi (penyampaian gagasan secara pribadi)

Kemampuan di atas harus dimiliki oleh seorang kepala madrasah agar ia mampu membuat sebuah tata kerja, aturan madrasah, sikap dan komitmen berkelanjutan, agar tertanam sebuah budaya organisasi.

            Dalam konteks tulisan ini, yakni bagaimana menciptakan sebuah budaya organsasi maka peran kepala madrasah, adalah ;

  • Menanamkan nilai-nilai praktis beragama

Penanamkan terhadap nilai-nilai agama, bisa dilaksanakan jika kepala madrasah mempunyai kemampuan mengkomunikasikan kebijakan, tata aturan moral yang dibuatnya, pembiasaan, dan lain-lain, sangat diharapkan mulai dari jenjang terendah (MI) hingga tingkat madrasah yang tinggi (MA) secara berkelanjutan. Pembudayaan nilai-nilai praktis ini hendaknya bersinambungan, sehingga peserta didik lepas dari madrasah ia mempunyai karakter budaya yang baik sesuai tujuan pendidikan nasional.

Nilai praktis yang dimaksud adalah pembiasaan mengucapkan salam jika masuk dan ke luar kantor/kelas, mengucapkan salam jika bertemu teman atau guru di jalan. Membiasakan hidup bersih dengan membuang sampah pada tempatnya, mencuci tangan sebelum belajar, berkata jujur di mana saja berada, makan dan minum tidak sambil berjalan, melaksanakan sholat berjamaah di madrasah. Tentu ini semua diperlukan keinginan oleh semua warga madrasah dan pengawasan yang berkelanjutan. Pembiasaan ini tentu saja diharapkan sampai ke ranah  rumah tangga peserta didik, dengan menyampaikannya kepada wali atau orang tua peserta didik.

  • Memberikan pemahaman terhadap visi, misi, dan tujuan madrasah

Untuk menciptakan sebuah budaya madrasah, diperlukan kemampuan kepala madrasah dalam hal merumuskan visi, misi dan tujuan madrasah, dan mengkomunikan, serta memberikan pemahaman secara intens kepada warga madrasah.

Visi, misi, dan tujuan ini melekat di dalam setiap jiwa warga madrasah. Ia tidak hanya dihapal melainkan diejawantahkan di dalam kehidupan sehari-hari di dalam madrasah, sehingga tujuan madrasah untuk membentuk sikap atau karakter budaya madrasah bisa tercapai.

  • Membudayakan disiplin kerja yang tinggi

Membudayakan agar seluruh warga madrasah hidup dan terbiasa dalam koridor disiplin yang tinggi, kepala madrasah adalah figur yang dominan untuk guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik. Karena itu tata aturan yang dibuat oleh kepala madrasah, ia merupakan contoh konkrit terhadap pelaksanaan aturan itu. Selanjutnya dibuat sistem pengaturan yang jelas bagi guru dan tenaga administrasi dan bagi peserta didik. Bagi guru, penghargaan dan sangsi (Reward dan Punishment), perjanjian kerja, contoh sikap peraturan sekolah. Bagi peserta didik, melaksanakan upacara secara disiplin, poin plus, sikap warga sekolah dalam menjalankan peraturan.     

Untuk memudahkan dalam perhitungan dibuatlah format guru dan format pengamatan guru oleh siswa. Format ini berfungsi : (1) pengawasan kehadiran guru; (2) ketepatan guru masuk kelas dan keluar kelas; (3) memonitor batas materi pelajaran yang harus diajarkan oleh guru; (4) kegiatan yang guru lakukan pada saat di dalam kelas; (5) penampilan guru di dalam kelas ; (6) karakter guru di dalam kelas ; (7) pengawasan tidak langsung yang dilakukan oleh kepala sekolah.

Bagi guru disiplin datang dan pulang, masuk kelas dan ke luar kelas, membuka pelajaran, dan menutup pelajaran, dan lain-lain hendaknya dilaksanakan dan secara implisit diawasi langsung oleh kepala madrasah. Bagi peserta didik diberikan point plus dalam tata aturan yang dipegangnya, sehingga jelas jika ia melakukan pelanggaran ada sanksi dan sebaliknya jika ia melaksanakan sesuatu yang terpuji seperti berprestasi di madrasah ia akan mendapat reward dari pihak madrasah. Dalam tata aturan yang disepakati tersirat budaya malu bagi seluruh masyarakat madrasah. Seperti malu datang terlambat baik guru maupun guru, bahkan kepala madrasah. Malu berkata yang tidak sopan atau tidak baik, malu tidak berprestasi, dan sebagainya. Hal ini perlu dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari di madrasah.

  • Menanamkan budaya malu

        Budaya malu mulai terkikis dari kehidupan warga madrasah seperti malu tidak masuk mengajar, malu datang terlambat, malu terlambat masuk kelas, malu tidak belajar, malu tidak berprestasi, malu tidak berpakaian rapi, malu bolos sekolah, malu berkelahi, malu berbicara tidak sopan dan santun. Ini harus ditanamkan kembali kepada seluruh warga madrasah, kepala madrasah mempunyai tanggungjawab moral untuk mengembalikan budaya malu ini ke dalam diri setiap warga madrasah.

  • Memaksimalkan proses belajar mengajar

Salah satu longgarnya penanaman budaya organisasi di madrasah adalah tidak maksimalnya pelaksanaan proses belajar mengajar. Belajar belajar mengajar merupakan sarana mentranfer segala visi, misi, dan tujuan madrasah. Ada 13 fungsi guru yang harus dihayati agar pelaknaan PBM sesuai dengan harapan madrasah (Ahmadi, 2010:47-48). Peran kepala madrasah dalam hal ini adalah proaktif melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap jalannya proses belajar mengajar ini. Mulai dari menyiapkan kelengkapan bahan ajar, menagih RPP, silabus, bahan ajar, alat tes, alat kontrol kepribadian peserta didik, alat bantu mengajar yang digunakan, metode pengajaran, dan sebagainya.

  • Menanamkan kesadaran berbangsa dan bernegara

Dalam hal menanamkan kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara, kepala madrasah hendaknya mempunyai sistem pembinaan yang bersinambungan, salah satu caranya efektif adalah melaksanakan upacara bendera secara rutin dan dilaksanakan secara serius, hikmat dan mendalam. Sehingga peserta didik benar-benar merasa bahwa untuk membangun bangsa ini memerlukan pengorbanan yang besar.

Pendidikan kewarganegaraan dan aplikasinya dirancang sedemikian rupa agar pengenalan terhadap sistem berbangsa dan bernegara betul-betul diresapi oleh peserta didik tidak sekedar diketahui. Jadi ada semacam kegiatan aplikatif yang mengarah pada kecintaan terhadap bangsa dan negara

  1. Peran Guru

Guru sebagai pendidik merupakan contoh nyata bagi siswa dalam keseharian yang selalu dilihatnya setiap hari. Kedisiplinan guru hadir tepat waktu dalam mengajar, cara guru berbicara, cara guru berpakaian juga menjadi sorotan siswa atau penilaian siswa. Sehingga sangatlah wajar bila guru dianggap sebagai peletak dasar sebuah perubahan budaya.

Dalam diskusi pengembangan model pendidikan profesional tenaga kependidikan yang di selenggarakan oleh PPS IKIP bandung tahun 1990, ditetapkan 10 ciri suatu profesi, Yauitu : (1) memiliki fungsi dan signifikasi social; (2) memiliki keahlian / keterampilan tertentu; (3) keterampilan/ keahlian diperoleh melalui teori dan metode ilmiah; (4) didasarkan atas disiplin ilmu yang jelas; (5) diperoleh melalui pendidikan dalam jangka waktu yang cukup lama; (6) aplikasi dan sosialisasi nilai profesi; (7) memiliki kode etik; (8) kebebasan untuk memberikan jusdgment dalam memecahkan masalah dalam lingkungan kerja; (9) memiliki tanggung jawab profesional dan otonomi; (10) adanya pengakuan dari masyarakat dan imbalan atas layanan profesinya. (Abudin, 2003 : 141 )

Sebagai pekerja profesional yang memiliki kode etik / akhlak, dalam melaksanakan pekerjaanya bertanggung jawab pada : (1) tingkah laku yang diperbuatnya telah mendarah daging dan menyatu menjadi kepribadian yang membedakan antara individu yang satu dengan individu yang lain; (2) tingkah laku tersebut sudah dilakukan dengan mudah dan tanpa memikirkan lagi, hal ini akibat dari pekerjaannya itu telah mendarah daging; (3) perbuatan yang dilakukan akibat dari tekanan orang lain; (4) perbuatan yang dilakukan itu berada dalam keadaan yang sesungguhnya, bukan berpura-pura atau bersandiwara; (5) perbuatan itu dilakukan dengan niat karena Allah, sehingga perbuatan ini bernilai ibadah (Abudin, 2003 : 137)

Dalam persyaratan menjadi guru  disebutkan (1) berijazah sarjana (S – 1) sesuai dengan bidang studi yang menjadi tanggung jawabnya; (2) sehat jasmani dan rohani; (3) beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa ; (4) berbudi pekerti luhur; (5) memiliki kemampuan dasar dan sikap antara lain : menguasai kurikulum, menguasai materi pelajaran, menguasai metode, menguasai teknik evaluasi, dan memiliki komitmen terhadap tugasnya, serta berdisiplin dalam pengertian yang luas. ( Sonhadji, 2005 : 44 ).

Untuk mewujudkan kemampuan dasar di atas, yakni komitmen yang tinggi terhadap tugas dan disiplin warga yang tinggi perlu kiranya dibangun suatu sistem yang membiasakan guru madrasah berbudaya malu, seperti malu tidak masuk mengajar, malu datang terlambat, malu terlambat masuk kelas, malu tidak belajar, malu tidak berprestasi, malu tidak berpakaian rapi, malu bolos sekolah, malu berkelahi, malu berbicara tidak sopan.

Melihat itu semua maka guru sebagai penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan, sekaligus penyambung budaya organisasi haruslah bersifat (1) amanah, (2) profesional, (3) antusias dan bermotivasi tinggi, ( 4) bertanggungjawab dan mandiri, (5) kreatif, (6) disiplin, (7) peduli dan menghargai orang lain, (8) belajar sepanjang hayat. (Depdiknas, 2005).

Impelemtasinya dalam kehidupan sehari-hari peran guru adalah contoh dan teladan di mana peserta didik. Mulai turun dari rumah guru sudah diamati oleh masyarakat dan peserta didik, cara berpakaian, tutur kata, sikap hendaknya sesuai dengan visi, misi madrasah. Guru harus mampu mengaplikasikan visi, misi itu dalam kehidupan sehari-harinya.

  1. Peserta didik

Peserta didik merupakan row input, ibarat kertas putih kita tinggal melukis apa pada dirinya, karena itu kepala madrasah dan guru serta tenaga kependidikan harus mempunyai satu formula pembentukan sikap peserta didik lewat visi, misi itu sendiri.

Ada aturan yang jelas yang dipedomani oleh peserta didik untuk membawa ke arah pembiasaan sikap aturan ini dikomunikasikan secara intens kepada peserta didik, semisal : pembiasaan pengucapan salam jika masuk dan ke luar ruang kelas atau kantor, pengucapan salam jika ketemu guru atau sesama teman. Pembiasaan membuang sampah pada tempatnya,cuci tangan sebelum belajar, menghapal ayat-ayat pendek dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, pembiasaan berkata lembut, santun dan hormat kepada guru dan orang tua. Hal ini harus terumus dan terawasi pelaksanaannya dalam upaya pembiasaan yang mengarah kepada budaya hidup peserta didik.

Inilah sebagian besar yang diperlukan untuk membangun budaya organisasi pada madrasah. Tentu saja sebuah organisasi akan berjalan dengan baik jika didukung oleh seluruh anggota masyarakat organisasi itu sendiri

 

  1. PENUTUP
  2. Kesimpulan

Dari uraian dan analisis pembahasan dalam tulisan ini, penulis menarik beberapa kesimpulan berikut :

  1. Kepala madrasah berperan besar dalam proses membangun budaya madrasah. Di tangan kepala madrasah terletak maju mundurnya sebuah madrasah. Pun proses penanaman karakter sebagai ciri khas lembaga madrasah juga ditentukan oleh kemampuan kepala madrasah dalam hal menyusun rentra, visi, misi, dan tujuan serta implementasinya bersama seluruh warga madrasah (guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orangtua, dan komite madrasah).
  2. Keberhasilan kepala madrasah dalam membangun budaya organisasi, tidak terlepas dari peran serta seluruh warga madrasah, dan komitmen bersama yang secara intens diaplikasikan kepada guru, peserta didik, serta dikomunikasikan kepada orangtua peserta didik.
  3. Untuk dapat melakukan itu semua dibutuhkan seorang kepala madrasah yang efektif, visioner, dan mempunyai komitmen yang jelas terhadap jalannya organisasi. Namun itu semua tidaklah cukup, ia harus didukung oleh guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik dan masyarakat itu sendiri untuk sama-sama melaksanakan tata aturan yang akan menjadi pembiasaan dan berujung pada budaya hidup seluruh warga madrasah.

 

  1. Rekomendasi
  2. Untuk mencapai sebuah budaya madrasah yang merupakan ciri dari lembaga madrasah itu sendiri, diperlukan seorang kepala madrasah yang visioner, berkomiten yang kuat dan jelas, dan berwawasan ke depan dan ini dapat dipenuhi melalui diklat bagi kepala madrasah.
  3. Diklat kepala madrasah yang dimaksud bertujuan untuk memberikan kesamaan persepsi dalam memenej madrasah dengan visi, misi, serta tujuan yang tidak terlalu berbeda antara satu sama lain, sehingga nantinya diharapkan dihasilkannya output/outcame yang berbudaya islami dan mampu berbuat lebih banyak bagi bangsa dan negara terutama dari akhlak dan moral yang ditanamkan selama duduk di madrasah.

 

 

  1. DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmadi, H.Syukran, 2010., Pendidikan Madrasah Dimensi Profesional da   

              Kekinian,Yogyakarta, Laksbang Pressindo

 

Atmodiwiryo, Subagio, 2000., Manajemen Pendidikan, Jakarta, Ardadizya Jaya

 

Darajat, Zakiah., 1978., Ilmu Pendidikan Islam., Jakarta : Bumi Aksara.

 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993/1994;  Petunjuk Peningkatan

             Mutu   Pendidikan di Sekolah Dasar., Jakarta : Direktorat Jenderal  

             Pendidikan Dasar dan            Menengah, Direktorat Pendidikan Dasar.

 

Departemen Agama RI, 2006; Bina Mitra Pemberdayaan Madrasah Standar

            Operasional Prosedur., Profil Madrasah Masa Depan, Bandung : 

            Aditama.

 

Departemen Agama RI., 2006; Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah

           Tentang Pendidikan.,  Jakarta : Direktorat Pendidikan Islam.

 

Departemen Agama RI., 2006;  Perencanaan dan Pengembangan Madrasah.,

            Jakarta :           Majelis Pertimbangan dan Pemberdayaan Pendidikan

            Agama dan Keagamaan          MP3A.

 

Indrajaya, Adam, 1999., Perilaku Organisasi, Jakarta, Rineka Cipta

 

Ihsan, Fuad, 2003., Dasar-Dasar Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta

 

Nata, Abuddin H., 2001;  Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-

             Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta : Grasindo.

 

Poespoprodjo, W, 1999., Filsafat Moral, Bandung, Pustaka Grafika

 

Robert G. Owen, 1987., Organization Behavior In Education, Boston, Houngton

             Mifflin Company

 

Sardiman, 2006., Interaksi dan Motivasi Belajar, Jakarta, PT. Raja Grafindo

 

Sonhaji, A.K. Hasan., 2000; Penerapan Total Quality Management dan ISO 9000

            dalam Pendidikan dan Teknik, dalam jurnal Ilmu pendidikan.,(Kumpulan

            Perkuliahan), Malang : Paul Chapman Publishing Co.